<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gadis Seksi Cewek Telanjang Bugil &#187; perkosa perawan</title>
	<atom:link href="http://toketgadis.com/telanjang/tag/perkosa-perawan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://toketgadis.com</link>
	<description>Foto Gadis Seksi Cewek Bugil Melayu</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Nov 2009 19:49:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Lesbiola Indonesia Ciuman nich&#8230;</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/cewek-bugil/lesbiola-indonesia-ciuman-nich/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/cewek-bugil/lesbiola-indonesia-ciuman-nich/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 21:37:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cewek Bugil]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks panas]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>
		<category><![CDATA[cewek cantik]]></category>
		<category><![CDATA[cewek seksi]]></category>
		<category><![CDATA[Model Cantik]]></category>
		<category><![CDATA[model telanjang indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=579</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img src="http://www.picita.com/images/ip45zo2yehvvguvs0p7.jpg" border="0" alt="Lesbi-cewek-ciuman-telanjang" width="435" height="327" /><span id="more-579"></span></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/viewer.php?file=iaw1gmtfyec0rsdukyt.jpg"><img src="http://www.picita.com/images/iaw1gmtfyec0rsdukyt_thumb.jpg" border="0" alt="Lesbi-cewek-ciuman-telanjang" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/viewer.php?file=foa4msc2dcawz8ypha61.jpg"><img src="http://www.picita.com/images/foa4msc2dcawz8ypha61_thumb.jpg" border="0" alt="Lesbi-cewek-ciuman-telanjang" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/viewer.php?file=mksgz8jhcsb1qmkbjz72.jpg"><img src="http://www.picita.com/images/mksgz8jhcsb1qmkbjz72_thumb.jpg" border="0" alt="Lesbi-cewek-ciuman-telanjang" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/viewer.php?file=484vwwoqynmr04w13sw2.jpg"><img src="http://www.picita.com/images/484vwwoqynmr04w13sw2_thumb.jpg" border="0" alt="Lesbi-cewek-ciuman-telanjang" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/viewer.php?file=n3a4k7970cy7mmwi52at.jpg"><img src="http://www.picita.com/images/n3a4k7970cy7mmwi52at_thumb.jpg" border="0" alt="Lesbi-cewek-ciuman-telanjang" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/cewek-bugil/lesbiola-indonesia-ciuman-nich/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahyuni, Customerku, Pelayan Seksku 3</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/umum/wahyuni-customerku-pelayan-seksku/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/umum/wahyuni-customerku-pelayan-seksku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 23:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[Setelah aku tahu dia telah terangsang hebat, kutindih dia dan kulumat lagi bibirnya. Kupegang kedua tangannya dan aku berusaha menusukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya. Yuni meronta sambil merapatkan kedua pahanya sehingga batang kemaluanku tidak berhasil menembusnya. &#8220;Kita main seperti dahulu saja Mas&#8221;, bisiknya. Dengan terpaksa kulepaskan kedua tangannya dan aku mengambil gaya seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah aku tahu dia telah terangsang hebat, kutindih dia dan kulumat lagi bibirnya. <strong>Kupegang kedua tangannya dan aku berusaha menusukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya.</strong> Yuni meronta sambil merapatkan kedua pahanya sehingga batang kemaluanku tidak berhasil menembusnya. &#8220;Kita main seperti dahulu saja Mas&#8221;, bisiknya. Dengan terpaksa kulepaskan kedua tangannya dan aku mengambil gaya seperti dahulu yaitu gaya 69, tetapi kali ini aku meminta dia berada di atasku.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saat dia berada di atasku, kulihat daerah liang kewanitaannya merekah dengan bibir berwarna merah hati dan lubang kemaluannya berwarna merah muda.</strong> Tanpa pikir panjang kusapukan lidahku ke arah klitorisnya sambil kuhisap dengan pelan. Aku merasakan dia mulai mengulum batang kemaluanku dengan lembut, saat batang kemaluanku masuk ke dalam mulutnya, terasa sangat hangat dan nikmat sekali. Aku terus menghisap klitorisnya dan kemudian sapuan lidahku kugeser ke liang kewanitaannya, kuhisap cairan bening yang keluar dari liang kewanitaannya. Kusapukan lidahku dari liang senggamanya menuju ke duburnya, terus kusapukan lidahku maju mundur.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-565"></span>Selanjutnya kumasukkan ujung lidahku pada lubang kemaluannya sambil kupermainkan ujung lidahku. Yuni menggeliat dan dia menggoyangkan pinggulnya maju mundur dengan sedikit tekanan ke bawah. Dia mempercepat kulumannya pada batang kemaluanku, sepertinya Yuni akan mencapai orgasme. Aku semakin mempercepat gerakan ujung lidahku untuk menari di dalam liang kewanitaannya. Beberapa saat kemudian kedua kakinya menegang dan dia menghisap batang kemaluanku dengan cukup keras, kemudian aku merasakan cairan gurih telah menetes menuju lidahku, aku terus melanjutkan gerakan lidahku sampai kedua pahanya berhenti menegang. Yuni melepaskan hisapan batang kemaluanku dan dia terkulai di paha kiriku, sementara lidahku terus menyapu bagian dalam liang kewanitaannya hingga cairan yang keluar dari liang kewanitaannya habis.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat kemudian aku bangun dan duduk bersandar pada papan tempat tidur. Saat itu kulihat Yuni kelelahan dengan posisi tidur tengkurap dan titik-titik air yang tadinya ada pada tubuh Yuni kini berganti dengan titik-titik keringat sehingga terlihat pada pantatnya yang putih dan kencang. Kemudian Yuni duduk di sampingku sambil tersenyum dan tangan kirinya mengusap batang kemaluanku yang telah berdiri tegak. Selanjutnya dia mencium bibirku dan dilanjutkan dengan mencium leherku sambil tangan kirinya terus mempermainkan batang kemaluanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai mencium leherku, kemudian mulutnya mulai mendekati batang kemaluanku dan dia memulai sapuan lidahnya pada prostat-ku, kemudian secara sangat perlahan dia naikkan menuju ujung batang kemaluanku, agak geli tetapi sungguh sangat nikmat sekali. Gerakan itu dia lakukan berulang-ulang hingga sekitar lima menit.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya dia mulai dengan mengulum ujung batang kemaluanku dan melepaskannya untuk menyapukan lidahnya di sekitar kulit batang kemaluanku. Gerakan itu juga dia lakukan berulang-ulang hingga beberapa menit kemudian kutekan kepalanya agar batang kemaluanku dapat masuk lebih dalam lagi ke dalam mulutnya, kemudian kuangkat dan kubenamkan lagi sampai pada akhirnya ujung batang kemaluanku mengeluarkan cairan kental berwarna putih. Tanpa kusuruh, dia masih terus mengulum batang kemaluanku dan menggerakkan mulutnya ke atas dan ke bawah, hingga kulihat spermaku menetes menuju prostat-ku, mungkin dengan gerakan seperti itu Yuni tidak dapat menghisap spermaku. Setelah sperma yang keluar telah banyak, dia melepaskan kulumannya dan dia sapukan lidahnya untuk membersihkan spermaku yang tercecer di sekitar prostat-ku dan ada juga yang mengalir ke anus. Yuni terus mencari-cari ceceran spermaku dengan lidahnya dan kemudian dia telan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai dia membersihkan spermaku yang tercecer, dia melanjutkan dengan mengulum batang kemaluanku yang masih setengah tegang. Aku biarkan dia terus mengulum batang kemaluanku meskipun batang kemaluanku telah lunglai. Kulihat kepalanya disandarkan pada perutku sambil mulutnya terus mengulum batang kemaluankku, aku tetap mendiamkannya sampai akhirnya aku tahu dia telah tertidur dengan mulutnya masih mengulum batang kemaluanku. Karena aku capek duduk, perlahan kulepaskan batang kemaluanku dari mulutnya, dia menggeliat tetapi matanya masih tertutup, sepertinya dia sangat capek sekali. Aku pindah tidurnya ke tengah tempat tidur, kurubah posisi tidurnya dari tengkurap menjadi telentang. Karena aku juga sangat capek, akhirnya aku juga tertidur di sisinya sambil memeluknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa jam kemudian aku merasakan kerongkonganku sangat kering, aku terbangun dan langsung menuju ke dispenser yang berada di sudut ruangan. Setelah aku meminum beberapa teguk air dingin, aku kembali menuju tempat tidur. Saat aku akan kembali ke tempat tidur, aku melihat tubuh Yuni yang telanjang tidur dengan telentang. Dengan rambut yang sedikit acak-acakan, wajahnya yang sangat manis masih terlelap tidur. Aku terus memandangi tubuhnya yang indah, payudaranya yang tidak terlalu besar tetapi terlihat sangat kencang dengan puting susu yang berwarna coklat muda sangat enak dipandang. Perut dan pinggulnya yang terlihat sangat serasi dibalut kulit putih mulus sangat indah. Kaki kanannya lurus sedangkan kaki kirinya ditekuk sehingga liang kewanitaannya yang ditutupi bulu-bulu halus terlihat dengan jelas. Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan, begitu sempurna tubuhnya. Aku tak bosan-bosan memandang tubuhnya, hampir 15 menit aku terpana memandang tubuhnya. Tanpa terasa adik kecilku mulai bergerak, dia mulai bangun dan ingin dibelai.</p>
<p style="text-align: justify;">Kudekati Yuni yang masih terlelap, kusapukan lidahku pada bibirnya yang mungil dengan sangat perlahan. Yuni membuka matanya yang masih memerah, &#8220;Ah.. kenapa Mas, aku capek sekali, besok pagi aja Mas&#8221;, kata Yuni pelan. &#8220;Maaf Yun kalo aku ganggu kamu, kamu tidur lagi aja, aku bisa sendiri kok tapi boleh kan aku sentuh kamu?&#8221; kataku. Kulihat Yuni mengangguk sambil tersenyum kecil, dia membuka lebar kedua pahanya hingga liang kewanitaannya tampak lebih jelas terlihat. Begitu melihat liang kewanitaannya yang merekah, aku langsung menyapukan ujung lidahku pada klitorisnya dan kulanjutkan pada liang kewanitaannya. Yuni sama sekali tidak bereaksi, tampaknya dia sangat capek hingga tertidur lagi. Aku terus mempermainkan liang kewanitaannya dengan lidahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh menit kemudian aku bangun dan kucium bibirnya, Yuni menarik nafas panjang. Kupegang kedua tangannya dengan kedua tanganku dengan posisi tangan di atas kepala, selanjutnya aku langsung menindih tubuh Yuni dan karena kedua pahanya masih terbuka lebar, aku merhasil menyelipkan pinggulku di antara kedua pahanya. Saat itu kulihat Yuni terkejut dan membuka kedua matanya. &#8220;Mas.. Mas mau apa..?&#8221; katanya sedikit keras namun tertahan. Aku tidak memperdulikannya, aku berusaha mencium bibirnya tetapi dia meronta, sehingga ciumanku kutujukan ke lehernya yang putih. Dia semakin meronta, dan tanganku semakin erat memegang kedua tangannya. Yuni terus meronta dengan mengerak-gerakkan pingulnya ke kanan dan ke kiri, tetapi percuma, aku jauh lebih kuat darinya. Tapi dia terus meronta sampai akhirnya dia pasrah, begitu gerakannya melemah aku berusaha memasukkan batang kemaluanku pada liang kewanitaannya, cukup sulit aku memasukkan batang kemaluanku pada liang kewanitaannya, sampai sekitar 5 menit kemudian aku berhasil menemukan lubang kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kumasukkan batang kemaluanku secara perlahan, saat aku memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya dia meronta lagi dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri, tetapi ujung batang kemaluanku telah masuk cukup dalam ke dalam liang kewanitaannya hingga aku merasakan batang kemaluanku telah menembus sesuatu yang sangat kecil. Aku terus memasukkan batang kemaluanku lebih dalam lagi sampai semua batang kemaluanku tenggelam. Saat itu aku melihat Yuni memejamkan mata dan dia menggigit bibirnya yang bawah dengan giginya yang tampak putih berjajar rapi. Aku terus menggerakkan batang kemaluanku maju mundur keluar masuk liang kewanitaannya, sedangkan mulutku menghisap payudaranya bergantian. Aku merasakan seluruh batang kemaluanku seperti ditekan-tekan tetapi rasanya sangat hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar 10 menit aku memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya, sampai akhirnya kukeluarkan sperma yang sejak dari tadi kutahan. Kulihat spermaku keluar dari liang kewanitaannya tetapi warnanya telah bercampur dengan bercak-bercak darah, tidak terlalu banyak memang darah yang keluar, lain dengan Novi (pacarku red) yang saat itu sangat banyak darahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu aku lunglai di atas tubuh Yuni yang telah diam tidak bergerak dengan kepalaku berada di sisi kepalanya. Beberapa menit kemudian aku merasakan setitik air membasahi telingaku, aku terbangun dan kulihat setitik air keluar dari sisi kedua matanya yang masih terpejam. Saat itu baru aku sadar jika Yuni telah menangis, ya Tuhan.. Yuni menangis dengan menggigit bibirnya. Saat itu aku langsung merengkuh dan merangkul tubuhnya dengan erat, beberapa kali aku ucapkan kata maaf. &#8220;Kenapa.. kenapa kamu melakukan ini..?&#8221; Yuni berkata sambil menangis. Aku terus merangkul tubuhnya yang masih telanjang dengan erat sambil aku terus memohon maaf, tapi Yuni tidak memperdulikannya dia terus menagis dan berusaha melepaskan pelukanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah aku melepaskan pelukanku, dia langsung tidur dengan tengkurap tetapi masih sesekali kudengar isakan tangisnya. Kudekati dia dan kubelai rambutnya, &#8220;Maaf Yun, aku lepas kontrol, sungguh aku tidak menduga kamu begitu terpukul dengan apa yang sudah aku lakukan. Kamu boleh memaki aku, kamu boleh memukul aku, tapi aku mohon kamu jangan menagis, aku sayang kamu, aku akan bertanggung jawab jika kamu menginginkannya, apa saja yang kamu inginkan aku akan penuhi, tapi tolong kamu mau maafin aku&#8221; Tak terasa air mataku juga telah mengalir saat aku mengucapkan kalimat itu. Aku merasa sangat menyesal telah melakukan hal itu kepada Yuni.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat setelah aku mengucapkan kalimat itu, kepala Yuni menoleh ke arahku. &#8220;Baik Mas, aku akan meminta satu permintaan untuk kamu, tapi tolong untuk saat ini kamu jangan ganggu aku, aku ingin tidur, aku akan katakan permintaanku besok jika kita udah pulang&#8221;, dia berkata dengan suara serak dan sedikit berat. Aku hanya mengangguk dan aku tidak mendengar lagi isakan tangisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu aku sama sekali tidak dapat tidur, kupandangi tubuh Yuni yang tengkurap dan terlihat sedang tidur. Aku tidak berani menyentuhnya, saat kuperhatikan pada pantatnya terlihat bercak darah bercampur dengan spermaku. Aku beranikan diri untuk membersihkannya dengan sapu tanganku yang telah terlebih dahulu kubasahi dengan air hangat yang kuambil dari dispenser. Dengan sangat perlahan aku membersihkan pantat dan pahanya dari spermaku, kulihat Yuni masih tertidur. Tetapi tiba-tiba dia menggerakkan tubuhnya dan dia berganti posisi untuk telentang, untung dia masih tertidur. Selanjutnya aku kembali membersihkan spermaku yang membasahi rambut dan liang kewanitaannya juga dengan sangat hati-hati agar Yuni tidak terbangun, tetapi tanpa kusadari Yuni telah membuka matanya dan dia memandangiku dan memperhatikan apa yang sedang kuperbuat. Aku langsung menghentikan tanganku yang masih membersihkan rambut di liang kewanitaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu nggak perlu melakukan itu Mas, udahlah aku juga salah kok, aku maafin kamu&#8221; Yuni berkata sambil menatap wajahku yang sejak tadi menunduk. Saat aku mendengar kalimat itu rasanya telah hilang semua perasaanku yang sejak tadi kutahan.<br />
&#8220;Terima kasih Yun, terima kasih kamu udah mau maafin aku&#8221;, kataku terpatah-patah.<br />
&#8220;Sudahlah, sekarang Mas tidur saja, besok Mas harus setir mobil, pinggangku sakit sekali&#8221;, Yuni berkata sambil menarik lenganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa jam kemudian aku terbangun, kulihat Yuni masih tertidur. Dengan hati-hati aku bangun dan kukecup keningnya dan aku berjalan menuju kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi kuambil pakaianku yang kulepas di sisi tempat tidur. Saat aku akan mengambil pakaianku, kulihat Yuni terbangun dan dengan susah payah dia bangkit. Aku langsung menghampirinya dan kubantu dia untuk berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu mau mandi Yun, ayo aku antar&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Iya.. tapi aduh.. pinggangku sakit sekali Mas..&#8221; katanya.<br />
&#8220;Kalau begitu aku mandiin ya.. aku janji nggak akan ngapa-ngapain kamu lagi&#8221;, kataku.<br />
Dia mengangguk, kemudian kubopong dia menuju kamar mandi dan kududukkan di atas kloset duduk lalu kubersihkan seluruh tubuhnya. Karena saat itu aku belum berpakaian, maka aku juga ikut mandi lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kami pulang, dalam perjalanan aku bertanya tentang permintaannya yang dikatakannya tadi malam. Seperti disambar petir rasanya saat dia berkata &#8220;Aku punya satu permintaan yang sebenarnya untukku juga sangat berat, tetapi itu harus kamu lakukan karena itu janjimu kemarin. Aku minta Mas tidak lagi menghubungi aku lagi, aku nggak bisa ngasih alasan dan tolong jangan tanya mengapa, itulah permintaanku&#8221;. Aku hanya bengong tidak dapat berkata apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuantarkan dia sampai ujung gang, karena itu permintaannya dan setelah Vitara putih itu masuk ke dalam gang, aku kembali menuju jalan besar dan pulang naik taksi. Empat hari kemudian kuberanikan diri untuk menghubunginya, siapa tahu dia berubah pikiran. Saat aku hubungi melalui HP-nya, tidak pernah aktif dan kucoba menghubungi rumahnya ternyata yang menerima kakaknya dan mengatakan kalau Yuni pulang ke Surabaya dan katanya tidak mau diganggu oleh siapapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh hari kemudian aku mendapat email dan mengatakan kalau saat itu ia berada di Melbourne dan akan kuliah di sana. Selain itu dia juga menceritakan panjang lebar tentang alasannya tidak mau bertemu aku lagi. Akhirnya kusadari dan kumaklumi alasannya. Dalam hati aku sering berpikir, seandainya aku tidak memperkosanya, aku pasti masih sering bercumbu dengannya. Sampai jumpa Yuni.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/umum/wahyuni-customerku-pelayan-seksku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahyuni, Customerku, Pelayan Seksku 2</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/umum/wahyuni-customerku-pelayan-seksku-2/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/umum/wahyuni-customerku-pelayan-seksku-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 20:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[Aku melihat Yuni yang kelelahan, aku bangkit dan duduk di samping tubuhnya yang telah lemas dan karena aku belum mencapai orgasme, kuambil posisi di atasnya dan dengan tangan kananku, kubimbing batang kemaluanku agar dapat masuk ke dalam liang kewanitaannya. Saat kugesek-gesekkan batang kemaluanku pada liang kewanitaannya, tangan kanannya menahan agar batang kemaluanku berhenti. &#8220;Tolong Mas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Aku melihat Yuni yang kelelahan, aku bangkit dan duduk di samping tubuhnya yang telah lemas dan karena aku belum mencapai orgasme, kuambil posisi di atasnya dan dengan tangan kananku, kubimbing batang kemaluanku agar dapat masuk ke dalam liang kewanitaannya.</strong> Saat kugesek-gesekkan batang kemaluanku pada liang kewanitaannya, tangan kanannya menahan agar batang kemaluanku berhenti. &#8220;Tolong Mas jangan dimasukin, aku takut, aku belum pernah melakukannya&#8221;, ucapnya dengan lirih. Mendengar itu aku jadi iba juga, kutarik batang kemaluanku dari permukaan liang kewanitaannya, dan aku kembali duduk di sampingnya dengan tanganku mengocok batang kemaluanku yang masih tegang. &#8220;Aku kulum saja ya Mas, boleh nggak?&#8221;, tanyanya sambil tangan kanannya meraih batang kemaluanku. Aku hanya mengangguk, selanjutnya dia bangkit dari tidurnya dan duduk berhadapan denganku, dia tersenyum dan mencium bibirku sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-564"></span>Kemudian dia menunduk dan mulai mendekati batang kemaluanku, dia sapukan lidahnya dari kepala batang kemaluan sampai pada pangkalnya berulang ulang. Aku hanya merintih menahan nikmat, aku heran juga kenapa dia nggak capek ya.. Yuni terus memainkan lidahnya sambil sesekali mengulum kepala batang kemaluanku. Kuakui kulumannya sangat nikmat karena batang kemaluanku masuk cukup jauh ke dalam mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat aku menahannya, akhirnya &#8220;Akhh.. aku mau keluar&#8221;, ucapku sambil meremas payudaranya dan maniku keluar memenuhi mulutnya dan sebagian membasahi wajahnya yang manis. Setelah menelan maniku yang ada di dalam mulutnya, dia melanjutkan mengulum dan membersihkan batang kemaluanku yang basah dengan lidahnya. Sampai batang kemaluanku melemas pun dia masih terus mengulumnya sampai batang kemaluanku terasa geli. Karena kegelian, kusuruh dia melepaskan kulumannya. Kemudian kuangkat dagunya hingga wajahnya berhadapan denganku, masih terlihat sisa-sisa maniku di sisi kiri bibirnya yang mungil menetes ke dagunya. Kuusap maniku yang membasahi hidung dan pipinya dengan jariku dan akan kuusapkan pada CD-nya, tetapi dia ingin menelannya, sehingga jari-jariku dilumatnya hingga mani yang kupegang habis. Sepertinya dia sangat menyukai maniku, enak kali ya..</p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya dia kelelahan, dia berbaring telentang menatapku dengan tanpa selembar kainpun menutupi tubuhnya. Kupandangi lagi tubuhnya yang telanjang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terlihat titik-titik keringat keluar dari sekujur tubuhnya, terlihat semakin indah. Aku menarik nafas panjang dan kucium bibirnya yang mungil, masih terasa sisa-sisa maniku di bibirnya, terasa gurih tetapi lebih kental dari maninya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kulihat sudah pukul 10.30 malam, aku segera berpakaian, mematikan komputer dan pamit pulang. Dengan malas diapun bangkit dan mengenakan dasternya tanpa memakai CD dan BH.<br />
&#8220;Mas uang kekurangannya belum aku siapkan, mau tunggu sebentar?&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Ah.. besok saja udah malam nih takut ditanya macam-macam sama satpam&#8221;, kataku.<br />
Sebenarnya maksudku adalah agar aku dapat datang lagi dan main dengannya seperti yang baru saja kami lakukan. Untuk yang terakhir kalinya pada malam itu kucium bibirnya. Aku start mobilku dan meninggalkan rumahnya. Dalam perjalanan aku heran juga, bagaimana dia bisa mempertahankan keperawanannya jika dia sudah bermain sejauh itu. Dalam hati aku yakin jika suatu saat nanti dia akan mennyerahkan keperawanannya padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Semenjak kejadian malam itu aku selalu teringat dengannya. Hampir aku tidak percaya jika aku pernah bercumbu dengan seorang WNI keturunan yang berwajah sangat manis. Tetapi karena kesibukanku ikut tender, aku jadi belum sempat menghubungi Yuni. Kejadian ini berlangsung empat hari setelah malam yang indah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore itu sekitar jam 15.30 aku baru datang dari luar kota. Aku ke kantor dan menyerahkan berkas-berkas dan revisi penawaran kepada dua orang temanku, sedangkan aku langsung masuk ke ruang service dan tidur. Seperempat jam kemudian aku mendengar seorang temanku berkata, &#8220;Wah Doel, ada makhluk cakep datang.. ck.. ck.. ck.. indah bener nih cewek&#8221;. Karena aku sangat capek, aku tidak begitu menggubrisnya dan aku tetap tidur sampai salah seorang temanku membangunkanku. &#8220;Hai Doel.. bangun.. dicari makhluk indah tuh..&#8221; kata temanku sambil menendang pelan kakiku. Oh ya, aku mendirikan toko komputer bersama dua orang temanku, dan kami sama-sama memanggil dengan julukan Doel.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Siapa sih.. aku capek banget nih..&#8221; kataku sambil bangkit untuk duduk.<br />
&#8220;He.. Doel, Yuni itu WNI keturunan ya.. mana cakepnya selangit lagi, kok kamu diam aja sih&#8221;, umpat temanku.<br />
Tahu kalau yang datang Yuni, hilang semua rasa capekku, segera aku keluar untuk menemuinya.<br />
&#8220;Hai Yun pa kabar.. sorry nih beberapa hari ini aku sibuk banget&#8221;, sapaku.<br />
&#8220;Ah.. aku yang sorry nih baru ngelunasi sekarang&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Iya.. iya.. udah selesai udah aku urusin, mendingan sekarang kamu tidur lagi aja&#8221;, sahut temanku sambil ketawa.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagaimana, ada masalah dengan komputernya, kamu udah daftar belum?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Nggak ada masalah dengan komputernya, tapi aku belum daftar&#8221;, jawabnya.<br />
&#8220;Sekarang kamu mau ke mana, aku anterin daftar mau nggak&#8221;, ajakku.<br />
Dia mengangguk, kedua temanku cuma bengong melihat aku sudah sangat akrab dengannya.<br />
&#8220;Pakai mobilku aja nggak apa-apa Mas&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Sebentar, aku cuci muka dulu ya&#8221;, sahutku sambil berjalan ke belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai cuci muka aku titipkan mobilku pada salah seorang temanku.<br />
&#8220;Heh.. Doel, mau pergi ke mana kamu?&#8221; tanya temanku setelah aku menyerahkan kunci mobilku padanya.<br />
&#8220;Alah.. udah kamu jalan-jalan yang jauh sana pake mobilku, ini urusan orang dewasa, kamu nggak boleh ikut-ikut&#8221;, kataku sambil mengajak Yuni keluar.<br />
Permisi Mas..&#8221; kata Yuni sambil keluar menuju pintu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang kamu mau ke mana?&#8221; tanyaku setelah selesai daftar.<br />
&#8220;Nggak tahu, terserah Mas aja&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Kakak kamu ada di rumah nggak?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Ada, emangnya kenapa?&#8221; dia balik bertanya.<br />
&#8220;Nggak, aku cuma kangen ama kamu&#8221;, kataku sambil tersenyum.<br />
&#8220;Aku juga kangen ama Mas.. eh nama Mas siapa sih, aku malah belum tahu nama Mas&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Iya ya.. kita udah sangat akrab tapi kamu belum tahu namaku, namaku Fafa&#8221;, jawabku sambil aku memegang tangan kirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kita ke mana nih.. Mas?&#8221; tanyanya sambil melambatkan laju mobilnya.<br />
&#8220;Kalo misalnya kita nginap boleh nggak sama kakakmu?&#8221; kataku agak ragu.<br />
&#8220;Ya.. coba aku telpon dulu mungkin boleh asal Mas diam, jangan sampai suara Mas kedengeran sama kakakku, eh memangnya kita mau nginap di mana sih Mas&#8221;, tanyanya sambil menepi dan menghentikan mobilnya.<br />
&#8220;Kita sewa villa saja di Tawang Mangu&#8221;, jawabku.<br />
Yuni mengeluarkan HP dari tasnya dan meghubungi kakaknya. Setelah aku tahu kalau kakaknya mengijinkan, aku sangat senang sekali dan mulai dari jalan itu gantian aku yang pegang setir karena jalannya sempit dan berliku-liku.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu jam kemudian aku sampai di lereng Gunung Lawu tersebut.<br />
&#8220;Mas pernah sewa villa di sini ya?&#8221; tanya Yuni.<br />
&#8220;Belum tuh, mungkin kita bisa tanya di rumah makan itu sambil kita makan, aku udah lapar nih&#8221;, kataku sambil menghentikan mobil ke sebuah rumah makan. Untungnya pemilik rumah makan tersebut juga menyewakan villa yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah makan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Keinginanku untuk bercumbu dengannya mengalahkan ongkos sewa villa yang lumayan tinggi yaitu 200 ribu per malam. Sebuah rumah mungil dengan dua kamar tidur yang masing-masing terdapat sebuah kamar mandi. Saat kami masuk ke villa yang berada di tepi sebuah bukit tersebut, matahari hampir terbenam. Kami memilih satu kamar yang meghadap langsung ke tebing. &#8220;Aku mandi dulu ya..&#8221; kataku sambil melepaskan semua pakaianku dan masuk ke dalam kamar mandi. Saat aku membersihkan badanku dengan sabun, kulihat pintu kamar mandi yang memang tidak kukunci telah terbuka. Kulihat Yuni telah telanjang menyusulku masuk ke dalam kamar mandi. &#8220;Ikutan mandi ya Mas&#8221;, katanya sambil mendekatiku. Kulihat tubuhnya yang sintal dan padat terbalut kulit putih bersih dengan dua buah bukit yang menggantung sangat indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mendekatiku dan mengusap wajahku dengan jari-jarinya yang lentik, tampak air telah membasahi rambutnya. Setelah semua tubuhnya basah oleh air, dia mematikan kran shower. Selanjutnya dia meraih sabun yang masih kupegang. Aku diam ingin tahu apa yang ingin dia lakukan, dengan sabun di tangannya dia mulai menelusuri lekuk-lekuk tubuhku. Dari leher, dada, punggung, perut, batang kemaluan sampai ujung kakiku dia gosok lembut dengan sabun. Kulihat batang kemaluanku telah tegang, saat Yuni masih menggosok betisku, kutarik tangannya perlahan agar dia berdiri. Setelah wajahnya berhadapan dengan wajahku, kudekati bibirnya, kucium dengan hidungku, dan lidahku aku sapukan di kulit bibirnya yang mungil. Dia hanya terpejam, selanjutnya lidahku mulai kupermainkan di dalam mulutnya, dia membalas dengan menghisap lidahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melepaskan ciumanku, kuraih sabun yang masih di pegangnya. Sekarang gantian aku yang menggosok seluruh tubuhnya. Mulai dari leher dan ketika sampai pada payudaranya, kuputar-putarkan sabun di sekitar payudaranya sambil sesekali kuremas dengan lembut. Selanjutnya usapanku mulai mendekati sekitar liang kewanitaannya, aku sapukan sabun di sekitar paha bagian dalam dan juga ke rambut kemaluannya yang masih lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai aku meratakan sabun di seluruh tubuhnya, kini kuraih kran shower dan kuputar perlahan. Dengan guyuran air, kulumat bibirnya dan kemudian ciumanku aku turunkan di payudaranya. Kuhisap lembut kedua payudaranya secara bergantian, terlihat dia merapatkan pelukannya sambil mendesis keenakan. Perlahan ciumanku berjalan menuju ke liang kewanitaannya, kuhisap-hisap liang kewanitaannya sambil lidahku masuk menerobos lubang yang sangat sempit itu. Karena aku risih dengan air yang mengalir pada liang kewanitaannya, kuputar kran sehingga air berhenti mengguyur tubuhnya. Setelah air berhenti mengalir, kulanjutkan mempermainkan liang kewanitaannya. Kujilati pahanya bagian dalam dan di sekitar liang kewanitaannya. Kudengar Yuni merintih dan dia naikkan kaki kirinya di atas pundakku. Kini aku dapat melihat dengan jelas lubang kenikmatannya yang terlihat sangat kecil dengan bibir berwarna merah hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kudekatkan mulutku di liang kewanitaannya dan kusapukan lidahku di sekitar klitorisnya sambil sesekali kuhisap klitorisnya. Kupindah sapuan lidahku dari klitoris menuju ke liang kewanitaannya, kini pada lubang kemaluannya telah terasa agak asin. Aku terus memasukkan ujung lidahku ke dalam lubang kemaluannya sambil kupermainkan ujung lidahku ke atas dan ke bawah. Yuni mulai terangsang hebat, dia menggerak-gerakkan pinggulnya sambil menekannya ke bawah sehingga lidahku masuk lebih dalam lagi di liang kewanitaannya. Sambil kupermainkan lidahku, kuhisap cairan bening yang keluar dari liang kewanitaannya. Dia semakin cepat menggoyangkan pinggulnya sambil tangannya menekan kepalaku, hingga aku hampir tidak dapat bernafas. Aku tahu kalau dia hampir mencapai orgasme, hingga kutarik lidahku dari liang kewanitaannya. Aku ingin kami mencapai organsme untuk yang pertama secara bersama-sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kutarik lidahku dari liang kewanitaannya, kulihat Yuni terkejut dan sepertinya dia agak kecewa. &#8220;Nanti kita sama-sama saja Yun biar tambah asyik&#8221;, kataku sambil tersenyum dan Yuni hanya tersenyum kecut, sepertinya dia sangat kesal sekali. Kemudian aku berdiri dan kucium bibirnya, dia hanya diam tidak memberikan respon. Kurasa dia sedikit marah aku menggagalkan orgasmenya. Kasihan juga aku melihatnya, selanjutnya kubopong dia ke tempat tidur dan kurebahkan dia telentang, terlihat titik-titik air masih memenuhi tubuhnya yang sangat indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya kucium bibirnya dengan lembut, dan kulanjutkan dengan menyapukan lidahku di sekitar lehernya sambil kupermainkan payudaranya dengan tangan kananku, sedangkan tanganku yang kiri mengangkat tangan kanannya. Aku masih ingat ketika aku mencumbu di sekitar ketiaknya yang mulus itu, dia sangat menikmatinya. Kemudian sapuan lidahku kugeser menuju payudaranya sebelah kanan, sedangkan payudara sebelah kiri masih kupermainkan dan sesekali aku meremasnya dengan tangan kananku. Sambil kuhisap puting susunya, tanganku yang kiri membelai dan mengelus ketiaknya. Selanjutnya sapuan lidahku kugeser menuju ketiaknya yang sangat putih dan terlihat bersih. Aku jilati dan sesekali kuhisap ketiaknya, kulihat dia mendesah keras, sepertinya dia sangat menikmatinya. Tangan kananku kuturunkan menuju pahanya, kuraba pahanya dengan lembut dan belaianku kulanjutkan ke liang kewanitaannya. Kubelai-belai liang kewanitaannya dengan lembut sambil sesekali kutusukkan ujung jariku ke dalam liang kewanitaannya, terasa basah. Yuni semakin mengeliat dan menggerak-gerakkan kedua kakinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung ke bagian 03</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/umum/wahyuni-customerku-pelayan-seksku-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dia Itu Pacarku</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/umum/dia-itu-pacarku/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/umum/dia-itu-pacarku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 13:59:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=573</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Rio, umurku 24 tahun dan aku memiliki face yang manis dan menarik sehingga aku mudah untuk mendapatkan cewek yang aku sukai. Aku tinggal di kota Malang.
Cerita ini berawal ketika aku mempunyai pacar yang ternyata dia punya saudara kembar yang identik hampir segalanya, rambutnya, bodynya, suaranya, pokoknya semua sama jadi aku sulit untuk membedakan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Rio, umurku 24 tahun dan aku memiliki face yang manis dan menarik sehingga aku mudah untuk mendapatkan cewek yang aku sukai. Aku tinggal di kota Malang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cerita ini berawal ketika aku mempunyai pacar yang ternyata dia punya saudara kembar yang identik hampir segalanya, rambutnya, </strong>bodynya, suaranya, pokoknya semua sama jadi aku sulit untuk membedakan yang mana pacarku. Ceritaku ini benar-benar nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">Pacarku itu namanya Dina dan dia punya saudara kembar yang bernama Dini. Aku dan Dina berkenalan di telepon dan mengobrol cukup lama, lalu aku mengajak Dina bertemu di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-573"></span>Jadi sorenya aku langsung berangkat ke rumah Dina. Ternyata Dina itu adalah cewek yang menarik dan mempunyai wajah yang nafsuin, alis matanya begitu indah menurutku dan bodynya sudah benar-benar aduhai n seksi. Dinapun tampaknya juga menyukaiku. Lalu dia mempersilakan aku masuk dan kami berbincang-bincang dirumahnya. Dalam waktu singkat kami berdua mulai akrab karena punya banyak kecocokan. Waktu itu kami berdua duduk bersebelahan di sofa panjang. Aku sering mencuri pandang wajahnya yang cantik, dia juga begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah capek ngobrol dan bercanda kami berdua saling terdiam cuma saling berpandangan dan tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu cantik..&#8221; kataku memecah kebisuan.<br />
&#8220;Kamu juga cakep, yo..&#8221; jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar-benar ingin menciumnya, aku sudah tak tahan ingin merasakan bibirnya yang seksi itu. Mata kami tetap saling bertatapan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku suka mata kamu, bibir kamu..&#8221; pujiku sambil mataku memandang ke arah bibirnya yang mungil.</p>
<p style="text-align: justify;">Dina hanya tersenyum mendengar kataku itu. Lalu aku mulai mendekatkan wajahku perlahan dan Dina juga melakukan hal yang sama. Kami mulai berciuman, saling menikmati dan merasakan. Mulanya ciuman kami begitu hangat tapi lama-lama terasa ada nafsu dalam ciuman kami. Aku mulai menggigit bibirnya yang mungil dan lidah kami beradu, lidahku mulai menari dalam bibirnya lalu aku mulai merasa lidahku seakan tertarik masuk ke dalam mulutnya, kami berdua mulai tak bisa mengendalikan diri, desah nafasnya makin membara, matanya terpejam dan wajahnya yang cantik itu mulai merona merah, kedua tangannya menjambak rambutku seakan menahan nafsu yang ingin meledak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil berciuman kami mulai berganti posisi, Dina duduk di pangkuanku dan tanganku mulai nakal meraba dan meremas-remas buah dadanya yang montok. Kurasakan kedua pahanya menjepit erat pinggangku saat bibirku memciumi lehernya dan lidahku menjilati dan menghisap daun telinganya. Sementara itu tanganku mulai turun meremas remas pantatnya yang empuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Desahannya terdengar makin keras, satu tangannya mulai berani memegang kontolku yang mengeras diluar celanaku. Bosan menciumi lehernya, tanganku membuka bajunya dan melepas BH-nya, lalu kuhisap buah dadanya dan kusedot masuk kedalam mulutku, sementara itu lidahku kuputar-kuputar di puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Uhh&#8221; desahnya menikmati rangsanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya mulai berani membuka resleting celanaku dan mengeluarkan kontolku dari dalam celanaku, tangannya yang kecil itu mulai mengocok kontolku yang besar pelan-pelan, akupun juga memerosotkan celana dan CD-nya. Lalu tangan kiriku meremas-remas pantatnya dan tangan kananku meraba-raba vaginanya, terasa bulunya begitu halus dan jemariku terasa basah terkena lendir dari vaginanya, jari telunjukku mulai kumasukkan ke dalam vaginanya yang basah dan licin itu dan kutarik maju mundur perlahan, sementara itu mulutku terus merangsang puting susunya yang kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. Shh&#8221; desahnya tak tertahankan, nafasnya tersengal-sengal menderu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Dina mendekatkan badannya semakin merapat ketubuhku sambil tangannya menggesek-gesekkan kontolku diluar vaginanya, kontolku terasa geli saat kena bulu jembutnya yang halus itu. Aku sudah tak tahan ingin memasukkan kontolku ke vaginanya, tapi aku cuma diam saja mengikuti alur permainannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yo, aku pengen ML sama kamu nih..&#8221; ajaknya sambil tersenyum malu-malu.<br />
&#8220;Sekarang di rumah kamu ada siapa? Ntar kalau ada yang melihat gimana..?&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Tenang aja, orangtuaku sedang keluar kota, adikku sekarang lagi tidur, jadi aman kok..&#8221;, jawabnya sedikit memaksa sambil tangannya terus meremas kontolku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menuggu jawabanku, Dina mulai berdiri dengan lututnya sambil tangannya menggesek-gesekkan kontolku di bibir vaginanya. Wajahnya tampak begitu seksi saat itu. Helm kontolku mulai terasa basah terkena lendirnya. Kemudian pantatnya mulai turun pelan-pelan, terasa helm kontolku masuk didalam vaginanya. Lalu Dina mulai bergerak naik turun perlahan, rasanya kontolku sedikit sulit masuk seluruhnya meskipun vaginanya sudah sangat licin karena kontolku terlalu besar. Tapi Dina terus memaksakan, pantatnya turun terus, akhirnya kontolku mulai masuk seluruhnya kedalam, rasanya kontolku seperti dipijat-pijat dan di tarik oleh vaginanya. Kami berdua mendesah pelan menahan kenikmatan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Achh.. Ohh&#8221; suaranya semakin membangkitkan birahiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantatnya mulai bergerak lagi naik turun perlahan kemudian bergerak semakin cepat, tanganku meremas pantatnya sendiri sambil membantunya bergerak agar lebih cepat. Pentil susunya terus kulumat dan kuhisap masuk di mulutku. Dina terus bergerak naik turun, terasa kepalaku sakit karena dia terlalu kuat menjambak rambutku dan menarik kepalaku ke buah dadanya. Aku sudah tak tahan menahan orgasmeku yang hampir ke puncak, lalu terasa tubuh Dina bergetar dan pahanya terasa menjepit erat pinggangku, gerakannya sedikit tertahan tapi dia terus bergerak naik turun, matanya terpejam sambil bibirnya makin mendesah keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu terasa kontolku makin hangat dan basah di dalam vaginanya. Rupanya Dina telah orgasme, gerakannya mulai terasa amat perlahan, tapi tanganku terus mengangkat pantat Dina naik turun karena aku juga hampir orgasme, akhirnya kontolku memuncratkan spermaku ke dalam vaginanya, Dina ikut bergerak lagi membantuku mencapai puncak kenikmatan. Rasanya pahaku basah kuyup kena cairan orgasme kami berdua. Kemudian Dina berdiri lalu jongkok di depanku, tangannya mengocok kontolku, lidahnya sekali-kali menjilati sisa spermaku, benar benar suatu kenikmatan yang tak mampu terucap dengan kata-kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai dan kontolku mulai melemas, Dina duduk di sebelahku, kepalanya bersandar di bahuku sementara tanganku membelai rambutnya. Kami berdua berusaha mengatur nafas setelah kecapekan bercinta. Lalu kami memakai pakaian kami kembali. Kami berdua tak tahu kalau ada yang mengintip kami sedang bercinta tadi di sofa.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yo, jangan anggap Dina cewek nakal ya..? Pintanya manja padaku.<br />
&#8220;Enggak kok, aku gak pernah berpikiran begitu sama kamu..&#8221; jawabku menenangkan hatinya, lalu Dina tersenyum manis sambil memelukku lebih erat.<br />
&#8220;Yo.. Udah jam sepuluh nih, kamu pulang dulu ya, tapi janji besok kamu harus ke sini pagi-pagi ngantar Dina ke kampus..!&#8221; pintanya padaku, aku cuma mengangguk.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku pulang ke rumah dan langsung tidur karena capek.</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Besoknya..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Waduh.. Gimana nih, udah jam dua belas siang..!&#8221; umpatku karena bangun kesiangan, lalu aku bergegas mandi dan langsung berangkat ke rumah Dina, berharap dia belum berangkat ke kampus.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya di rumah Dina aku langsung masuk karena aku tahu orangtuanya belum pulang dari luar kota. Tak terlalu sulit menemukannya karena di rumahnya cuma ada 3 kamar. Tampak di depanku Dina sedang tiduran di ranjang. Dina cuma tersenyum melihatku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lho kamu sudah pulang kuliah ya? Sorry ya tadi pagi gak ngantar kamu.. Abis kecapekan kemarin bercinta ama kamu sih..&#8221; alasanku supaya dia gak marah.<br />
&#8220;Gak apa-apa kok Yang.. Lagian Dina juga gak ke kampus karena kecapekan kemarin..&#8221; jawabnya santai.<br />
&#8220;Sini, rebahan di samping Dina, kangen nih..&#8221; ajaknya manja.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku langsung tiduran di sampingnya sambil memeluknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yo.. Emm.. Bercinta lagi yuk?&#8221; ajaknya mengagetkanku, aku langsung saja mengiyakan kegirangan.<br />
&#8220;Tapi sekarang pemanasannya yang lama ya..?&#8221; pintanya manja.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku cuma tersenyum dan langsung mengambil posisi di atas tubuhnya. Kemudian kami langsung berciuman sangat hot dan bernafsu, tapi terasa ada yang beda dan aneh, karena tindakannya berbeda dengan yang kemarin malam. Tapi aku tak peduli, pikirku yang penting bercinta. Dina kali ini terasa kasar waktu berciuman, lidahku digigit cukup keras sementara tangannya mencakar punggungku, aku tak peduli, pikirku Dina sekarang amat bernafsu ML.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Slow aja Dina..&#8221;, ujarku, tapi dia seakan tak peduli, kemudian tangannya mendorong kepalaku ke bawah, tepat di atas gundukan vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tampak Dina sangat nafsu menggesek-gesekkan kepalaku di vaginanya yang amat basah, terasa hidung dan bibirku basah kena cairannya, lidahku langsung kumainkan menjilati klitorisnya sembari tanganku meremas-remas puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. Ahh, terus yo, masukkan lidahmu ke dalam dong..&#8221; desahnya manja, langsung saja lidahku kumasukkan dan kuputar-putar di dalam vaginanya, terasa cairannya masuk ke dalam mulutku dan kutelan.<br />
&#8220;Ohh.. Iya gitu Yang..&#8221; rintihnya tanpa malu-malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya makin mendorong kepalaku, membenamkan wajahku ke vaginanya, aku terus menjilati vaginanya makin cepat, kemudian terasa pahanya menjepit keras kepalaku, tubuhnya bergetar keras, sembari tangannya menjambak rambutku. Kemudian terasa mulutku kena semprot cairannya banyak sekali, bau khas wanita orgasme, tubuhnya makin mengejang sampai orgasmenya berakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu Dina menarik tubuhku dan menjilati cairannya sendiri di mulutku, setelah puas Dina langsung mendorong tobuhku, aku merebahkan diri di ranjang, sementara itu Dina bergerak liar melucuti pakaianku, lalu meremas dan mengocok kontolku dengan cepat, wajahnya tampak liar bernafsu saat itu. Lalu mulutnya mengulum kontolku, memasukkan batang kontolku ke dalam tenggorokannya, kemudian menghisap, menyedot kontolku dengan sangat nafsu, aku cuma terpejam menikmati rangsangan yang luar biasa nikmat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kurebahkan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang dan langsung menindihnya. Kontolku langsung kusodok-sodok dengan cepat ke dalam vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. Achh.. Achh&#8221; rintihnya menahan gempuran kontolku.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung saja kugoyang dengan cepat pantatku maju mundur. Dina semakin merintih gak karuan, semakin menambah nafsuku. Setelah puas menindihnya, kubalikkan badannya membelakangiku lalu kusodok lagi dari belakang dengan cepat, sementara tanganku meremas-remas buah dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yo.. Masukin di lubang pantat Dina dong..!&#8221; ajaknya mengagetkanku.<br />
&#8220;Gak apa-apa nih..?&#8221; jawabku.<br />
&#8220;He.. Eh, Dina suka kok..&#8221; kemudian kucopot kontolku, lalu lubang pantatnya kubasahi dengan ludahku, Dina cuma mendesah keenakan campur geli.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu kugesekkan kontolku di pantatnya dan kusodok pelan-pelan, rasanya sulit sekali masuk karena lubang pantatnya terlalu kecil, tapi terus saja kusodok sampai akhirnya masuk setengah. Kemudian kugoyang maju mundur agar lebih masuk lagi, sampai akhirnya batang kontolku terbenam seluruhnya di dalam pantatnya. Terasa sangat nikmat sekali karena lubangnya sangat sempit, kontolku berdenyut-denyut merasakan pijatannya sampai akhirnya terasa spermaku mengalir di dalam urat kontolku. Lalu langsung menyemprot di dalam lubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. Ahh..!&#8221; desahku menikmati orgasme. Sampai akhirnya aku merebahkan diri sambil memeluknya karena kecapekan.<br />
&#8220;Yo.. Gila kamu, ngapain kamu ama adikku..!!&#8221; terdengar suara yang sangat mengagetkanku, mataku langsung kubuka dan aku bingung setengah mati melihat Dina ada 2.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan perasaan bingung kutoleh bergantian wajah mereka satu persatu, ya ampun mirip sekali keduanya, cuma yang membedakan satu wajahnya terlihat marah dan satunya lagi terlihat ketakutan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lho.. Dinaku yang mana..?&#8221;, kataku kebingungan.</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku tahu kalau aku telah bercinta dengan adiknya dan Dina memaafkanku karena sebelumnya gak mengatakan padaku kalau dia itu kembar. Kami berdua tetap pacaran walaupun Dina tak tahu kalau aku juga masih sering bercinta dengan adiknya. Jadi yang membuatku bisa membedakan Dina dengan adiknya adalah hanya tattoo kecil bertuliskan namaku di punggungnya..</p>
<p style="text-align: justify;">E N D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/umum/dia-itu-pacarku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenikmatan Orgasme Tiada Terkira</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/umum/kenikmatan-orgasme-tiada-terkira/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/umum/kenikmatan-orgasme-tiada-terkira/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 08:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=567</guid>
		<description><![CDATA[Diam mungkin yang terbaik bagiku tapi apakah dengan diam aku bisa mengurangi beban penderitaan yang selama ini aku pendam di dasar lubuk sanubari. Namaku Ryo dan saat ini aku baru lulus dari sebuah universitas swasta di Jakarta. Bingung mencari pekerjaan yang kini makin langka terjadi.
Kejadian ini berdasarkan kisah nyata tanpa direka-reka ataupun di tambah tambah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Diam mungkin yang terbaik bagiku tapi apakah dengan diam aku bisa mengurangi beban penderitaan yang selama ini aku pendam di dasar lubuk sanubari. </strong>Namaku Ryo dan saat ini aku baru lulus dari sebuah universitas swasta di Jakarta. Bingung mencari pekerjaan yang kini makin langka terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini berdasarkan kisah nyata tanpa direka-reka ataupun di tambah tambah. Kejadian ini berawal dari masalah keuangan di keluargaku. Pada awalnya kami adalah keluarga yang berkecukupan sampai saat ayahku jatuh sakit. <strong>Kehidupan kamipun mulai berangsur-angsur memburuk. Satu persatu barang barang yang bisa laku di jual, </strong>kami jual tuk membiayai pengobatan ayahku serta untuk makan kami.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-567"></span>Teman-teman yang selama ini akrab bermain denganku kini meninggalkanku sendirian, baru kini aku sadar mereka hanya berteman denganku ketika aku senang dan ketika aku dalam kesusahan mereka meninggalkanku. Huh, itulah tabiat dari kebanyakan orang yang berada. Mendingan aku berteman dengan orang yang tak mampu. Mereka setia dalam suka maupun duka.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berkenalan dengan seorang gadis. Manis dan imut wajahnya. Dia selalu curhat kepadaku tentang keluarganya yang sibuk dan sibuk melulu dengan bisnis sana dan bisnis sini. Akhirnya dia broken home. Di sela-sela kebingunganku mencari uang datang tawaran yang menggiurkan darinya. Aku bisa mendapatkan uang lumayan besar asalkan tidur bersamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bingung, aku tolak, aku sangat membutuhkan uang itu, dan kalau aku terima, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Jujur saja aku belum pernah melakukan hal itu sekalipun. Huh, hal yang susah sampai saat ini. Akhirnya dengan berat hati aku terima tawaran itu meski batinku memberontak.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertemu dengannya di sebuah hotel di kawasan Jakarta selatan. Hotel yang ekslusif untuk aku yang belum pernah tidur di hotel yang sebesar ini. Tanpa basa-basi aku mengetuk pintu kamarnya. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku di tengah sejuknya udara di dalam ruangan yang ber-AC itu. Grogi, takut dan rasa penasaran bercampur aduk di dalam benakku. Aku sebentar lagi akan menjadi laki-laki bayaran. Hal yang selama ini belum pernah terbersit sekalipun didalam pikiranku selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat seraut wajah manis itu menyambutku ramah dengan senyumnya yang membuat degup jantung para lelaki semakin kencang. Kulihat dia memakai jubah mandi dan wangi sabun mandi memancar dari aroma tubuhnya. Wuihh, semakin grogi aku jadinya. Tubuhku kini mulai terasa kaku tuk digerakkan. Takut, takut untuk selanjutnya. Gimana kalau aku ngga bisa memberikan kepuasan kepadanya maklum aku belum pernah melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku duduk di bangku sofa yang ada di dalam kamar hotel itu. Memperhatikan gerak-gerik tubuhnya yang aduhai indah yang bisa membuat para lelaki bertekut lutut dihadapannya. Setelah mengobrol sekedar basa-basi akhirnya aku masuk kedalam kamar mandinya. Aku mandi untuk menghilangkan penat dan agar grogiku yang kian menjdai tidak terlihat olehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mendi perasaan itu gak berkurang, aku pakai jubah yang ada disana. Biru muda warnanya, warna kesayanganku. Kumantapkan langkahku keluar dari kamar mandi tersebut. Betapa terkejutnya aku ketika kuliat dirinya duduk didepan meja rias hanya memakai bra dan underwear saja. Putih mulus dan tak ada cacatnya disamping bodinya yang bagus. Heranku jadinya, banyak orang yang mau melakukannya tanpa imbalan uang tetapi kenapa memilihku dan mengiming-imingkan uang yang cukup banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kudekati dirinya, kukalungkan lenganku dipundaknya dan mencium lembut lehernya yang jenjang. Aroma wangi melati semerbak tercium oleh hidungku membuat detak jantungku merasa nyaman. Kumulai memciumi lehernya dengan lebih cepat, aku lakukan dengan instingku saja tanpa pengalaman. Kurasakan tangannya mulai mengelus-elus lembut tanganku yang melingkar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubalikkan tubuhnya dan kucium lembut bibir yang tipis menantang itu. Merah muda dan semakin manis dengan adanya tahi lalat kecil di sudut bibirnya sebelah kiri. Bibirku kini mulai mencium lembut pipinya dan bergerak kearah kupingnya dan menurun kearah pundaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan tubuhnya bergetar dan tanganya mengelus-elus pundakku. Kini bibirku munurun kearah dadanya. Kulihat payudaranya kini mulai mengembang dan semakin memenuhi branya. Payudara yang cukup besar dengan kulit yang putih sehingga warna bra yang hitam semakin kontras terlihat. Tanpa sadar gairahku kini mulai bangkit. Segala pikiran dan kecemasanku menghilang perlahan dan tergantikan instuisi dan gairah yang semakin menigkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuangkat tubuhnya dan kubaringkan keranjang yang empuk itu. Bed cover yang merah muda semakin menarik dengan adanya tubuhnya di situ. Perlahan-lahan kubuka branya dan kulihat puting payudaranya mencuat dengan warnya yang merah muda agak ketuaan. Perlahan-lahan kuhisap dan kugigit-gigit kecil. Kudengar desah nafasnya yang berat dan lenguhan-lenguhan kecil terdengar dari mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya mulai mengacak-acak rambutku. Dadanya mumbusung dan memberi tanda agar aku lebih agresif lagi. Ciumanku kini mulai turuh danturun kebawah sampai diperutnya. Gerakan tubuhnya mulai tak terkendali dan kakinya mulai membelit badanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuturunkan celana dalamnya dan kulihat rambut yang masih jarang-jarang terlihat di sana. Gumpalan daging berwarna merah ada celah pangkal pahanya. Ada aroma yang aneh ketika aku menciumnya. Perasaan jijik yang tadi timbul kini tidak lagi terganti rasa penasaran seperti apa rasanya bila aku menjilatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kujilati, pantatnya naik dan bergoyang-goyang. Keluhan-keluhan yang keluar dari mulutnya kini berganti rintihan-rintihan. Kutanyakan apakan dia kesakitan, gelengan kuterima sebagai jawabannya. Wajah yang kuyu dengan pandangan mata yang nanar terlihat oleh mataku. Lidahku mulai lagi kegiatannya di daerah itu. Rintihan-rintihan kini terdengar lagi. Tak lama kemudian kurasakan ada sedikit cairan keluar dari rongga vaginanya. Dia mengejang sebentar kemudian tubuhny lemas. Aku baru tahu bahwa dia telah orgasme.Kubiarkan dia dengan sejuta sensasi yang dirasakannya dan kubiarkan dia tidur dalam pelukanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kumulai berfikir kembali. Lebih baik aku tidak menerima uang yang ditawarkannya. Bila akuterima aku sama saja menjual harga diriku bila tidak, uang darimana aku bisa dapati. Ditengah-tengah lamunanku kurasakan tangannya mengelus-elus lembut dadaku. Aku hanya memakai jubah mandi dan celana dalam saja. Elusannya kini mulai turun kebawah sedikit demi sedikit. Membuat gairahku naik. Bibirnya kini mulai mencium bibirku dengan lembut. Sensasi yang indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Hangat, lembut dan manis terasa keika bibirnya yang lembut bertemu dengan bibirku. Tanganya kini mulai mengelus-elus lembut penisku dari luar celana dalamku. Aku tak mau kalah, tanganku kini mulai meneglus-elus celah vaginanya. Kutemukan ada daging yang kecil memanjang. Kupelintir-pelintir pelan, tubuhnya mengejang hebat. Tangannya masuk kedalam celana dalamku dan mengocok-ngocok lembut penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubuka baju dan kuturunkan celana dalamku. Kulihat dirinya yang terbaring dengan damai di atas kasur itu. Setelah semuanya kubuka, kupeluk tubuhnya dan kuposisikan tubuhku diatas tubuhnya. Tangannya menuntun penisku kearah lobang vaginanya. Kugesek-gesekkan sebentar dan secara perlahan-lahan. Pinggulnya bergerak mengikuti kemana rah penisku bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah cukup, perlahan-lahan aku tekan penisku kedalam vaginanya. Kepala penisku mulai masuk dan terasa hangat, lembut bagaikan sutra. Kutekan lagi danpenisku mulai masuk lebih dalam lagi. Kulihat dia menggigit bibir bawahnya dan ada kerutan di keningnya. Sakit apa nikmat yang dia rasakan, pikirku. Kutekan lebih keraslagi sampai aku merasa menembus sesuatu, seperti ada kertas tipis yang robek.</p>
<p style="text-align: justify;">Kudengar jeritan pelan. Jangan-jangan dia.. rasa takutku kini mulai menghantui lagi. Kutnyakan apakah dia kesakitan apa masih mau dilanjutkan. Dia hanya mengangguk-angguk dan berbisik ditelingaku agar aku melanjutkannya. Kudiamkan penisku sejenak agar vaginanya dapat menyesuaikan keadaan. Penisku kurasakan hangat dan lembut. Ada gerakan meremas halus dan sedotan-sedotan di dalam vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kugerakkan penisku maju mundur. Lenguhan kudengar semakin menjadi-jadi. Seret dan peret kurasakan penisku bergerak keluar masuk di dalam vaginanya. Lima belas kemudian kurasakan akan ejakulasi. Kutanyakan apakah mau dikeluarkan di dalam atau diluar. Didalam saja jawabnya. Kupacu gerakanku semakin cepat. Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat. Vaginanya mencengkram penisku dan mengurut-urutnya. Pertahananku jebol dan kukeluarkan air maniku di dalam lobang vaginanya. Kudiamkan penisku di dalam vaginanya sampai terlepas sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuperhatikan ada noda-noda darah bercampur air maniku. Takut dan sesal kini terlintas di dalam benakku. Ternyata dia masih seorang perawan dan aku telah merebut kegadisannya. Kubiarkan dirinya tertidur dengan damai dan secara perlahan-lahan kurapikan pakianku dan menyelinap keluar dari kamar hotelnya dengan pikiran kalut aku kembali ke rumah dan merenungi apa yang telah terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih baik aku tidak menerima uangnya dan handphoneku ku jual untuk biaya berobat ayahku. aku tahu ini yang terbaik tuk kita berdua. apakah aku salah.. Jika aku salah maka apunilah aku.. Untuknya aku minta maaf, bukannya aku tak mau uangmu tapi aku terpaksa tuk menepisnya. Aku tak mau memanfaatkanmu. Sekali lagi maafkan aku. Suatu saat aku akan menghubungimu bila aku sudah siap.</p>
<p style="text-align: justify;">Para pembaca, aku minta saran apa yang harus aku perbuat dan bagaimana aku menghadapinya. apakah aku salah dalam bertindak tetapi apakah aku hanya tak ingin dia terluka oleh sikap dan perbuatanku yang tak bertanggung jawab ini. Silahkan kirimkan kritikan dan sarannya. Sebelumnya aku ucapkan banyak terima kasih dan siapa yang mau berkenalan denganku silahkan hubungi aku saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya aku ingin merasakan kenikmatan lagi tetapi aku tak ingin terikat, adakah seseorang yang mau mengajariku setiap teknik bercinta dalam mengejar kebahagiaan sehingga aku bisa membahagiakan pasanganku. Aku ingin banyak kenangan yang tak mungkin terlupa sampai saat aku tua nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">E N D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/umum/kenikmatan-orgasme-tiada-terkira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentot Pembantu Itu Asik, Yanti Seksi</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/umum/ngentot-sama-pembantu-itu-asik-yanti-seksi/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/umum/ngentot-sama-pembantu-itu-asik-yanti-seksi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 05:59:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[Aku punya seorang tetangga yang tinggal di seberang rumah. Namanya Ana, dan kupanggil Ci Ana, karena ia seorang wanita keturunan Chinese. Sebenarnya aku tidak suka pada gaya dan cara hidupnya yang menurutku &#8216;ngegampangin&#8217; apa-apa. Ia suka memandang ringan pada semua hal. Termasuk hubungan dengan tetangga sekitarnya. Ci Ana ini sudah menikah dan punya anak satu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Aku punya seorang tetangga yang tinggal di seberang rumah. Namanya Ana, dan kupanggil Ci Ana, karena ia seorang wanita keturunan Chinese. </strong>Sebenarnya aku tidak suka pada gaya dan cara hidupnya yang menurutku &#8216;ngegampangin&#8217; apa-apa. Ia suka memandang ringan pada semua hal. Termasuk hubungan dengan tetangga sekitarnya. Ci Ana ini sudah menikah dan punya anak satu, Rachel namanya.</p>
<p><strong>Wanita tetanggaku ini memang orang yang bertipe mudah bergaul dan ia gampang akrab dengan siapa saja,</strong> termasuk dengan isteriku, Rini. Kadang aku muak bila Ci Ana ini sering memanggil orang dari kejauhan seperti memanggil seekor anjing. Tapi tidak apalah, pikirku, mungkin udah jadi kebiasaannya. Kalo denganku, aku sengaja tidak mau akrab. Entah kenapa. Mungkin karena aku tidak mau bergaul dengan sembarang orang atau karena memang aku tidak suka dengan tetanggaku yang tergolong baru pindah sekitar dua bulan yang lalu itu.</p>
<p><span id="more-566"></span>Sekitar seminggu yang lalu, saat hendak berangkat ke kantor aku tanpa sengaja menengadah dan memperhatikan seseorang berjalan mendekati isteriku yang akan naik mobil kami. Kebetulan saat itu aku sudah ada dalam mobil dan hendak menginjak pedal gas. Ternyata si Ci Ana. Kebetulan ia hendak pergi ke arah yang berlawanan. Waktu lewat, kulihat ia mengenakan kaos hadiah dari produk cat &#8220;CATYLAC&#8221; dengan tulisan merah dan kaosnya itu amat tipis dengan warna dasar putih. Wah.. Buah dadanya itu lho. Tidak kusangka ia punya payudara yang besar. Kayaknya lebih besar dari punya isteriku.</p>
<p>Sepanjang perjalanan ke kantor, badanku terasa panas dingin memikirkan payudaranya itu. Oh.. andaikata aku punya kesempatan.. aku ingin tidur dengannya.. atau paling tidak kalo dia tidak mau, aku akan memaksanya. Aku ingin menikmati payudaranya. Orangnya memang cantik, tinggi dan putih. Walau berkacamata, dapat kulihat wanita itu kelihatannya memiliki gairah seks yang tinggi. Entah hanya khayalanku saja atau memang demikian adanya. Rupanya kesempatan itu akhirnya datang juga.</p>
<p>Dua hari yang lalu, saat lingkungan tempat tinggal kami sedang sepi, terjadilah hal yang tidak kusangka-sangka. Saat aku pulang beristirahat pada sekitar pukul dua belas, seseorang wanita memanggilku. Waktu itu aku hendak menutup dan mengunci pintu pagar.<br />
&#8220;Win..! Sini bentar, Win.&#8221;<br />
Ternyata Ci Ana. Kudekati dia di pintu pagar rumahnya lalu aku bertanya padanya dengan hati dag-dig-dug tak karuan.<br />
&#8220;Ada apa Ci?&#8221;<br />
Sambil membuka pintu pagar ia menjawab, &#8220;Masuklah dulu.. ada sesuatu yang hendak aku bicarakan..&#8221;</p>
<p>Tanpa bertanya lebih lanjut, aku mengikutinya masuk ke dalam rumah (tentunya setelah pagar itu aku tutup dan kunci). Di ruang tamu, aku kemudian duduk dengan perasaan deg-degan. Sementara ia berjalan masuk ke kamarnya. Beberapa menit kemudian ia muncul dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang.<br />
&#8220;Aku mau tanya ini, Win.. kamu &#8216;kan pintar bahasa Inggris. Terjemahin ya, untuk aku. Kotak ini isinya kamu lihat sendiri aja deh..&#8221; ujarnya dengan wajah bersemu merah. Entah kenapa.</p>
<p>Kuraih kotak dan kertas yang berisi petunjuk tentang cara pemakaian benda di dalamnya. Kotaknya memang masih terbungkus rapih. Saat kubuka bungkusnya, aku kaget bukan kepalang. Tidak pikir benda apa, eh tidak tahunya itu alat kelamin pria alias penis palsu terbuat dari semacam plastik yang dapat digerakkan sesuai dengan kemauan pemakainya. Alat itu harus menggunakan arus listrik. Setelah kubaca petunjuknya, lalu kujelaskan pada Ci Ana.<br />
&#8220;Ci.. daripada Cici pakai alat ini, mendingan pake yang aslinya aja gimana.. Maaf, Ko Teddy (nama suaminya) &#8216;kan pasti mau tiap malam..&#8221; jawabku sambil memandangnya.</p>
<p>&#8220;Wah, Win.. dia jangan diharapin deh.. pulang malam terus.. Datang-datang pengennya tidur aja.. jadi gimana mau melakukan hubungan intim, Win.. sementara wanita kayak aku &#8216;kan butuh dicukupin juga dong kebutuhan biologisnya..&#8221; jawabnya enteng namun wajahnya masih terlihat bersemu merah. Ia pun tertunduk setelah itu.<br />
&#8220;Gimana kalo.. aku aja yang mencoba memuaskan Ci Ana..?&#8221; tanyaku tiba-tiba.<br />
Aku tidak percaya dengan suaraku sendiri. Beraninya aku berkata begitu pada wanita tetangga yang sudah bersuami. Bisa repot nih jadinya.</p>
<p>&#8220;Apa kamu bilang? Enak aja kamu ngomong. Emang kamu mau dilemparin tetangga lain. Berselingkuh seperti itu nggak boleh tahu..!&#8221; jawab Ci Ana dengan nada tinggi.<br />
Baru sekarang aku melihatnya benar-benar marah. Menyesal juga jadinya. Beberapa lama kami pun berdiam diri. Lalu Ci Ana bangkit dari duduknya dan sepertinya ia hendak mengambilkan minum untukku.<br />
&#8220;Nggak usah repot-repot, Ci.. Sebentar lagi juga aku pulang..&#8221; ujarku mencoba merebut kembali hatinya.<br />
Tidak kusangka ia malah membalas, &#8220;Ngaco.. siapa yang mau ngambilin minum buat kamu.. aku mau minum sendiri kok.. Udah sana, pulang aja. Dan terima kasih udah terjemahin petunjuk alat itu..&#8221; jawabnya masih dengan nada ketus.<br />
Aku pun bangkit dari dudukku. Namun saat aku hendak berjalan keluar, tiba-tiba muncul ide jahatku.</p>
<p>Dengan berjalan berjingkat-jingkat, kuikuti ke arah mana si Ci Ana berjalan. Rupanya ia menuju kamar tidurnya. Kebetulan jalan menuju pintu kamar, dibatasi oleh korden. Aku pun bersembunyi dibalik korden itu. Untunglah ia tidak menutup pintu kamar itu sama sekali. Kulihat ia membelakangiku, lalu pelan-pelan menarik kaos ketatnya ke atas dan menurunkan celana panjangnya. Rupanya ia mau mandi.</p>
<p>Lalu perlahan-lahan kudekati pintu kamar itu. Ci Ana mulai membuka BH dan celana dalamnya yang berwarna krem. Kemudian ia meraih jubah mandinya yang tergeletak di tempat tidur. Sebelum ia sempat menutupi tubuhnya yang telanjang, aku segera berlari dan menubruknya. Buk..! Ia terjatuh dengan keras ke tempat tidurnya yang besar.</p>
<p>&#8220;Aduh..! Lepaskan..! Win.., kok kamu belum pulang, hah..? Mau apa kamu..?&#8221; ujarnya kaget setengah mati.<br />
&#8220;Aku mau buktikan bahwa alat punyaku lebih hebat dari penis buatan itu, Ci..&#8221; jawabku dengan tegas.<br />
&#8220;Nggak.. nggak mau.. nanti kalo suamiku pulang gimana..?&#8221; tanyanya lagi dengan nada ketus.</p>
<p>Karena sudah berada di atas tubuhnya yang telanjang, tanpa buang waktu lagi, aku mengangkangkan kakinya, dan terlihatlah lubang vaginanya yang berwarna merah muda. Dengan cepat kumasukkan jari tengahku ke dalamnya. Ci Ana perlahan-lahan mengendurkan perlawanannya. Dari tadi ia terus mendorongku supaya aku segera terjatuh dari tempat tidur. Kepalanya mulai bergerak ke sana kemari. Aku langsung mengincar buah dadanya yang besar dan padat. Putingnya kuhisap dan kujilat. Kanan dan kiri.. kanan dan kiri.</p>
<p>Suara tanda ia mulai terangsang mulai terdengar.<br />
&#8220;Ah.. ah.. ah..&#8221; erangnya.<br />
&#8220;Masukkan sekarang Win.. aku sudah tidak tahan lagi.&#8221; ujarnya di tengah-tengah kenikmatan yang ia alami.<br />
&#8220;Tapi kontolku belum tegang, Ci.. dihisap, ya..!&#8221; ujarku sambil menyodorkan senjataku ke mulutnya.<br />
Kebetulan mulutnya sedang terbuka. Kaget juga jadinya dia. Aku memaju mundurkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Luar biasa hisapan mulutnya. Walaupun punyaku jadi basah, namun senjata andalanku itu langsung mengeras. Segera kutarik dari mulutnya. Sebenarnya, Ci Ana tidak rela melepaskan senjataku dari hisapan mulutnya. Ia mungkin ingin terus mengulumnya sampai air maniku muncrat ke dalam mulut dan kerongkongannya.</p>
<p>Beberapa menit kemudian, aku menyibak rambut kemaluannya yang tebal serta hitam. Bibir kemaluannya kusingkap dengan perlahan. Setelah mengetahui persis letak lubang senggamanya, kuarahkan penisku ke sana, dan dengan sekali hujaman, amblaslah penisku ke lubang surga dunia itu. Aku terus menghujamkan senjataku. Maju-mundur-maju-mundur.., bless.. ceplak.. cepluk.. memang lain rasanya bila bersetubuh dengan wanita yang sudah pernah melahirkan. Sepertinya penisku tidak menghadapi halangan berarti. Sementara Ci Ana mulai bereaksi dengan menggerakkan pantatnya secara memutar. Senjataku seperti dikocok-kocoknya dalam vaginanya.</p>
<p>Sudah lima belas menit, namun pertarungan birahi kami belum juga usai. Kami pun kemudian berganti posisi. Ci Ana sekarang dengan posisi menungging. Aku bersiap menusuknya dari belakang. Kuarahkan senjataku ke mulut kemaluannya sekali lagi. Sementara tangan kanannya membuka mulut vaginanya dengan lebar. Bless.. bless.. bles.., penisku masuk dengan lancar dan pasti. Tangan kananku meraih pinggangnya, sementara tangan kiriku memain-mainkan payudara kirinya. Tampak kepalanya menengadah setiap kali tusukanku kuulangi. Tiba-tiba ia menjerit sambil kedua tangannya memegang kepala ranjang dengan kuat.<br />
&#8220;Ah.. ah.. ah.. ah..!&#8221; rupanya ia orgasme, namun aku belum juga mencapai puncak. Memang aku lumayan perkasa kali ini.</p>
<p>Beberapa menit berlalu.<br />
Ci Ana akhirnya bilang, &#8220;Win, kamu tiduran sok.. aku yang aktif sekarang.. biar sama-sama dong orgasmenya.&#8221;<br />
Setelah aku berbaring, ia meraih penisku yang amat keras dan tegak dan dihisapnya sambil jongkok di sebelah kananku. Ia juga menjilat dan mengulum batanganku. Duh.. duh.. duh.. seperti melayang di awan-awan aku dibuatnya.<br />
&#8220;Wah, sebentar lagi kalau kuteruskan bisa-bisa aku nyemprotin mani di mulutnya nih.&#8221; pikirku.</p>
<p>Lalu buru-buru aku menyuruhnya duduk di atas penisku. Ia pun memegang penisku dan dengan pelan-pelan duduk di atasnya sambil mengarahkan ke bibir vaginanya. Dan.. bles.. jeb.. bless.. jeb! Kulihat penisku seperti tenggelam dalam vaginanya. Aku hanya dapat merem melek jadinya. Ci Ana terus saja bergerak ke sana kemari. Naik-turun, kanan-kiri dan setelah beberapa saat ia melakukannya, aku merasakan ada sesuatu yang akan meledak dalam tubuhku. Segera saja aku bangkit sambil memeluk tubuhnya yang masih ada di atas selangkanganku.<br />
&#8220;Ah.. ah.. ah.. ah.. crot..! Crot! Crot! Crot..! Crot..!&#8221; sebanyak sembilan kali semprotan maniku masuk ke dalam vaginanya.<br />
Sesudah itu kami tiduran karena kelelahan. Ci Ana masih memeluk tubuhku.</p>
<p>&#8220;Win, aku sebenarnya sudah lama ingin berhubungan intim denganmu.. aku tahu kau punya senjata yang hebat. Jauh lebih hebat dari suamiku yang loyo. Cuma aku belum mendapatkan kesempatan untuk itu. Makanya aku pancing kau dengan alat penis buatan itu. Jadi jangan marah ya. Tadi aku bersuara ketus seolah-olah menolak kamu hanya permainan saja. Aku mau tahu seberapa tahan kamu melihat tubuh wanita sepertiku. Makanya aku tadi tidak menutup pintu kamar. Karena kutahu pasti kamu belum pulang dan kamu tidak akan pulang sebelum kamu bisa menaklukkanku..&#8221; ujarnya tiba-tiba sambil tangannya membelai pelan penis kebanggaanku yang sudah mulai mengecil.</p>
<p>Tidak kusangka ia mengatakan itu. Memang benar dugaanku. Ternyata Ci Ana memang hiperseks. Ia mau dengan siapa saja dan kapan saja memuaskan hasrat seksnya yang menggebu-gebu. Duh gusti, enaknya punya tetangga seperti dia. Oh ya pembaca, bagi Anda yang berjenis kelamin wanita, baik itu ibu-ibu maupun gadis muda alias ABG yang suka nge-sex dan ingin mencoba penis andalanku, silakan menghubungi saya.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/umum/ngentot-sama-pembantu-itu-asik-yanti-seksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahyuni, Customerku, Pelayan Seksku</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/umum/wahyuni-customerku-pelayan-seksku-3/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/umum/wahyuni-customerku-pelayan-seksku-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 01:58:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=563</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini aku hampir menjadi seorang insinyur elektro, sekarang sedang menunggu wisuda. Sambil menunggu wisuda, aku dan beberapa temanku membuka toko komputer. Kejadian ini terjadi pada bulan Agustus 2000.
Pagi itu sekitar jam 10 pagi, aku sedang membuat proposal penawaran untuk pemda Wonogiri. Sebuah Vitara putih tiba-tiba masuk di halaman kantorku, seorang cewek WNI keturunan berumur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saat ini aku hampir menjadi seorang insinyur elektro, sekarang sedang menunggu wisuda. <strong>Sambil menunggu wisuda, aku dan beberapa temanku membuka toko komputer. Kejadian ini terjadi pada bulan Agustus 2000.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu sekitar jam 10 pagi, aku sedang membuat proposal penawaran untuk pemda Wonogiri. <strong>Sebuah Vitara putih tiba-tiba masuk di halaman kantorku, seorang cewek WNI keturunan berumur sekitar 20 tahun, </strong>tinggi sekitar 165 cm mengenakan kaos ketat warna biru muda keluar dari dalam mobil.<br />
&#8220;Selamat pagi Mas&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Selamat pagi, silakan duduk.., Ada yang dapat saya bantu?&#8221;, sahutku sambil bersalaman dan menyiapkan sebuah kursi yang masih berada di pojok ruangan. Terasa dingin dan sangat lembut ketika aku meremas tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-563"></span>Singkat cerita dia setuju membeli seperangkat komputer pentium II/550 multimedia dan sebuah bjc-2000 yang saat itu seharga 6,6 juta.<br />
&#8220;Ini saya baru bawa 5 juta, sisanya besok bisa Mas?&#8221;, tanya dia.<br />
&#8220;Oh.., nggak apa-apa&#8221;, jawabku, sebenarnya dengan uang muka seratus ribu pun aku juga bersedia.<br />
&#8220;Maaf, Mbak namanya siapa, ini untuk mengisi kwitansinya&#8221;, tanyaku.<br />
&#8220;Yuni, lengkapnya Yuni *****&#8221;, sahutnya. Dia juga memberikan alamat dan nomor HP-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu juga setelah kuselesaikan pembuatan penawaran, aku langsung merakit komputer yang dia pesan. Dalam tiga jam aku selesai merakit plus menginstall program yang diperlukan. Satu jam kemudian setelah aku selesai makan siang yang sudah agak sore, aku iseng-iseng telepon Yuni.<br />
&#8220;Mbak.. ini komputer yang Mbak pesan udah selesai, sewaktu-waktu dapat diambil&#8221;, kataku membuka pembicaraan.<br />
&#8220;Aduh cepat sekali Mas, ini saya juga baru ngambil uang di bank, oh ya Mas.. sekalian modemnya ya.. nambah berapa?&#8221;, tanyanya.<br />
&#8220;Kalau internal Motorola 140 ribu Mbak&#8221;, jawabku.<br />
&#8220;Ya udah yang itu saja, tetapi tolong Mas yang pasangkan ke rumah saya, masalahnya saya nggak bisa masang sediri..&#8221;, pintanya.<br />
&#8220;Ya.. kalo begitu nanti jam 7 malam saya akan datang ke rumah Mbak&#8221;, Sahutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai mandi aku membayangkan wajah Yuni, mirip dengan salah satu bintang film mandarin tapi siapa aku tidak tahu namanya. Berwajah oval, rambut sebahu berhigh light merah, kulitnya yang putih bersih benar-benar sangat manis. Selesai berdandan dan sedikit minyak wangi, aku menyalakan Suzuki Carretaku dan meluncur ke perumahan Solo Baru, sebuah kompleks perumahan yang cukup elite di kota Solo.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sepuluh menit berkeliling kompleks, akhirnya aku menemukan alamatnya. Terlihat Vitara putih di dalam garasi yang tidak tertutup, setelah yakin alamatnya benar maka aku pencet bel yang berada di balik pagar besi yang terkunci. Seorang perempuan setengah baya keluar dan membuka pintu pagar sambil berkata, &#8220;Mas yang mau ngantar komputer ya, silakan masuk dulu Mas, Mbak Yuni baru mandi&#8221;. Aku tidak langsung masuk tetapi mengambil barang-barang pesanan Yuni dan aku letakkan di teras depan. &#8220;Barang-barangnya disuruh langsung dipasang ke kamar Mbak Yuni Mas&#8221;, perempuan itu menyusulku ke mobil saat aku mengambil barang terakhir, yaitu keyboard, mouse dan nota penjualan. &#8220;Ini kamar Mbak Yuni&#8221;, kata perempuan itu sambil mengantarkanku menuju ke suatu ruangan berukuran 4 x 4 meter. Tidak terlalu luas tetapi cukup tertata rapi dan barang-barang yang lumayan mewah menghiasi kamar. Bau parfum ruangan berjenis apple samar-samar tercium hidungku. Tanpa membuang waktu aku merakit komputer di meja yang telah dia siapkan sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat merakit instalasi printer, Yuni masuk kamar, tercium harum bau sabun mandi. Terlihat Yuni hanya mengenakan daster warna kuning tanpa ritsluiting dan tanpa lengan baju (model you can see). Lengannya yang putih mulus dan bentuk badannya yang ramping mengigatkanku pada Novi (cinta pertama) tetapi badannya lebih gedean Novi sedikit. Sesaat aku terdiam memandangnya, dia hanya tersenyum saja memperlihatkan giginya yang putih dan berjajar rapi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Udah selesai Mas?&#8221;, tanyanya membuatku sedikit kaget.<br />
&#8220;Oh.. sebentar lagi Mbak, ini baru pasang printer&#8221;, jawabku.<br />
&#8220;Mas, jangan panggil aku Mbak, panggil saja Yuni&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Kamu kuliah di mana?&#8221;, tanyaku.<br />
&#8220;Di Akademi **** (edited), semester 3&#8243;, jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Stop kontaknya mana Yun?&#8221;, tanyaku.<br />
&#8220;Itu di bawah meja&#8221;, jawabnya.<br />
&#8220;Kok sepi, di mana ortumu?&#8221;, tanyaku.<br />
&#8220;Aku di sini tinggal bersama kakakku, Papi sama Mami tinggal di Surabaya, kakakku sudah tiga hari di Semarang ikut seminar untuk syarat mengambil dokter spesialis&#8221;, jelasnya.<br />
&#8220;O.. kakakmu dokter ya.., terus perempuan itu pembantumu?&#8221;, aku terus bertanya.<br />
&#8220;Iya, dia membantu dari pagi sampai jam 7 malem setelah itu pulang ke rumahnya kira-kira 300 meter dari sini&#8221;, jelasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nah.. udah siap silakan kalo mau coba&#8221;, kataku setelah layar monitor memperlihatkan logo WIN 98.<br />
&#8220;Oh ya.. Mas mau minum apa?&#8221;, tanyanya setelah menunggu logo WIN 98 berubah menjadi gambar Titanic.<br />
&#8220;Ah.. apa aja mau kok&#8221;, kataku sambil tersenyum.<br />
Dia berjalan keluar kamar, saat dia berjalan itu samar-samar kulihat pantatnya yang tidak terlalu besar tetapi terlihat padat dan kenyal. Dia kembali dengan membawa segelas es jeruk dan meletakkan di samping ranjangnya yang memang terdapat meja kecil dan sebuah telpon.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wah sayang aku belum ngedaftar ke ****net &#8220;, katanya.<br />
&#8220;Oh.. kamu mau nyoba pakai internet, kalo gitu untuk sementara kamu boleh pakai punyaku&#8221;, kataku sambil aku mulai mengisi user name dan password.<br />
&#8220;Eh.. Mas.. kalo mau lihat gambar-gambar artis Indonesia yang telanjang alamatnya di mana sich&#8221;, katanya tanpa malu-malu.<br />
Selanjutnya kuberi tahu alamat-alamat situs porno sambil aku memperlihatkannya. Terlihat Yuni Shara sedang bercinta dengan seseorang, melihat adegan tersebut matanya yang agak sipit dan bening terus melotot sambil menelan ludah, aku hanya tersenyum menyaksikan ekspresi wajahnya yang lucu sangat manis terpaku memandangi adegan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalo kamu mau baca cerita-cerita erotis, ada di sini..&#8221;, kataku sambil mengetik www.17tahun.com dan mulai masuk ke salah satu cerita erotis, dengan seksama dia membacanya dan aku juga membaca tentunya. Saat dia tengah membaca, dia mendekatkan kursinya di sampingku sambil sesekali dia meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang lain. Dan batang kemaluanku pun mulai bereaksi dan.. aduh, kelihatan sekali kalau batang kemaluanku sedang tegang. Dia melirik ke bawah, aku berusaha menyembunyikannya, dan dia hanya menarik nafas dalam-dalam sambil tersenyum kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat berselancar keliling dunia, kuputuskan hubungan ke internet.<br />
&#8220;Mas.. ini udah bisa dipakai nonton film?&#8221;, tanyanya.<br />
&#8220;Iya, kamu punya CD (compact disk) film nggak&#8221;, tanyaku sambil aku berusaha menempatkan batang kemaluanku agar berada pada posisi vertikal setelah terangsang dengan cerita tadi.<br />
&#8220;Sebentar, aku carikan dulu ke kamar kakak&#8221;, jawabnya sambil keluar kamar.<br />
&#8220;Ada sich, tapi.. adanya ini punya kakak&#8221;, dia berkata sambil memperlihatkan VCD semi porno dengan judul Kama Sutra versi Barat.<br />
&#8220;Ya.. nggak apa-apa kan cuma nyoba, tapi pembantumu tadi di mana?&#8221;, tanyaku sambil melongok ke arah pintu.<br />
&#8220;Oo.. dia udah pulang tadi waktu aku selesai mandi dan masuk ke sini&#8221;, jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat adegan yang sangat romantis pada layar monitor, tidak seperti film-film porno lain, adegan dalam film ini sangat lembut dan romantis. Sebenarnya aku sudah terbiasa menonton film-film seperti ini, tetapi jika ditemani makhluk manis seperti ini jantungku berdebar sangat kencang. Sesekali kulirik dia yang sedang menyaksikan adegan tersebut. Terlihat sesekali dia membasahi bibirnya yang berwarna merah delima dengan lidahnya. Ingin sekali sebenarnya aku mencium bibirnya. Baru sekali aku merasakan bersetubuh dengan pacar pertamaku, dan keinginan itu saat ini sangat menggebu. Kulihat Yuni mulai sering menggerakkan kakinya naik turun. Aku hanya menarik nafas panjang dan kumundurkan kursiku sehingga berada sedikit di belakang Yuni. Karena aku sudah tidak tahan lagi, dengan agak takut kusenggolkan kakiku dengan kakinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak kuduga sama sekali dia hanya diam, tanpa menungu lebih lama lagi kakiku mulai naik turun di betisnya. Karena dia sepertinya tidak keberatan kuperlakukan seperti itu, kuberanikan tanganku untuk memegang tangannya dan dia juga menyambutnya dengan meremas tanganku. Akupun mulai lebih berani, kuraba dadanya yang tidak begitu besar tetapi sangat kencang dan padat terasa cukup keras. Saat kuraba payudaranya terlihat dia terpejam sepertinya sedang menikmati apa yang sedang kulakukan. Tangannya yang putih bersih mulai merayap menuju pahaku, aku semakin terangsang hebat. Sementara tanganku masih rajin meraba payudaranya, dan dia terpejam, perlahan kucium bibirnya, kuhisap dengan lembut dan lidahku pun mulai masuk di antara gigi-giginya yang putih berjarar rapi. Masih berasa pasta gigi saat lidahku melumat bibirnya. Selanjutnya dia pun membalas dengan memainkan lidahnya ke dalam mulutku. Lembut sekali bibir dan lidahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat aku menikmati bibirnya yang mungil, ciumanku mulai berjalan menuju ke telinganya. Saat aku mungulum telinganya, dia mendesah dan mengangkat kepalanya, sepertinya dia kegelian. Kulepaskan ciumanku dan aku mulai mencumbu lehernya yang putih dan berbau harum sabun mandi, sementara tanganku masih terus meraba payudaranya dengan lembut. Perlahan ciumanku aku turunkan di dada bagian atas dan tanganku mulai melepaskan tali yang mengantung pada lengannya. Setelah aku berhasil melepaskan tali dari dasternya, maka daster bagian atasnya mulai menurun dengan sendirinya. Terlihat bukit yang masih tertutup BH berwarna krem. Saat aku mulai mencium payudaranya bagian atas, perlahan-lahan dia berdiri dan spontan aku menarik ciumanku, agak takut aku waktu itu, kupikir dia akan marah. Tetapi setelah dia berdiri tegak, semua dasternya merosot ke bawah dan tampak dia berdiri setengah telanjang hanya menggenakan BH dan celana dalam berwarna putih. Sepertinya dia tidak marah malah dia tersenyum kecil, saat itu aku berpikir mungkin dia penganut aliran seks bebas. Ah masa bodoh, yang penting keinginanku dapat kesampaian dan aku tidak memaksanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan aku mulai berdiri di hadapannya, kupandangi tubuhnya yang setengah telanjang dengan seksama. Indah sekali tubuhnya, dari wajah sampai ujung kaki semuanya berbalut kulit berwarna putih bersih khas kulit WNI keturunan. Perlahan kudekati dia dan kucium bibirnya untuk yang kesekian kalinya. Senang sekali aku menikmati bibirnya yang mungil dan berwarna merah delima. Sambil aku melumat bibirnya kupeluk dia sampai tubuh kami saling menyentuh. Tanganku yang berada di punggungnya mulai berusaha melepaskan BH, tapi sulit bagiku, aku tidak berhasil karena BH yang dia pakai lain dengan yang pernah dipakai Novi. Sepertinya dia tahu kalau aku kesulitan membuka BH-nya, dan akhirnya dia sendiri yang membuka. Setelah BH-nya terlepas terlihat dua buah bukit yang berwarna putih dengan puting berwarna coklat muda menggantung dengan kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubopong dia ke tempat tidur dan kurebahkan dia ke sisi tempat tidur. Saat itu dia berada di atas tempat tidur dan aku berada di lantai. Perlahan kuraba payudara bagian kiri dengan tangan kananku, sementara lidahku mulai memainkan puting susunya yang sebelah kanan sambil sesekali kuhisap putingnya. Kulihat dia terpejam dan menggigit bibir bagian bawah sementara kedua tangannya menarik-narik rambutnya sendiri, sepertinya dia sangat menikmati permainan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kedua tangannya memegang rambutnya, terlihat ketiaknya yang sangat bersih tanpa ditumbuhi bulu karena mungkin sering dicukur. Selanjutnya hisapanku mulai bergeser sedikit demi sedikit ke sisi payudaranya, dan kulanjutkan jilatan dan hisapanku ke atas menuju ketiaknya dan tangan kananku berganti memainkan payudara bagian kanan. Saat lidahku menyapu ketiaknya dia sedikit berteriak, &#8220;Akhh..&#8221;. Aku lanjutkan dengan menghisapnya dan dia semakin mendesah keras dan kedua kakinya merapat saling menindih. Terlihat dia menegang untuk beberapa saat, kemudian mulai melemas sepertinya dia telah mencapai orgasme untuk yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat titik-titik keringat muncul di dahinya, aku melepaskan gigitanku dan dia duduk sambil tangannya menyentuh rambutku dan dia meraba wajahku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya membersihkan keringat yang ada di dahinya. Setelah dia meraba bagian wajahku, jari-jarinya menyentuh bibirku dan dengan ibu jarinya dia mengusap-usap bibirku dan berusaha memasukkan ibu jarinya ke dalam mulutku. Aku tidak menolak, kukulum ibu jarinya dengan lembut, dan jarinya yang lain mulai menyusul masuk ke dalam mulutku, kukulum satu persatu jari-jarinya yang putih.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan dia menarik tangannya dan mulai membuka kacing-kancing kemejaku. Perlu pembaca ketahui jika aku berada di tempat customer aku selalu mengenakan kemeja dan sepatu, tetapi sepatu dan kaus kakiku telah kulepas di depan rumahnya. Setelah semua kancing kemejaku terlepas, aku berdiri dan membuka kemejaku. Selajutnya kubuka sendiri ikat pinggang dan celana panjangku sampai aku hanya memakai CD yang telah menjadi ketat karena terdesak oleh batang kemaluanku yang menegang keras. Selanjutnya kubuka CD-ku sendiri sehingga kini aku telah telanjang bulat.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat batang kemaluanku tegak berdiri dengan arah agak vertikal, perlahan kudekatkan batang kemaluanku ke wajahnya dengan harapan dia akan menghisapnya, tapi sepertinya dia tidak mengerti maksudku, karena dia hanya memandang saja. Selanjutnya dengan tangan kananku memegang batang kemaluan dan tangan kiriku membelai rambutnya, aku usap-usapkan batang kemaluanku ke wajahnya, lagi-lagi dia belum mengerti keinginanku, dia hanya memejamkan mata. Karena sudah tidak sabar kuusapkan kepala batang kemaluanku ke bibirnya dan aku berusaha memasukkan batang kemaluanku dan akhirnya dia mau membuka mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan kudorong batang kemaluanku agar masuk lebih dalam lagi, terasa lidahnya yang lembut menyentuh kepala batang kemaluanku. Sepertinya dia mulai mengerti apa yang kuinginkan, selanjutnya lidahnya mulai menyapu kulit batang kemaluanku dari pangkal sampai ujung berulang-ulang sambil sesekali mengulumnya, terasa sangat lembut, hangat dan sangat nikmat sampai-sampai merinding seluruh tubuhku. Sepertinya dia menyukai batang kemaluanku karena lebih dari lima menit dia menikmati batang kemaluanku sampai kakiku kelelahan berdiri, akhirnya aku mengambil posisi 69 dengan posisi miring.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara dia mengulum dan menjilati batang kemaluanku, aku mulai membuka CD-nya yang sedikit basah. Terlihat rambut-rambut halus menutupi kemaluannya sebelah atas. Aku terus menurunkan CD-nya sampai terlepas, selanjutnya kucium dan jilati paha bagian dalamnya sampai mendekati liang kewanitaannya. Lain dengan Novi, bibir liang kewanitaan Yuni berwarna cenderung merah hati. Aku sapukan lidahku ke lubang kenikmatannya yang telah mengeluarkan cairan bening, terasa agak gurih.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kubuka liang kewanitaannya dengan tangan kiriku, terlihat liang kewanitaannya sangat sempit dan sepertinya dia masih perawan karena bentuk bagian dalamnya persis seperti kepunyaan Novi. Mengetahui dia masih perawan, aku semakin semangat menikmati liang kewanitaannya. Kurenggangkan kedua pahanya, kusapukan lidahku dari anusnya dan sedikit demi sedikit naik menuju lubang kemaluannya dan akhirnya sampai pada klitorisnya. Kujilati dan kuhisap klitorisnya berulang-ulang, kuturunkan lidahku ke lubang senggamanya dan cairan bening mulai mengalir dari liang kewanitaannya. Kemudian kuhisap dalam-dalam cairan yang keluar tersebut dan kukeluarkan di daerah klitorisnya sambil terus kujilati dan kuhisap klitorisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas menikmati klitorisnya, kini lidahku mulai menyapu liang kewanitaannya, dan lidahku kumasukkan ke dalam liang kewanitaannya yang sempit tersebut. Sampai akhirnya dia melepaskan hisapan pada batang kemaluanku dan untuk yang kedua kalinya dia menegang dan perlahan keluar cairan bening dari dalam liang kewanitaannya yang selanjutnya kuhisap dan kutelan sampai habis.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://toketgadis.com/telanjang/umum/wahyuni-customerku-pelayan-seksku-2/">Bersambung ke bagian 02</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/umum/wahyuni-customerku-pelayan-seksku-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ewikk Alvis Cewek Friendster Jogja yang Cantik</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/cewek-friendster/ewikk-alvis-cewek-friendster-jogja-yang-cantik/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/cewek-friendster/ewikk-alvis-cewek-friendster-jogja-yang-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 18:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cewek Friendster]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[cewek jogja]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=553</guid>
		<description><![CDATA[Ewikk is cewek cantik that was come from indonesia. She is another girl that have live in jogja&#8230; Want to see more about Ewikk as cute girl from jogja ? Just check this out.


]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ewikk is cewek cantik that was come from indonesia. She is another girl that have live in jogja&#8230; Want to see more about Ewikk as cute girl from jogja ? Just check this out.</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img class="aligncenter" src="http://www.picita.com/images/nirou1bilpkryuyo5g26.jpg" border="0" alt="Picita One Stop Free Image Hosting" width="526" height="394" /><span id="more-553"></span></a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/viewer.php?file=0sm2vvdjhrchlflh1ta3.jpg"><img src="http://www.picita.com/images/0sm2vvdjhrchlflh1ta3_thumb.jpg" border="0" alt="0sm2vvdjhrchlflh1ta3.jpg" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img src="http://www.picita.com/images/ee6aumulas32zbu4ypeq.jpg" border="0" alt="cewek-cantik-friendster-gadis" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img src="http://www.picita.com/images/j6bxa51w1w2q75o5ksn.jpg" border="0" alt="cewek-cantik-friendster-gadis" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img src="http://www.picita.com/images/zzxd4luqqagng76qy7.jpg" border="0" alt="cewek-cantik-friendster-gadis" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img src="http://www.picita.com/images/c5e7ixj6jl04qfg8x9b6.jpg" border="0" alt="cewek-cantik-friendster-gadis" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img src="http://www.picita.com/images/tpal89vyuj0gvbrd5cin.jpg" border="0" alt="cewek-cantik-friendster-gadis" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img src="http://www.picita.com/images/t2zhgk8xyi387uox78ya.jpg" border="0" alt="cewek-cantik-friendster-gadis" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img src="http://www.picita.com/images/lvdxovlu1gbzmra6f3ca.jpg" border="0" alt="cewek-cantik-friendster-gadis" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img src="http://www.picita.com/images/p6x2277gnve1e1s9is13.jpg" border="0" alt="cewek-cantik-friendster-gadis" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img src="http://www.picita.com/images/l5b7snvhmrkgl5wcj7j2.jpg" border="0" alt="cewek-cantik-friendster-gadis" /></a><a rel="nofollow" href="http://www.picita.com/"><img src="http://www.picita.com/images/64sbvudb80q6fue33je.jpg" border="0" alt="cewek-cantik-friendster-gadis" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/cewek-friendster/ewikk-alvis-cewek-friendster-jogja-yang-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makan Sperma Dari Kondom Majikan 1</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/makan-sperma-dari-kondom-majikan-1-2/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/makan-sperma-dari-kondom-majikan-1-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 02:28:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=546</guid>
		<description><![CDATA[Nafsu birahiku demikian mendorong aku untuk selekasnya bisa menikmati apa yang ditinggalkan Oom Bonny pada kondomnya. Aku langsung bergegas menuju kamar tidur majikanku. Kuaduk-aduk keranjang sampah plastik di kamarnya. Kudapatkan tisue bekas, ada kertas-kertas buangan, ada beberapa serpihan plastik bekas makanan dan lainnya yang tidak punya arti bagiku. Aku tidak mendapatkan kondom-kondom bekas dalam keranjang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Nafsu birahiku demikian mendorong aku untuk selekasnya bisa menikmati apa yang ditinggalkan Oom Bonny pada kondomnya.</strong> Aku langsung bergegas menuju kamar tidur majikanku. Kuaduk-aduk keranjang sampah plastik di kamarnya. Kudapatkan tisue bekas, ada kertas-kertas buangan, ada beberapa serpihan plastik bekas makanan dan lainnya yang tidak punya arti bagiku. Aku tidak mendapatkan kondom-kondom bekas dalam keranjang plastik itu. Aku tinggal punya satu kesempatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bergegas ke halaman depan rumah. Seperti pemulung aku mengorek-orek bak sampah yang berada di depan rumah itu. <strong>Dan, aahh.. tuh.. ada bingkisan plastik kecil bergaris dengan warna kebiruan. Bukankah itu yang tadi pagi dilemparkan Tante Indri dari jendelanya?! Mudah-mudahan kudapatkan apa yang kucari.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-546"></span>Dengan kedua jariku kusepit bingkisan kecil itu. Aku khawatir ada orang lain yang melihat aku saat mengambil kembali bingkisan itu. Kuamati sesaat dan.. Yah, sebaiknya cepat kubawa masuk ke rumah. Hatiku berdesir saat jariku sempat merabai bingkisan itu. Aku rasakan ada yang lunak dan licin. Aku tak sabar. Dengan lekas aku urai ikatannya. Aku tengok isinya. Wwoowww.. Aku melihatnya. Aku temukan bukan hanya satu. Aku temukan beberapa benda semacam balon karet mainan anak dengan ring-ring karet yang melingkar disamping beberapa remasan kertas tissue.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku belum pernah melihat kondom, tetapi aku tahu yang dimaksud. Aku sudah sering melihat gambarnya dalam iklan-iklan. Aku yakin inilah kondom bekas yang dipakai majikanku. Aku yakin air mani yang lendir dari kontol Oom Bonny ada dalam kondom-kondom itu. Wwoocchh.. Aku tak kuasa menahan gejolak nafsuku. Aku nanar memandang isi bingkisan di tanganku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini aku mencoba merabai kondom-kondom itu. Aku masukkan jari-jariku untuk menjepit keluar satu kondom yang bisa kuraih. Nampak basah dan mestinya &#8216;menjijikkan&#8217;, tetapi sangat mempesona mataku. Rasanya aku tak ingin melepaskan pandanganku pada apa yang kini dalam jepitan tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dekatkan kondom itu ke mukaku. Aku ingin membaui-nya. Terbersit rasa amis putih telor. Aku bergerak ke dapur. Ku ambil piring kecil tatakan cangkir teh dari tumpukkan piring bersih lainnya. Kutaruh kondom itu di atasnya. Kemudian kukeluarkan yang lain. Semuanya ada 5 kondom. Uuhh.. Bukan main. Adakah Oom Bonny telah berhubungan badan dengan Tante sebanyak 5 kali semalaman?</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kutaruh bingkisan bekas kondom ke lantai, aku memberikan perhatian sepenuhnya ke piring tatakan cangkir teh itu. Ada 5 kondom terkulai di atasnya. Kondom-kondom itu berwarna putih transparan sehingga isinya nampak membayang. Nampak ada lendir yang meleleh bening ketatakan. Aku berhitung bahwa tadi malam Oom Bonny menggauli Tante Indri hingga 5 kali. Bukan main. Mungkin karena mereka itu pasangan muda yang selalu sangat bergairah untuk berasyik masyuk. Dan itu artinya 5 kondom yang ada di depanku kini berisi 5 kali air mani Oom Bonny yany muncrat dan tumpah di dalamnya. Tanganku melurus-luruskan arah penisku yang ngacengnya semakin bengkak di dalam celanaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mendekatkan seluruh wajahku ke piring tatakan itu. Kini baunya terasa makin nyata. Aku pikir ini bau campuran antara cairan birahi yang dikeluarkan dari vagina Tante Indri dengan spermanya Oom Bonny. Tiba-tiba gelora syahwatku menerpa dan menerjang sanubariku. Aku ingin menjilatkan lidahku pada kondom-kondom itu. Aku ingin selekasnya bisa &#8216;nyeruput&#8217; sperma yang meleleh itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencoba mengangkat satu dengan tangan kananku. Kuambil pada lingkaran cincinnya agar isinya tidak tercecer. Setelah menggelantung pada peganganku kusaksikan bentuk utuh kondom itu. Makin nyata bentuknya yang mirip balon yang belum tertiup. Mungkin sepanjang 12 atau 13 cm dengan ujung bawah membentuk seperti dot bayi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat air mani Oom Bonny ngumpul mengendap nge-gelantung pada dot itu. Oohh.. Aku gemetar. Tangan yang memegang kondom ini bergetar. Aku merinding menahan desir hati ini. Aku sangat haus untuk bisa menjilati atau menumpahkan isi kondom itu ke mulutku. Ampuunn.. Hhh..</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya seperti ada yang menuntun, tanganku bergerak sedikit ke atas mengikuti wajahku yang juga tertuntun untuk mulai mendongak. Bibirku membuka kecil, menganga kemudian semakin melebar. Aku pengin mulutku me-ngedot-ngedot dulu sebelum kemudian melumati kondom itu dari luarnya. Aku bayangkan lendir-lendir kewanitaan Tante Indri nempel pada dinding luar kondom itu. Aku ingin melarutkannya dalam ludahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ingin merasakan cairan amis birahi Tante Indri dalam mulutku. Aku ingin bisa menelan larutannya dan mengaliri tenggorokanku. Aku ingin meminumnya. Aku mencaplok kondom itu. Aku merasakan aroma amis dan rasa asin. Aku melumatinya. Khayalanku mengangkat aku dari bumi. Aku mengambang dalam bayangan seakan Tante Indri sedang menyemprotkan cairan birahinya ke mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kucoba melarutkan rasa asin itu sebanyak yang aku bisa. Aku berusaha menelan lumatanku. Berkali-kali kuulangi. Setelah puas kuangkat kembali keluar dari mulutku. Kini tangan kiriku mengambil alih apa yang dipegang tangan kanan. Dan tangan kananku yang sangat bergetar saat meraih ujung dot itu mengangkatnya ke atas sambil pelan-pelan mengarahkan lubang cincin kondom di tangan kiri untuk menumpahkan isinya ke mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasakan ada aliran dingin kental meleleh ke mulutku. Aku yakini yang telah meleleh tertumpah masuk ke rongga mulutku adalah sperma Oom Bonny. Hhoocchh.. Apa yang mesti kulakukan.. Hhoohh.. Nikmat macam mana yang kurasakan.. Hhoohh.. Jiwa terbang meretas khayal.. Nikmat yang tak ter-ampunkaann.. Oaachh.. Oocchh..</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terbang dalam nikmatnya puncak birahi.. Aku meraih apa yang kuinginkan.., Air mani Oom Bonny telah kukecapi dan kulumat. Air mani Oom Bonny telah larut dalam ludah mulutku.. Amppuunn.. Jangan tanya nikmatnyaa..</p>
<p style="text-align: justify;">Aku telah meracau tak keruan. Akan kukeringkan isi kondom itu. Dengan jempol dan jari kiriku aku menjepit bawah dotnya dan mengurutnya ke bawah. Gumpalan lendir kental yang besar jatuh kemulutku. Aku berkesempatan mengunyah-kunyah sebelum menelannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah kering kondom pertama, kuraih kondom ke dua dan seterusnya. Kulakukan apa yang pernah kulakukan. Gumpalan demi gumpalan sperma Oom Bonny kembali meleleh dalam mulutku, mengaliri tenggorokanku. Aku meminum seluruh sperma Oom Bonny yang ditinggalkan dalam kondom-kondomnya. Untuk meyakinkan bahwa benar-benar seluruhnya, kondom-kondom itu kubalik, basah lengketnya kembali kukenyoti hingga ludas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingin aku untuk melanjutkan nikmat dengan menyelesaikannya melalui ejakulasiku, namun masih banyak cadangan kenikmatan yang akan dan harus kutempuh. Kini aku cenderung menggantung ejakulasiku dan biar kubersihkan dulu meja makan. Aku terdorong ingin merasai kembali bekas bibir dan lidah majikanku pada sisa-sisa sarapan pagi mereka, pada tepian cangkir minum ataupu pada sendok atau garpu yang dilahapnya. Aku bangkit dari kondom-kondom yang masih terserak menuju meja makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan setengah telanjang sesudah membuka baju dan menyisakan celana dalamku, aku duduk di kursi dan mulai melahap sisa sarapan majikanku. Khayalanku terbang jauh mengajak lidahku menjilati ludah di bibir Oom Bonny. Aku mencoba untuk menyeruak kerongga mulutnya. Aku mencium aroma mulutnya dari sendok bekas makannya. Saat kudapatkan aku mengelusi dan memijat kemaluan di balik celana dalamku.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai sudah membersihkan sisa sarapan. Pada kesempatan ini aku berusaha untuk tetap tenang. Aku ingin menjemput kenikmatan syahwatiku secara maksimal. Aku akan melewati seluruh acara pokokku sebelum aku menapaki orgasmeku. Aku berdiri membersihkan meja makan dan membawa piring serta perabotan lainnya ke dapur. Kemudian aku melangkah menuju tempat pakaian kotor. Tetapi setelah melihat tumpukkan yang menggunung, aku pikir biarlah aku mencuci nanti saja sesudah hari siang. Aku sudah tak tahan untuk selekasnya menyelesaikan desakkan syahwatku. Kini aku hanya mengaduk pakaian-pakaian itu untuk mencari celana dalam, kutang dan singlet kotor yang bekas pakai majikanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah &#8216;keindahan eksotik&#8217;-ku. Barang-barang itu kukumpulkan kemudian kuamati satu-satu. Aku merasakan ada &#8216;cinta&#8217; pada barang-barang itu. Aku sepertinya sedang menghadapi Tante Indri yang cantik itu. Aku disuruhnya menciumi kakinya. Kemudian dia meludahi mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku disuruhnya melumat celana dalam kotornya. Dan kulakukan. Aku kini menunggu larutnya keringat yang asem dari celana dalamnya untuk larut ke ludahku. Aku telah siap melahapnya. Kemudian Oom Bonny juga menjejalkan celana dalam kotornya ke mulutku pula. Aku mengikatkan celana dalam Tante Indri untuk membekap hidungku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini hasrat syahwatku siap meledak. Aku ingin cari pelabuhan yang nyaman untuk melepaskan birahiku. Pakaian-pakaian kotor kubawa ke ranjang majikanku. Aku cepat rebah ke atasnya. Kuraih bantal atau guling. Aku mengkhayalkan seakan sedang menggauli Tante Indri atau Oom Bonny. Tanganku menjepiti penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencoba mengayun-ayunkan pinggulku pada bantal itu. Aku hirup dalam-dalam celana dalam Tante Indri yang jadi penutup hidungku. Tanganku semakin cepat mengocok dan mengelusi penisku. Aku mendesah-desah. Aku berguling-guling di kasur itu. Rasanya pandangan mataku mulai nanar. Aku melihat lagit-langit kamar yang berputar-putar dan semakin menjauh. Spermaku semakin mendesak ingin keluar. Aku percepat kocokkanku. Aku ingat kondom di lantai. Cepat kuraih. Tanganku buru-buru memasukkan kondom itu ke penisku. Aku membayangkan mengocoki kontol Oom Bonny. Yyyee.. Aaacchh.. Yaahh.. Yaahh.. Aacchh.. Yyoowwuujj.. Hhh..</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak tahu lagi. Aku terlempar ke awang gelap nikmat. Aku melotot terbuka tetapi tak ada yang kupandang dari mataku. Aku terbang mengawang.. Yang kurasakan kini spermaku yang merembet mendekati pintunya.. Dan aku beteriak.. Aku melolong.. Aku mengaduk kasur.. Tanganku menyobek celana dalam Oom Bonny.. Juga celana dalam Tante Indri.. Kuputuskan tali-tali kutang Tante Indri.. Mulutku berbusa menggigiti kondom bekas itu.. Aku ingin menelan kondom itu.. Hhoocchh..</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sedang terperangkap dalam pusaran syahwat yang sangat luar biasa. Semestinya aku pingsan. Ataukah sudah sadar? Aku terbangun. Aku ngompol? Ah.. Kenapa begini banyak cairan lendir keluar dari penisku. Celana dalamku sangat kuyup. Kuperhatikan. Rupanya aku juga terkencing bersamaan dengan ejakulasiku. Mungkinkah? Aku telah mengalaminya. Puncak kenikmatan birahi yang baru kulalui. Puncak semacam itu tak pernah kulalui untuk kedua kalinya. Aku tak pernah mengalaminya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Berhari-hari sesudahnya, kemudian berminggu-minggu berikutnya, bahkan kemudian berbulan-bulan dan seterusnya, setiap hari aku mengulangi apa yang kulakukan pada hari itu. Entah berapa galon sperma majikanku yang telah kutelan. Entah berapa liter keringat kering di celana dalam ataupun kutang yang larut dalam ludahku. Yang kutemui akhirnya hanyalah kenikmatan rutin.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat saudaraku yang tempo hari membawaku ke majikanku ini datang menjengukku dengan gembira dia berkomentar,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah, gemuk badanmu kini, No&#8221;, dia panggil aku Kusno. &#8220;Ya, sukurlah, kamu sehat. Banyak senang dan makan vitamin rupanya, ya?&#8221;,</p>
<p style="text-align: justify;">Yaa.. Begitulah, Mas. Majikanku banyak memberi aku vitamin. Pagi sisa sarapannya, agak siang membersihkan sperma dari kondom-kondomnya, siangnya dapat vitamin C dari asem celana dalam, kutang dan singlet mereka, begitu jawaban dalam hatiku dengan penuh geli.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu pagi aku dipanggil Oom Bonny. Dia telah mengurus sekolahku. Aku disuruh memilih, sekolah pagi atau sekolah siang. Kalau aku pilih pagi, aku mesti menyelesaikan tugas rumahku di siang harinya dan sebaliknya. Aku senang sekali tetapi mulutku terdiam. Aku sedang melamunkan berapa galon sperma Oom Bonny di depanku ini telah masuk ke perutku. Aku juga membayangkan bau celana dalamnya, asin keringatnya. Aku tak mau melewatkan kenikmatan-kenikmatan gratis yang selama ini aku dapatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bilang sama Oom Bonny,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku pilih yang siang saja, Oom&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulai besok siang aku akan kembali ke sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, Mei 2004</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/sang-pencuri-celana-dalam-itu-ku-masturbasi/">E N D</a><br />
<a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/makan-sperma-dari-kondom-majikan-1-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makan Sperma Dari Kondom Majikan 1</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/makan-sperma-dari-kondom-majikan-1/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/makan-sperma-dari-kondom-majikan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 01:27:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=545</guid>
		<description><![CDATA[Keinginan sekolah yang lebih tinggi kandas karena orang tuaku tak sanggup membiayai. Pada usiaku yang 16 tahun ini aku sudah jadi penganggur. Sejak selesai sekolah di desaku hingga hari ini aku belum dapat pekerjaan apapun. Aku pusing mikirnya. Jaman sekarang lulusan SMP macam saya ini mau jadi apa? Jadi ketika saudaraku yang telah lebih 5 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Keinginan sekolah yang lebih tinggi kandas karena orang tuaku tak sanggup membiayai. Pada usiaku yang 16 tahun ini aku sudah jadi penganggur.</strong> Sejak selesai sekolah di desaku hingga hari ini aku belum dapat pekerjaan apapun. Aku pusing mikirnya. Jaman sekarang lulusan SMP macam saya ini mau jadi apa? Jadi ketika saudaraku yang telah lebih 5 tahun tinggal di Jakarta bilang bahwa ada keluarga muda di Jakarta yang mau menerima aku sebagai pelayan, yaa.. Aku sangat girang banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Besoknya, sesudah aku minta ongkos pakdeku, aku berangkat ke Jakarta menyusul saudaraku itu. <strong>Sesudah sekedarnya menyesuaikan diri dengan udara Jakarta selama 2 hari di rumah saudaraku, dia mengantarkan aku ke rumah keluarga muda yang diceritakannya itu.</strong> Mereka sangat gembira menyambut kedatanganku. Mereka bilang sangat memerlukan bantuanku. Kalau aku mau mereka juga akan membantu aku melanjutkan sekolahku. Wah, wah, wah.. Mereka demikian baik padaku.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-545"></span>Pada mulanya aku menyebutnya Pak dan Bu pada pasangan muda itu, namun mereka ingin aku menyebut atau memanggilnya dengan Oom Bonny, yang usianya baru 28 tahun dan Tante Indri yang baru 24 tahun. Rumahnya kecil sesuai dengan keluarga mudanya yang memang baru menikah dan belum punya anak. Hanya ada 1 kamar tidur, ruang tamu dan ruang makan jadi 1 dan dapur kecil yang diatur di emperannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oom Bonny menunjukkan dimana tas pakaianku bisa ditaruh. Untuk tidur aku diberi kasur matras yang bisa digelar dimana aku suka di seputar ruang tamu itu. Aku senang dengan pengaturan itu karena aku bisa nonton televisi setiap saat. Bagiku TV adalah hiburan yang sangat menyenangkan. Maklum dirumahku nggak ada TV. Aku lega, merasa beruntung dan senang. Setidaknya, kini aku memiliki harapan. Setiap bulan aku akan ngantongi upahku yang Rp. 200.000, secara utuh karena untuk makan dan tidur aku tidak perlu mengeluarkan uang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan yang juga membuatku senang adalah keluraga muda yang kuikuti ini. Bayangkan saja, Oom Bonny orangnya ngganteng dan ramah dan Tante Indri, duh.. Cantik banget. Mereka benar-benar pasangan yang harmonis macam raden Arjuna dengan Dewi Subadra. Tugasku membersihkan rumah termasuk menyapu dan mengepel lantai, merapikan tempat tidur, cuci piring dan cuci pakaian. Aku sangat bersemangat untuk bisa memenuhi apa yang diharapkan Oom Bonny dan Tante Indri. Aku merasa sangat senang bisa berada di tengah keluarga muda ini. Aku merasa nikmat melakukan apapun yang diperintahkan oleh Oom Bonny maupun Tante Indri.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasakan ada semacam rangsangan yang hangat dan menyentuh kalbuku. Ah, lebih dari itu.. Rangsangan yang membuat hatiku jadi berdesir, kemudian detak jantungku menjadi lebih cepat. Suatu rasa yang nikmat seperti yang kurasakan saat aku melihat anak-anak laki atau perempuan mandi telanjang di kali desaku. Penisku ngaceng melihat mereka. Salahkah aku?</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah hari-hariku telah berjalan sesuai apa yang seharusnya berjalan. Dan aku semakin merasakan kerasan bekerja pada Oom Bonny dan Tante Indri. Aku semakin merasakan mereka itulah bentuk idolaku. Kalau lelaki ngganteng seperti Oom Bonny, kalau perempuan cantik seperti Tante Indri. Aku menjadi semakin &#8216;kesengsem&#8217; (terpesona hingga ke lubuk hati) pada mereka berdua. Dan kini aku mempunyai cara untuk menyalurkan &#8216;kesengsem&#8217;-ku. Pada pagi hari sesaat sesudah Oom Bonny dan Tante Indri berangkat kerja aku mendekat ke meja makan dengan hatiku yang berdesir-desir. Kulihat piring-piring dan gelas-gelas kotor sisa makanan mereka. Sendok dan garpu bekas makan Oom Bonny dan Tante Indri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubayangkan mulut, bibir, lidah atau ludah suami istri yang ngganteng dan cantik itu telah menyentuhi cangkir atau gelas, sendok garpu serta piring sisa sarapan itu. Penisku mulai tegang saat hasratku mendorong untuk membersihkan sisa makan dan minum Oom Bonny dan Tante Indri. Saat bibirku menyentuh pinggiran gelas itu aku merasakan seakan bibirku bersentuhan dengan bibir Bu Indri. Pinggiran gelasnya pasti telah bernoda bibirnya yang cantik banget itu. Aku seakan merasakan betapa harum mulut Tante Indri dan betapa manis ludahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat mulutku menyuap sendok atau garpu bekas Oom Bonny seakan aku merasakan aku melumat apa yang ada dalam mulutnya. Aku mencium aroma mulut yang ngganteng itu. Aku juga juga merasakan manis ludahnya. Kuhabiskan minuman dan makanan di meja untuk bisa merasai secara ber-ulang-ulang apa yang bisa menjadi ungkapan diriku dalam menyalurkan hasrat &#8216;kesengsem&#8217;-ku pada pasangan suami istri yang ngganteng dan cantik itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua itu kulakukan bukan semata-mata karena haus dan lapar. Hal itu kulakukan karena adanya dorongan yang membuat hatiku berdesir-desir. Desir-desir yang begitu nikmat seperti yang kurasakan saat melihati teman-teman desaku mandi telanjang di kali. Desir nikmat yang timbul disebabkan jiwaku &#8216;kesengsem&#8217; oleh lekuk liku tubuh-tubuh telanjang mereka yang membangkitkan hasrat syahwatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahh.. Aku mulai menyadari bahwa &#8216;kesengsem&#8217;-ku ini memang telah merebak dan menjangkit pada nafsu birahiku. Aku menekan lembut penis dalam celanaku yang semakin membengkak kalau memikirkan &#8216;kesengsem&#8217;-ku itu. Aku membayangkan betapa indahnya lekuk liku tubuh Oom Bonny dan Tante Indri apabila mereka telanjang. Pasti aku akan 1000 kali lebih &#8216;kesengsem&#8217;. Kalau sudah begini, &#8216;kesengsem&#8217;-ku hanya akan pupus kalau aku meneruskan elusan tangan pada penisku menjadi kocokkan. Aku segera duduk atau bersandar ke sofa ruang tamu, melepas atau mengendorkan celana dan mengeluarkan kemaluanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengkhayal, seolah-olah aku berkesempatan untuk rebah di selangkangan Oom Bonny dan menciumi pahanya yang indah banget itu. Atau aku nyungsep ke selangkangan Tante Indri, meng-&#8217;usel-usel&#8217;-kan hidung atau mulutku ke lembah dan lekukan indah di wilayah pertemuan antara paha dan pinggulnya itu. Tanganku akan terus meningkatkan kocokkan dan pijitannya hingga orgasmeku datang dan &#8216;pejuh&#8217;-ku muncrat membasahi jok sofa dan meleleh ke lantai. Legaa..</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi rupanya hidup di dunia ini tidak bisa terlepas dari perkembangan. &#8220;Kesengsem&#8217;-kupun juga terdesak untuk berkembang. Yang terjadi selanjutnya adalah, rasa &#8216;kesengsem&#8217;-ku itu terus melebar dan meninggi. Kini aku sudah mulai memperhatikan benda-benda pemicu syahwat lainnya. Saat aku membersihkan dan menyikat sepatu atau sandal Oom Bonny dan Tante Indri aku merasakan adanya getaran. Bau sepatu. Bau dalamnya sepatu itu. Duuhh.. Nikmat banget rasanya. Aku perhatikan betapa kaki Oom Bonny yang bersih dengan bulu-bulu halusnya berkeringat saat memekai sepatu itu. Dan keringatnya kini tinggal nempel dalam sepatunya, dalam bagian telapaknya. Saat birahiku menuntut, aku coba menjilati sepatu Oom Bonny. Kujilati dari luarnya. Kulit luar yang hitam mengkilat itu betapa telah mendukung ketampanan Oom Bonny. Aku merasa pantas untuk mengagumi melalui jilatan lidahku. Kemudian bagian telapak kakinya. Aku berusaha untuk bisa menjilat habis keringat-keringat telapak kaki Oom Bonny yang tertinggal di permukaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula saat aku membersihkan sepatu Tante Indri. Aku sangat terpesona dengan sepatu hak tingginya. Sepatu itu demikian indahnya saat membungkus kaki-kaki Tante cantik itu. Kini seolah-olah kaki Tante Indri menginjak-injak wajahku. Hak sepatunya itu kulumat-lumat. Aku akan membiarkan haknya untuk meruyak ke mulutku. Aku membayangkan Tante Indri duduk melipat kakinya di sofa sambil menunujukkan keindahan betisnya. Dan aku merangkak di lantai untuk menjilati sepatunya itu. Aku sering memilih menyalurkan birahiku kemudian merasakan orgasme dan ejakulasiku melalui sepatu-sepatu majikanku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga punya kewajiban untuk mencuci pakaian kotor Oom Bonny dan Tante Indri. Duuhh.. Aku sangat menikmati tugas ini. Mencuci tidak lagi aku anggap sebagai tugas berat. Aku bisa mencuci dengan hati senang seakan-akan mendapat mainan yang sangat menggembirakan aku. Aku suka sekali menciumi baju atau celana kotor Oom Bonny dan Tante Indri. Bau asem keringat mereka yang tertinggal di baju-baju itu benar-benar bisa membuat aku melayang-layang dalam langit nikmat yang tak terhingga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sekian macam pakaian kotor yang paling mendebarkan jantungku adalah celana dalam, kutang dan singlet mereka. Aku menciumi dan bahkan menjilat atau mengunyah-kunyah dalam mulutku bagian-bagian yang nampak paling dekil dan bau asem. Untuk jenis kemeja atau blus aku menciumi sambungan lengan yang banyak menyerapi keringat dari ketiak-ketiak mereka. Tidak jarang sepanjang mencuci celana dalam Oom Bonny atau milik Tante Indri kujadikan masker. Bau asem celana dalam mereka membekap hidungku. Celana dalam itu memberi aku semangat dan hasrat seksualku selalu menyala. Penisku terasa selalu hangat karena tegang oleh hasrat yang selalu menyala itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat birahiku tak lagi bisa kubendung, tanpa ragu aku akan naik keranjang majikanku itu, memeluki bantal atau gulingnya sambil terus mengunyahi atau menciumi benda-benda penuh syahwat itu. Tanpa ragu pula kukeluarkan penisku dari celana dan mengocoknya hingga pejuhku muncrat keluar. Wwoowww.. Aku benar-benar menyenangi pekerjaanku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu pagi Tante Indri kedatangan Bu Nunik teman akrabnya yang adalah tetangga satu RT yang tidak jauh dari rumah. Biasa, mereka suka saling bertandang dan ngobrol atau gosip berbagai macam hal. Aku sedang mengepel lantai ruang tamu saat pada celah-celah ngobrol mereka aku mendengar omongan Tante Indri. Dia dengan suaminya Oom Bonny telah sepakat untuk ikut program KB sejak awal pernikahan. Mereka belum mau punya anak sementara karir hidupnya belum benar-benar mapan. Yang menarik hatiku adalah, Tante Indri tidak suka minum pel KB dan juga nggak mau pasang spiral. Mereka memilih Oom Bonny memakai kondom saat berhubungan badan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sejak menikah yang telah berlangsung lebih dari 1 tahun, Mas Bonny selalu memakai kondom saja, mbakyu. Jadinya aku lebih senang dan nggak perlu khawatir soal alergi atau hal-hal lain yang menyangkut kesehatan. Lagian lebih nikmat, loh&#8221;, cerita Tante Indri yang diakhiri ketawa cekikikkan dari kedua orang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku nggak lagi tertarik pada apa yang diomongin mereka selanjutnya. Yang menjadi perhatian dan kemudian sangat membuat aku tertarik dan gelisah adalah Oom Bonny yang selalu memakai kondom saat berhubungan kelamin dengan Tante Indri. Yang membuat pikiranku melayang-layang adalah, dimana kondom-kondom yang bekas dipakai Oom Bonny itu. Dibuang ke mana?<br />
Apakah ada di keranjang sampah yang ada di kamarnya? Atau pada buntelan plastik kecil yang setiap pagi dilempar ke bak sampah di depan rumah oleh Tante Indri?</p>
<p style="text-align: justify;">Haahh.., kenapa tak pernah terlintas pada pikiranku mengenai kondom itu?! Pundak bahuku terasa merinding. Aku sudah mengkhayal jauh. Seandainya aku dapatkan kondom bekas pakai majikanku itu. Aku membayangkan isinya yang kental. Air mani Oom Bonny yang kental telah tumpah dalam kondom itu saat orgasmenya disusul dengan ejakulasinya ketika berasyik masyuk dengan Tante Indri. Aku tampar pipiku agar tidak terus melamun. Aku khawatir Tante Indri melihat aku saat melamun itu. Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Gambaran tentang kondom Oom Bonny sangat menggelisahkan syahwatku. Aku bertekad untuk mendapatkan kondom-kondom bekas Oom Bonny itu. Aku bertekad untuk bisa meneguk isi kondom-kondom itu. Aku bertekad untuk bisa merasakan sperma Oom Bonny dalam lumatan mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Besok paginya, aku sudah punya 3 acara pokok untuk hari itu. Pertama, membersihkan sisa makanan majikanku. Kedua, mencuci pakaian mereka. Dan ketiga, mencari kondom yang dipakai semalam oleh Oom Bonny. Pasti kondom yang penuh lendir yang keluar dari kemaluan Ooom Bonny.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu Oom Bonny bersama Tante Indri meninggalkan rumah menuju tempat kerja masing-masing aku langsung bergerilya. Ternyata urutan programku terbalik-balik. Aku sudah sangat diburu oleh hasrat syahwatku yang siap meledak. Aku sudah ingin mendapatkan kondom bekas itu. Darahku sudah demikian mendidih dan jantungku yang tak lagi berirama teratur. Seluruh saraf-saraf libidoku tampil dominan menguasai denyut saraf-saraf lain dalam tubuhku. Yang terus memburuku adalah bayangan cairan kental sperma Oom Bonny meleleh dari kondom bekasnya dan tumpah ke mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ke bagian 2<a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/makan-sperma-dari-kondom-majikan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pijatan Dan Masturbasi Mbak Tun</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/pijatan-dan-masturbasi-mbak-tun/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/pijatan-dan-masturbasi-mbak-tun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 23:21:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[Kurasa hampir semua orang pasti pernah merasakan dipijat, apa lagi para laki-laki hidung belang seperti sebagian besar pembaca http://toketgadis.com/ Kurasa sebagian besar dari mereka pasti punya langganan pemijat di panti-panti pijat yang menjamur di mana-mana.
Itulah enaknya jadi kaum laki-laki, ibaratnya seperti iklan minuman ringan, bisa di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Kurasa hampir semua orang pasti pernah merasakan dipijat, apa lagi para laki-laki hidung belang seperti sebagian besar pembaca http://toketgadis.com/</strong> Kurasa sebagian besar dari mereka pasti punya langganan pemijat di panti-panti pijat yang menjamur di mana-mana.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah enaknya jadi kaum laki-laki, ibaratnya seperti iklan minuman ringan, bisa di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.<strong> Ini berbeda sekali dengan kaumku, kalau badan pegal harus susah payah cari mbok pemijat yang belum tentu ada di setiap tempat, apa lagi di kota besar seperti Surabaya ini.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya kalau badanku terasa pegal-pegal, kuminta bantuan adikku untuk memijatnya. Kadang kami bergantian <strong>saling pijat.</strong> Tetapi hari ini rumahku sedang kosong. Adikku masih kuliah sedangkan orang tuaku belum pulang dari tugas rutinnya mencari nafkah.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-534"></span>Hari ini aku agak sedikit kurang enak badan. Terasa sekali badanku pegal-pegal, namun di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Kucoba bertanya kepada tetangga kanan kiri barangkali ada yang tahu kalau-kalau ada tetangga sekitar yang bisa memijat. Sebenarnya aku tahu bahwa di ujung gang sana ada seorang tukang pijat yang terkenal di sekitar rumahku, tapi laki-laki, namanya Pak Mat. Tidak bisa kubayangkan bahwa tubuh molekku ini bakal dipijat oleh seorang tukang pijat laki-laki, bisa-bisa yang dipijat nanti hanya di daerah-daerah tertentu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku dapatkan juga seorang tukang pijat wanita. Namanya Mbak Tun yang rumahnya juga tidak begitu jauh dari rumahku. Kucoba untuk mendatangi rumah Mbak Tun yang jaraknya hanya sekitar dua ratus meter dari rumahku. Kebetulan Mbak Tun ada di rumah dan bersedia datang ke rumah untuk memijatku. setelah berganti pakaian dan membawa sedikit perlengkapannya, Mbak Tun mengikutiku pulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Tun usianya masih relatif muda, hanya sedikit lebih tua dariku. Perkiraanku Mbak Tun saat ini berusia sekitar 35 tahun. Namun di usianya yang relatif masih muda itu Mbak Tun sudah menjanda. Ia hidup bersama ibunya, satu-satunya orang tuanya yang masih tersisa.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Tun sudah 6 tahun bercerai dengan suaminya yang telah kawin lagi dengan wanita lain karena perkawinannya dengan Mbak Tun tidak dikaruniai anak. Cerita tentang Mbak Tun ini kuperoleh dari Mbak Tun sendiri saat memijat tubuhku. Sambil memijat Mbak Tun bertutur tentang kehidupannya padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Walau tinggal di Surabaya, Mbak Tun tetap seperti layaknya orang udik, pengalamannya masih sedikit sekali soal dunia modern, namun untuk urusan sex sepertinya Mbak Tun punya cerita tersendiri. Semuanya akan kukisahkan pada ceritaku kali ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di rumahku, Mbak Tun kuajak langsung masuk ke kamarku yang sejuk ber-AC. Suhu udara di luar sana bukan main panasnya, beberapa bulan terakhir ini kota Surabaya memang sedang dilanda cuaca panas yang luar biasa, konon panasnya mencapai 37 derajat celcius.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubuka kancing hemku dan kutanggalkan hingga bagian atas tubuhku yang mulus terpampang dengan jelas sekali. Payudaraku tampak segar dan ranum dengan ujung puting susuku yang bersih berwarna merah muda sedikit kecoklatan. Rok miniku juga kutanggalkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini tubuhku sudah hampir telanjang bulat, hanya tersisa CD yang kukenakan. Mata Mbak Tun tampak terkagum-kagum pada bentuk tubuhku yang ramping dan sexy, terlebih saat melihat bentuk CD-ku yang mini itu. Aku saat itu memakai G String berenda yang ukuran rendanya tak lebih dari seukuran satu jari melingkari pinggangku, selebihnya sepotong rendah yang tersambung di belakang pinggangku, turun ke bawah melewati belahan pantatku, melingkari selangkanganku hingga ke depan. Tepat di bagian vaginaku, terdapat secarik kain berbentuk hati kecil yang keberadaannya hanya mampu menutupi bagian depan liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu aku tengkurap di tempat tidur dengan hanya memakan CD. Mbak Tun mulai memijat telapak kaki, mata kaki, betis, naik lagi ke pahaku. Awalnya aku biasa-biasa saja, pijatan tangannya juga terasa pas menurutku, tidak terlalu lemah dan juga tidak terlalu keras yang dapat menyebabkan terasa lebih sakit setelah dipijat. Menurutku, cara memijat Mbak Tun cukup baik. Setelah memijat kaki kanan, kini Mbak Tun berpindah memijat kaki kiriku, urutannya seperti tadi. Kini giliran pahaku bagian atas yang dipijat juga kedua belahan pantatku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbak! CD-nya kok modelnya lucu ya?&#8221; tanya Mbak Tun lugu mengomentari bentuk CD-ku.<br />
&#8220;Emangnya kenapa Mbak Tun?&#8221; tanyaku padanya.<br />
&#8220;Oh enggak Mbak! Kalau dipakai kok seperti tidak pakai CD aja ya? Bokong (pantat) Mbak tetap kelihatan, dan bagian depannya, jembut (bulu kemaluan) Mbak juga kelihatan, Hii.. Hii.. Hii..! Kalau aku sih tidak berani pakai CD yang model begitu&#8221;, oceh Mbak Tun masih mengomentari bentuk CD yang kupakai saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mengngoceh dan bercerita, tangan Mbak Tun tetap memijat pahaku. Yang kini dapat giliran adalah pahaku bagian atas, tepatnya di daerah pangkal paha dan belahan pantatku. Aku sengaja tidak menjawab ocehannya karena aku ingin menikmati pijatannya. Sambil sedikit tiduran, mataku kupejamkan saat dipijat Mbak Tun.</p>
<p style="text-align: justify;">Letak kedua kakiku dibentangkan terpisah agak lebar sehingga posisi pahaku terbuka. Mbak Tun memijat bagian dalam pahaku yang bagian atas dekat selangkanganku hingga aku merasakan sedikit geli, tapi enak sekali. Selain pegalku di bagian kaki dan paha mulai sedikit berkurang, aku juga mulai merasakan horny, apa lagi saat jari-jari Mbak Tun memijat bagian pangkal pahaku. Jarinya sempat menyentuh gundukan vaginaku hingga rasanya ujung CD-ku mulai lembab. Untungnya Mbak Tun sudah mulai pindah posisi memijat punggungku, naik ke leher dan berakhir di kepalaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai memijat bagian belakang tubuhku, Mbak Tun mengambil body lotion dan dioleskannya ke kaki dan pahaku. Rasanya sedikit dingin saat mengenai kulitku. Kalau tadi memijat, kini Mbak Tun ganti mengurut tubuhku mulai dari telapak kaki, betis hingga pahaku. Kembali saat mulai mengurut pahaku bagian atas aku merasa geli, terlebih saat paha bagian dalamku yang diurut olehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbak! CD-nya dilepas aja ya, toh percuma pakai CD cuma sepotong begitu, lagian kita kan sama-sama wanita dan tidak ada orang lain di kamar ini, soalnya nanti kena hand body nyucinya susah&#8221;, pinta Mbak Tun padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menjawab, kumiringkan sedikit tubuhku sambil sedikit membungkuk. Kubuka CD-ku dan kulepas dengan bantuan ujung kakiku. Kini aku telah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhku. Posisiku kembali tengkurap menunggu tangan Mbak Tun kembali mengurut tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Tun kembali ke tugasnya mengurut bagian bawah tubuhku yang sudah dilumuri body lotion tadi. Jarinya kembali bersarang di pangkal pahaku bagian dalam, sambil sekali-sekali mengurut kedua gundukan pantatku. Aku tidak hanya merasakan pegalku mulai berkurang, namun aku juga merasakan seperti ada suatu rangsangan tersendiri menyerang tubuhku bagian bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulutku menggigit bantal yang kupakai untuk menopang daguku saat tengkurap karena menahan rasa geli di selangkanganku, manakala jari tangan Mbak Tun menyentuh bibir vaginaku. Terkada sentuhannya masuk lebih dalam lagi hingga menyentuh celah belahan bibir vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus terang liang vaginaku mulai bawah hingga cairan bening tak terbendung mulai membasahi liang dan dinding dalam vaginaku. Saat mengurut gundukan pantatku, seakan dengan sengaja jari Mbak Tun disentuhkannya ke vaginaku kembali hingga ujung jarinya sempat menyenggol ujung klitorisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jadi tersiksa sekali karena menahan hasrat birahi yang timbul akibat sentuhan tangan dan jari Mbak Tun saat memijat dan mengurut bagian bawah tubuhku. Untungnya urutan Mbak Tun segera pindah ke punggungku, terus naik ke leher dan kembali berakhir di kepalaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau di bagian atas tubuhku, aku masih tidak merasakan suatu rangsangan seperti tadi. Namun rupanya setelah selesai memijat kepalaku, Mbak Tun kembali memijat dan mengurut kedua bongkahan pantatku, yang tentunya pangkal pahaku kembali menjadi sasarannya pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak kuasa menolak, karena selain kupikir Mbak Tun toh juga seorang wanita, dan juga normal karena pernah bersuami walau sudah lama bercerai. Aku toh akhirnya juga menikmati semua sentuhan tidak disengaja maupun mungkin disengaja saat jari-jari tangannya mengusap bagian luar vaginaku. Sampai akhirnya aku benar-benar tidak tahan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah! Cukup! Terima kasih ya Mbak&#8221;, ujarku akhirnya.<br />
&#8220;Kok sudah toh Mbak?&#8221;, Tanya Mbak Tun padaku.<br />
&#8220;Bagian depannya belum diurut lho! Ayo telentang Mbak, kuurut sebentar perutnya supaya ususnya tidak turun&#8221;, tambah Mbak Tun dengan sedikit memerintah.</p>
<p style="text-align: justify;">Herannya aku menurut juga. Dan lalu aku pun telentang di hadapan Mbak Tun. Mbak Tun mulai kembali mengolesi body lotion ke bagian dada dan perutku. Mbak Tun langsung mengelus bagian atas dadaku dekat leher sedang jarinya mengurut ke bawah ke arah payudaraku. Kemudian area sekitar payudaraku juga diurut lembut mirip elusan. Aku yang sudah horny sejak tadi jadi lebih blingsatan lagi hingga akhirnya aku tidak tahan untuk tidah mengaduh.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduuh! Geli Mbak!&#8221; protesku, tapi Mbak Tun diam saja sambil terus mengurut pinggiran payudaraku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian perutku diurut dari setiap penjuru mengarah ke pusar. Kini giliran pahaku diurut oleh Mbak Tun. Cara mengurutnya naik ke atas menuju pangkal paha, letak kakiku dipisahkan agak lebar sehingga posisiku lebih terkangkang lagi. Mbak Tun terus mengurut pahaku. Saat mengurut bagian dalam pahaku, aku menggeliat tak karuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Mbak Tun mengurut mulai tepat di atas vagina menuju pusarku. Katanya ini adalah untuk menaikkan usus dalam perutku agar supaya tidak turun ke bawah. Aku diam saja tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, terus terang pijatannya memang enak hingga pegal yang ada di tubuhku sedah tidak terasa lagi. Namun selain itu aku juga mendapatkan rangsangan seksual dari cara Mbak Tun mengurutku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah, sekarang yang terakhir&#8221; kata Mbak Tun sambil membuka lebar pahaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Tun berpindah posisi duduknya. Kini dia berjongkok tepat di hadapan selangkanganku yang terkangkang lebar. Kedua tangannya secara bersamaan mengurut kedua pahaku, dari arah lutut menuju selangkangan hingga aku jadi menggeliat tidak karuan menahan geli.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kedua ibu jarinya mengurut-urut celah lipatan selangkangan dekat vaginaku dengan cara mengurutnya dari bawah ke atas terus berulang-ulang. Bibir vaginaku menjadi saling gesek karenanya hingga rangsangan dahsyat melanda bagian bawah tubuhku dan akhirnya aku tak kuasa lagi mengendalikan nafsu birahiku sendiri hingga tanpa perlu merasa malu lagi pada Mbak Tun, jariku kuarahkan ke klitorisku dan terus kugosok-gosokkan sambil mengangkat dan menggoyang-goyang pantatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku akhirnya orgasme di hadapan Mbak Tun. Persetan kalau mau dia tertawa, bathinku. Namun ternyata Mbak Tun tetap cuek saja sampai aku selesai melepaskan orgasme. Lalu kubayar ongkos Mbak Tun memijatku dan kuminta dia untuk pulang sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">E N D<br />
<a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/pijatan-dan-masturbasi-mbak-tun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertama Kali Merasakan MASTURBASI Itu&#8230;</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/pertama-kali-merasakan-masturbasi-itu/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/pertama-kali-merasakan-masturbasi-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 21:22:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Aku mengucapkan terima kasih kepada para pembaca 17Tahun.com yang begitu antusias mengirimkan email padaku. Terus terang aku cukup kerepotan membalas ratusan email setiap harinya, bahkan belakangan sudah cukup banyak juga pembaca iseng yang menerorku.
Ini semua sebenarnya kesalahanku juga, karena aku langsung mencantumkan nomor HP-ku pada setiap balasan email yang masuk. Terus terang aku tidak menyangka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku mengucapkan terima kasih kepada para pembaca 17Tahun.com yang begitu antusias mengirimkan email padaku. <strong>Terus terang aku cukup kerepotan membalas ratusan email setiap harinya, bahkan belakangan sudah cukup banyak juga pembaca iseng yang menerorku.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ini semua sebenarnya kesalahanku juga, karena aku langsung mencantumkan nomor HP-ku pada setiap balasan email yang masuk.<strong> Terus terang aku tidak menyangka kalau diantaranya banyak pembaca yang &#8220;liar&#8221;, mereka bukannya memenuhi persyaratan yang kuminta malah langsung saja main telepon seenaknya mencariku. </strong>Dengan kata-katanya kasar, main langsung mengajak ML, mereka pikir aku ini barangkali cewek murahan? Maka mulai saat ini setiap email yang masuk tetap kubalasdengan mengajukan persyaratan, namun tidak kububuhi nomor HP-ku lagi. Kalau memang mereka serius dan sudah memenuhi persyaratanku, baru kukirimi nomor HP dan fotoku.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-536"></span>Jadi mohon maaf bagi para pembaca lain yang sebenarnya baik dan sopan terpaksa kena imbasnya juga. Lewat tulisanku ini, aku mohon maaf dan mohon maklum karena semua ini demi kebaikanku juga. Terus terang privasiku jadi sangat terganggu oleh telepon iseng yang menghubungi HP-ku hampir tiap menit selama 24 jam sehari, bisa anda bayangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata banyak juga cewek yang mengirimkan email padaku. Mereka bercerita tentang pengalamannya, juga menanyakan kehidupan pribadiku, khususnya kehidupan sex-ku selama ini dan sebagainya. Ada yang meminta agar aku juga menulis tentang pengalaman sex-ku yang pertama kalinya. Kupikir ada baiknya juga aku menulis tentang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum aku mengisahkan tentang pengalaman pertamaku bermain sex dengan pasangan, ada baiknya aku ceritakan dulu pengalaman pertamaku bermain sex solo atau bermasturbasi, karena jauh hari sebelum aku melakukan hubungan sex, aku sudah sering melakukan masturbasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sejak kecil memang sudah tidak suka dan tidak pernah mau memakai BH. Kebiasaan ini berlanjut hingga kini. Hal ini tentu membuat kedua orang tuaku jadi kelabakan. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, aku hanya memakai kaos singlet di dalam hem seragam sekolahku. Mungkin kebiasaan memakai singlet sejak kecil inilah yang membuatku hingga saat ini lebih leluasa memakai T Shirt yang lebih mirip singlet itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula saat aku duduk di bangku SMU, aku juga hanya memakai kaos singlet di dalam hem seragam sekolahku. Memang agak mending sih, ketimbang aku hanya langsung memakai hem saja tanpa BH di dalamnya, jadi fungsi kaos singletku adalah sebagai pengganti BH.</p>
<p style="text-align: justify;">Soal CD memang sejak usiaku masih anak-anak, aku lebih suka yang model sexy, namun saat SD aku tidak bisa berkutik karena Mamaku yang selalu membelikan semua kebutuhanku. Baru sejak SMP aku sudah bisa memilih model CD kesukaanku sendiri, karena saat itu aku sudah dipercaya untuk membeli kebutuhanku sendiri, walau uangnya tetap kudapat dari kedua orang tuaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awalnya saat aku masih SMP, model CD yang kubeli masih biasa-biasa saja, karena untuk CD yang mini seperti model berenda atau G String rata-rata harganya masih sangat mahal untuk anak seusiaku, apa lagi aku dari kalangan keluarga yang hidupnya hanya pas-pasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru saat SMU aku bisa membeli dan memakai CD yang kuidam-idamkan dari sejak masih kecil, karena saat itu uang sakuku juga sudah mulai agak banyak, jadi aku bisa menabung dulu untuk membeli penutup alat vital yang kuidam-idamkan itu. Dan saat SMU-lah aku mulai terbiasa dengan memakai rok mini sebagai seragam sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pokoknya sejak aku SMU-lah aku merasakan merdeka, bisa memiliki dan memakai CD berenda atau G String yang kuidam-idamkan. Bayangkan saja modelnya, keduanya hampir sama mininya, hanya yang satu berenda dan yang lainnya G String terbuat dari seutas tali nylon. Saat kukenakan melingkari pinggangku, yang model G String sedikit ada perbedaan, ada ikatannya di samping kanan dan kiri pinggangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua modelnya seperti bikini yang amat sangat mini, hanya ada secarik kain berbentuk segi tiga di bagian depan, fungsinya hanya mampu menutupi bagian depan liang vaginaku. Sedangkan CD berenda yang kumiliki bagian depannya berbentuk hati kecil dengan renda di pinggirannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu SMP masih belum seberapa, namun baru saat aku SMU banyak teman sekolahku, baik teman sekelas atau dari kelas lain termasuk para guruku, sering menelan ludah saat aku lewat di hadapan mereka. Karena saat SMP rok bawahanku masih biasa-biasa seperti layaknya murid wanita yang lain, namun saat SMU aku sudah berani memakai rok mini saat sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Awalnya pihak sekolah memang melarang, namun lama kelamaan pihak sekolah mungkin bosan juga, atau mungkin juga kepala sekolahku merasa ada baiknya bisa ikut menikmati memandang pahaku yang mulus (Haa.. Haa.. Haa..!). Bukan GR lho, aku sejak kecil memang sudah cantik dan selalu menjadi bintang sekolah, bukan hanya bintang di kelas saja. Banyak cowok teman sekolahku yang menaksirku tapi mereka harus mundur dengan patah hati karena aku memang tidak mau terikat sejak dulu. Aku paling tidak suka dengan cowok yang egois, yang jika merasa sudah dekat denganku lalu yang lain tidak boleh lagi mendekatiku. Aku ingin dapat berteman tanpa ada ikatan apa lagi paksaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama kali aku mengenal permainan sex adalah saat aku masih SMU, bukan sex sungguhan sampai ML. Maksudku, kami hanya sampai petting hingga oral sex saja, istilahku saat itu SSKTR (Sex Sex Kecil Tanpa Resiko). Bagaimana kisahnya, nanti akan kuceritakan pada kisahku yang akan datang, untuk kali ini aku akan menceritakan pengalaman masturbasiku yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pertama kali melakukan masturbasi saat masih duduk di bangku SMP. Aku sudah lupa waktunya, namun aku masih ingat saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMP. Sebenarnya ada teman sekelasku yang kutaksir saat itu, namanya Joko. Anaknya pandai. Dia menjadi temanku saat kelas dua, karena saat masih kelas satu dia bersekolah di Solo, dan baru pada kelas dua orang tuanya pindah tugas ke Surabaya hingga Joko pun harus ikut pindah sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak teman-teman cewekku yang juga menaruh perhatian pada Joko namun Joko anaknya cuek saja. Tidak seperti teman-teman cowokku yang saat itu yang sudah mulai puber dan banyak tingkahnya, Joko anaknya tenang, lebih pendiam dan sedikit berwibawa. Mungkin ini juga yang membuat teman-teman cewek lainnya jadi penasaran padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat-saat aku di rumah, aku sering membayangkan bagaimana kalau seandainya Joko mencium bibirku, meremas payudaraku yang sudah tumbuh membesar itu. Bahkan aku juga membayangkan bagaimana kalau seandainya jari-jari tangan Joko membelai selangkanganku, menyentuh vaginaku yang bagian luarnya sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku hanya bisa berandai-andai saja, namun aku juga tidak mengerti apakah itu yang dinamakan cinta atau hanya nafsu. Namun itulah yang kurasakan saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat mandi aku mulai sering meraba-raba payudara, selangkangan dan daerah erogenku yang lainnya. Namun aku belum pernah melakukan sesuatu sampai satu saat aku mengalami orgasme, bahkan saat itu aku pun belum tahu apa itu orgasme dan sebagainya. Aku semakin hari semakin asyik merabai tubuhku sendiri hingga aku mulai tahu dimana saja letak bagian tubuhku yang paling nikmat kalau disentuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku paling senang memainkan klitorisku dengan ujung jari sambil meremas-remas payudaraku. Liang vaginaku selalu becek kalau aku melakukan hal seperti itu. Ada cairan bening merembes keluar dari dalam liang vaginaku keluar membasahi sekitar selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin berani menggesek-gesekkan jari ke belahan bibir vaginaku, sambil membayangkan kalau semua ini dilakukan oleh Joko. Kalau di kamar mandi aku selalu mengoleskan sabun cair dulu di seputar bagian luar vaginaku. Lain lagi kalau kulakukan di atas tempat tidur, sering kugunakan hand body lotion dulu, kulumuri di seputaran selangkanganku baru aku melakukan aktifitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Licinnya sabun cair atau body lotion tersbut menjadi lebih licin lagi saat bercampur dengan cairan bening yang mengalir keluar dari dalam liang vaginaku saat aku sudah mengalami nafsu yang sangat tinggi. Kumainkan klitorisku dengan ujung jari, kugesek-gesekkan sambil tanganku yang satu lagi tetap meremas-remas payudaraku dan memilin-milin puting susuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasakan sesuatu yang terasa akan meledak keluar dari dalam tubuhku, desakannya semakin lama semakin kuat hingga membuatku menggeliat tidak karuan. Bibirku terus mendesah menceracau bagaikan anak kecil yang tiba-tiba terserang demam yang tinggi, sampai akhirnya aku mengalami rasa ingin pipis, namun yang terjadi adalah adanya kedutan-kedutan di vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Badanku menggigil hebat sekali, kurasakan ada sesuatu yang tumpah keluar dari dalam rahimku memenuhi seluruh bagian dalam liang vaginaku, membasahi dinding-dinding dalam vaginaku. Aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan orgasme? Yang jelas setelah itu aku mengalami kelegaan yang amat sangat luar biasa. Bebanku menjadi hilang, badanku menjadi ringan, pokoknya sulit dilukiskan dengan kata-kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Belakangan baru kutahu bahwa itulah yang dinamakan orgasme, karena hal-hal itu makin sering kualami, paling tidak tiga kali dalam seminggu aku mengalami hal seperti itu, karena hampir tiga kali dalam seminggunya aku selalu melakukan masturbasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus terang saat masih SMP aku belum berani membiarkan teman cowokku menyentuhku walau sebanarnya dalam hati ingin sekali, namun aku masih takut akan aturan dan norma-norma pada saat itu. Apa lagi saat itu aku masih perawan dan pada anak seusiaku sudah ditanamkan betapa pentingnya arti sebuah keperawanan bagi anak gadis.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini pun mempengaruhi juga caraku melakukan masturbasi. Aku tidak berani memasukkan ujung jariku ke dalam liang vaginaku, karena aku takut keperawananku akan terenggut oleh jari-jariku sendiri. Padahal pada saat-saat tertentu saat bermasturbasi, ingin sekali rasanya aku memasukkan jariku ke dalam liang vaginaku yang terasa sangat gatal ingin digaruk saja rasanya. Biasanya hal ini terjadi pada saat aku hampir mengalami orgasme. Dorongan seperti itu datangnya kuat sekali. Tapi untungnya semua mampu kuatasi, aku bisa mencapai puncak kepuasan hanya dengan memainkan klitorisku dengan ujung jariku. Sementara jari tangan kiriku memainkan klitoris, jari tangan kananku menggosok-gosok belahan bibir vaginaku. Atau saat jari sebelah tanganku memainkan klitoris, tanganku yang lain meremas-remas payudaraku sambil sesekali memilin-milin puting susuku. Libidoku sejak SMP memang sudah sangat tinggi, aku paling tidak tahan kalau tidak melakukan masturbasi tiga kali dalam seminggu, rasanya selalu ingin uring-uringan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah sedikit pengalamanku pertama kalinya melakukan masturbasi. Kisah ini kutulis untuk memenuhi beberapa rekan pembaca wanita yang mengirimkan emailnya padaku. Sekali lagi aku mohon maaf kepada para pembaca yang mengirimkan email padaku, kali ini aku tidak dapat memberikan nomor HP-ku dulu sebelum kalian penuhi persyaratan yang kuajukan, terima kasih!</p>
<p style="text-align: justify;">E N D<br />
<a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/pertama-kali-merasakan-masturbasi-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pencuri Celana Dalam Itu Ku MASTURBASI</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/sang-pencuri-celana-dalam-itu-ku-masturbasi/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/sang-pencuri-celana-dalam-itu-ku-masturbasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 18:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=538</guid>
		<description><![CDATA[Setiap ada kesempatan, sejak saat itu aku selalu berpesta pora dengan baju-baju kotor penghuni kos Dudi, aku benar-benar ketagihan dengan bau memek Mbak-Mbak itu, bau khas ketiak masing-masing, bau apek keringat baju dalam setelah seharian kerja. Untuk anak seusiaku yang baru tumbuh pesat gelora nafsu sexnya, mungkin aku merasa beruntung karena dengan bayanganku sudah bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Setiap ada kesempatan, sejak saat itu aku selalu berpesta pora dengan baju-baju kotor penghuni kos Dudi, aku benar-benar ketagihan dengan bau memek Mbak-Mbak itu, </strong>bau khas ketiak masing-masing, bau apek keringat baju dalam setelah seharian kerja. Untuk anak seusiaku yang baru tumbuh pesat gelora nafsu sexnya, mungkin aku merasa beruntung karena dengan bayanganku sudah bisa membaui, menjilati, menciumi seluruh tubuh bahkan sampai ke liang-liang vagina gadis-gadis cantik itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak jarang karena kesempatan di rumah Dudi terbatas, maka aku membawa pulang sepotong dua potong celana dalam dari keranjang baju kotor itu ke rumah, <strong>kugantikan celana dalamku dengan celana dalam wanita &#8216;pinjamanku&#8217;, rasanya lebih nyaman dan menggairahkan hidupku saat kupakai.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-538"></span>Sebelum aku membawa pulang salah satu celana dalam Mbak-Mbak cantik calon &#8216;korbanku&#8217;, terlebih dahulu aku harus mengetahui jadwal mencuci mereka, sehingga bila jadwal mencuci mereka Minggu, maka aku dengan bebas &#8216;meminjam celana dalam itu&#8217; sebelum hari Minggu. Tetapi meskipun jarang sekali, ada juga yang tiba-tiba mengubah jadwal mencucinya sehingga aku kelimpungan juga saat akan mengembalikan celana dalam itu, waktu kuambil dari keranjangnya masih terlihat bertumpuk baju kotor lainnya, saat kukembalikan terlihat kosong. Aduh! Pasti dia mencari-cari dong! Aku takut kalau dia merasa kehilangan lantas mengamankan keranjang baju kotornya dengan mengunci di dalam kamar, sial bener kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Untunglah mereka kelihatannya tidak terlalu peduli, apalagi kalau koleksi celana dalamnya mirip-mirip gitu, aku bisa mengembalikan di jadwal mencuci minggu depannya. Tapi aku tetap harus hati-hati kan? Yang paling mengasyikan adalah bila ada salah satu penghuni kos yang akan pindah keluar, maka bisa dipastikan celana dalam kotornya akan kusikat untuk kenang-kenangan, so informasi dari Dudi sangat membantuku mengetahui siapa saja yang akan pindah kos.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah koleksiku ada belasan dan aku sudah hampir lulus SMP, kebiasaanku mengoleksi celana dalam kuhilangkan, takut ketahuan ibuku, apalagi Ibuku saat aku semakin dewasa semakin rajin menggeledah kamarku, ah malas kalo tiap hari perasaan ini menjadi was-was terus, lagipula celana dalam Mbak Lina, Mbak Dian, dan lainnya sudah berkurang kekuatan &#8216;magis&#8217;nya untuk meletupkan birahiku. Apa mungkin bau spermaku yang mendominasi ya? Aku lebih suka &#8216;pinjam&#8217; saja, meskipun kisah selanjutnya di bawah ini kadang menjadikanku harus merasa jadi seperti &#8216;pencuri&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini, aku sudah duduk di bangku kuliah, kenangan saat remaja itu kambuh lagi, tentu dengan pengetahuan dan fantasi yang jauh lebih lengkap, sekarang bila aku mendapatkan celana dalam kotor, tak akan kucoba untuk memakainya (jarang, habis celana dalam sekarang mungil-mungil takut sobek, sedang badanku sekarang 3 kali lipat lebih besar daripada yang dulu, begitu juga kontolku, haha).</p>
<p style="text-align: justify;">Kugenggam erat dan kulipat sedemikian rupa hingga seluruh celana dalam itu tertutup rapat dalam genggaman tanganku, aku merasa menguasainya dengan sempurna, semakin lembut bahan pembuatnya semakin kecil pula remasan yang bisa dilakukan. Setelah itu kuhirup seluruh aroma keringat mulai dari karet-karet berenda yang melingkar di antara lekuk pinggang wanita sampai pada lipatan paha yang biasanya basah oleh keringat itu, kemudian baru kuciumi seluruh permukaan bagian bawah celana dalam itu yang biasanya sedikit menyisakan lendir tipis menyegarkan, dan terakhir kujilati dengan rakus bagian selangkangan dengan sesekali menghirup udara sedalam mungkin untuk menangkap aroma kewanitaan yang ditinggalkan oleh si empunya celana dalam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kukocok dengan perlahan kontolku yang semakin mengeras dan kuusap-usapkan pada seluruh bagian celana dalam itu sambil merasakan kelembutannya. Sementara bila aku ada kesempatan untuk mendapatkan lebih dari satu celana dalam, maka yang satunya kusarungkan di kepalaku dengan bagian memek di dekat hidung, agar aroma yang mendebarkan itu memberikan rasa horny yang luar biasa, sesaat bila kocokanku semakin cepat maka kulepas celana dalam di kepalaku dan kunikmati lendir-lendir lezat yang ada di sekitar penutup memek itu dengan hirupan-hirupan &#8216;maut&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat pikiranku mulai memasuki zona nikmat, maka yang ada di benakku adalah jeritan pemilik celana dalam itu yang begitu terengah-engahnya melawan rasa nikmat saat lidahku mulai menjalari seluruh vaginanya meninggalkan ludah yang berceceran membasahi rambut-rambut kemaluannya, sehingga tampak segar menggairahkan. Kusedot dengan irama indah itilnya yang mulai mencuat dengan kelembutan yang perkasa.</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh oh Tanto, benamkan seluruh wajahmu ke dalam selangkanganku!&#8221; teriak Shinta si pemilik celana dalam warna kuning motif kupu-kupu itu dengan memelas.<br />
&#8220;Hirup dan jilat semua lendir yang keluar dari memekku ini tanpa tersisa sayangku, ahk ahk&#8221;, ceracaunya menahan orgasme yang menyerangnya bertubi-tubi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Ika pemilik celana dalam mungil warna hijau, dengan motif komik bocah bandel &#8216;Shin Chan&#8217; mulai menyemangatiku..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sayang, ah betapa nikmat kontolmu mengaduk-aduk memekku yang mungil ini, ssh terus honey.. Ssh jangan berhenti cintaku.. Ohh oh&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Badan Ika terguncang-guncang keras naik ke atas dan ke bawah. Ika dengan postur tubuhnya yang mungil membuat seakan memeknya tertancap sesak di kontolku yang begitu besar, sehingga badannya terombang-ambing mengikuti irama sodokan kontolku yang menyerang memeknya tak henti-henti, lantas aku menyuruhnya untuk merangkul erat pinggangku sambil mengulum dan menjilati puting susuku agar mulutnya yang juga mungil itu sedikit teredam mengaduh nikmat. Kecupan liar Ika membuat dadaku seolah ditato warna merah tua bergambar bibir mungil. Setelah berpacu dalam nafsu beberapa lama, maka aku mulai merasakan desakan nikmat dari kontolku..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aah, manisku aku mau keluar nih!&#8221; teriakku histeris.<br />
&#8220;Akh, kita juga sayang!&#8221; teriak mereka parau, mungkin otak yang mengatur suara mereka sepertinya konslet tak terkontrol karena keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka mencaci, mencakar, menggigit dengan binal saat mencapai puncak kenikmatan..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Setan kamu, sayangku, oh habiskan cepat! Minum kencingku juga lendirku, ahk oh oh akh!&#8221;, umpat Shinta sambil menjambak rambut dan membenam-benamkan dengan kasar kepalaku ke dalam selangkangannya yang terbuka lebar penuh bulu itu.<br />
&#8220;Aduh! Aduh! Sakit tau nggak! Kontol Kakak brengsek tapi enak!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kepala Ika dengan wajah imut menggemaskan tengadah ke atas sambil meringis sakit karena kontolku yang besar itu menghunjam tanpa ampun mengisi seluruh liang vaginanya yang masih perawan sampai sedalam-dalamnya sambil menyemburkan semprotan-semprotan peju hangat yang memenuhi rahimnya, rasa nikmat amat sangat saat orgasme mengalahkan nyeri koyaknya keperawanan Ika.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menekan sekuat tenaga pantatku supaya hunjaman kontolku benar-benar sempurna mentok ke dalam vagina Ika yang sudah kepayahan sambil terus menahan pundak Ika agar badannya tidak terangkat ke atas seiring dengan hujaman terakhir kontolku yang menyemburkan sperma penghabisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Suasana menjadi hening, yang terdengar hanya erangan kami dan napas yang masih tersengal-sengal, bau keringat, peju, pipis, memek berbaur menjadi satu.</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Ahh, nikmatnya! Surut sudah fantasiku, kontolku melemas bahagia, samar celana dalam Ika yang baru lulus bangku SMP itu tergolek seolah tak berdaya di dekat selangkanganku dengan lelehan cairan putih kental spermaku membasahi seluruh bagian bawah celana dalam itu. Sementara celana dalam kotor Shinta yang berpantat padat lagi indah itu, masih terjejal di mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencuri celana dalam wanita itu dari dalam tas mereka, saat Shinta adik tingkatku yang menjadi kakak pembina pramuka dengan salah satu binaannya bernama Ika, menitipkan tas mereka di mobilku karena Shinta harus mencari penjemput Ika yang terlambat datang. Mereka baru saja menyelesaikan acara perkemahan selama 3 hari di samping kampusku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat mengambil dari dalam tasnya, sebenarnya aku hanya ingin menciumi celana dalam kotor Shinta dan Ika, yang aku yakin aromanya pasti sungguh kuat menggairahkan, karena dengan jadwal perkemahan yang padat pastilah mereka enggan menganti celana dalam dan bra, belum lagi resapan keringat aktif mereka, ahh kebayang nggak sih? Mmh.. Sungguh sedap.</p>
<p style="text-align: justify;">ALAMAK! Sungguh kaget aku, saat Shinta dan Ika tiba-tiba mengambil tasnya yang datang dari arah belakang, aku pikir mereka masih lama mencari penjemput Ika, untung branya masih urung aku ambil juga, apa jadinya saat kutarik bra itu lantas tas itu tiba-tiba diambil oleh pemiliknya, idih malu amit!</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya celana dalam yang telanjur aku ambil dan kusembunyikan di kantong belakang kursi mobil kubawa pulang, so meledaklah fantasiku seperti cerita di atas saat aku berada di dalam kamarku. Aku hanya berharap mereka tidak merasa kehilangan satu benda keramat mereka. Shinta dan Ika yang kutahu adalah anak orang kaya, so mereka pasti punya pembantu dong, jadinya saat pakaian kotor itu dibongkar dari tas mereka, tanpa sempat mereka lihat lagi, perkiraanku langsung diusung oleh pembantunya, nah karena tidak mencuci sendiri, mudah-mudahan mereka tidak tahu kalau ada yang hilang, apalagi cuma sebuah celana dalam. Ah bodo ah! Aku sudah jadi maling, maling celana dalam wanita. Dan setiap saat bila ada kesempatan maka aku bisa jadi &#8220;calon&#8221; pencuri lagi bila gagal mengembalikan &#8216;daleman&#8217; wanita yang (sedianya) hanya aku pinjam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum aku mengenal dunia internet, aku merasa menjadi orang &#8216;antik&#8217; dengan kebiasaanku, tetapi ternyata di internet celana dalam kotor saja diperdagangkan bebas, ada komunitasnya lagi, sehingga aku sekarang tidak &#8216;terlalu&#8217; merasa lain sendiri, ternyata banyak juga pelaku seks menyimpang seperti yang kualami dan dialami juga oleh orang lain, bahkan lebih parah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bolehkah saya mengusulkan kepada para pembaca untuk membuat komunitas kaum fetish? Hanya untuk sekedar bertukar cerita atau bahkan mungkin bisa saling bertukar koleksi, rasanya nyaman bila aku bisa berdiskusi dengan sesama penyuka &#8216;daleman&#8217; bekas pakai baik yang kelas ringan maupun kelas berat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketertutupan &#8216;penyuka daleman&#8217; (fetish) ini di negara kita memang menghambat komunikasi antar kaum fetish, sebagai awalan saya akan membuat milis bagi kaum fetish yang terbuka juga untuk umum yang ingin lebih memahami tentang kita, biar masyarakat lebih paham akan penyimpangan kita dan tidak menjadikan itu sebagai suatu keresahan tetapi justru kemakluman, di situ kita bisa bicara apa saja mulai dari kisah kita sendiri sampai dengan informasi apa dan siapa saja, Mbak, adik atau tante yang bersedia menjual celana dalam bekas pakainya atau apa saja yang diburu penikmat fantasi seksual ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau mau gabung milis kirim saja email kosong ke celdambekas-subscribe@yahoogroups.com dan setelah terima balasan, reply lagi dengan email kosong ke alamat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Daripada nyolong lantas digebuki seperti di berita koran, eh ternyata celana dalam doang yang dicolong! Nggak keren amat! ;-D Ah.. Jangan sampai deh..</p>
<p style="text-align: justify;">E N D<br />
<a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/sang-pencuri-celana-dalam-itu-ku-masturbasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Lydia Aku Dan Toketnya Yang Memasturbasi ku</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/antara-lydia-aku-dan-toketnya-yang-memasturbasi-ku/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/antara-lydia-aku-dan-toketnya-yang-memasturbasi-ku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 16:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=543</guid>
		<description><![CDATA[Lega rasanya aku melihat pagar rumah kosku setelah terjebak dalam kemacetan jalan dari kampusku. Kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 21.05 yang berarti aku telah menghabiskan waktu satu jam terjebak dalam arus lalu-lintas Jakarta yang begitu mengerikan. Setelah memarkir mobilku, bergegas aku menuju ke kamarku dan kemudian langsung menghempaskan tubuh penatku ke ranjang tanpa sempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Lega rasanya aku melihat pagar rumah kosku setelah terjebak dalam kemacetan jalan dari kampusku. <strong>Kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 21.05 yang berarti aku telah menghabiskan waktu satu jam terjebak dalam arus lalu-lintas Jakarta yang begitu mengerikan.</strong> Setelah memarkir mobilku, bergegas aku menuju ke kamarku dan kemudian langsung menghempaskan tubuh penatku ke ranjang tanpa sempat lagi menutup pintu kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru saja mataku tertutup, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh ketukan pada pintu kamarku yang disertai dengan teriakan nyaring dari suara yang sudah sangat aku kenal.<br />
<strong>&#8220;Ko, loe baru pulang yah?&#8221; gelegar suara Voni memaksa mataku untuk menatap asal suara itu.<br />
&#8220;iya, memangnya ada apa sih teriak-teriak?&#8221; jawabku sewot sambil mengucek mataku.<br />
&#8220;Ini gue mau kenalin sepupu gue yang baru tiba dari Bandung&#8221; jawabnya sambil tangan kirinya menarik tangan seorang cewek masuk ke kamarku.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-543"></span>Kuperhatikan cewek yang disebut Voni sebagai sepupunya itu, sambil tersenyum aku menyodorkan tangan kananku kearahnya &#8220;Hai, namaku Riko&#8221;<br />
&#8220;Lydia&#8221; jawabnya singkat sambil tersenyum kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil membalas senyumannya yang manis itu, mataku mendapati sesosok tubuh setinggi kira-kira 165 cm, walaupun dengan perawakan sedikit montok namun kulitnya yang putih bersih seakan menutupi bagian tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Riko ini teman baik gue yang sering gue ceritain ke kamu&#8221; celetuk Voni kepada Lydia.<br />
&#8220;Oh..&#8221;<br />
&#8220;Nah, sekarang kan loe berdua udah tau nama masing-masing, lain kali kalo ketemu kan bisa saling memanggil, gue mau mandi dulu yah, daag..&#8221; kata Voni sambil berjalan keluar dari kamarku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menanggapi perkataan Voni barusan dengan kembali tersenyum ke Lydia.<br />
&#8220;Cantik juga sepupu Voni ini&#8221; pikirku dalam hati.<br />
&#8220;Lydia ke Jakarta buat liburan yah?&#8221; tanyaku kepadanya.<br />
&#8220;Iya, soalnya bosen di Bandung melulu&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Loh, memangnya kamu nggak kuliah?&#8221;<br />
&#8220;Nggak, sehabis SMA aku cuma bantu-bantu Papa aja, males sih kuliah.&#8221;<br />
&#8220;Rencananya berapa lama di Jakarta?&#8221;<br />
&#8220;Yah.. sekitar 2 minggu deh&#8221;<br />
&#8220;Riko aku ke kamar Voni dulu yah, mau mandi juga &#8221;<br />
&#8220;Oke deh&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil tersenyum lagi dia berjalan keluar dari kamarku. Aku memandang punggung Lydia yang berjalan pelan ke arah kamar Voni. Kutatap BH hitamnya yang terlihat jelas dari balik kaos putih ketat yang membaluti tubuhnya yang agak bongsor itu sambil membayangkan dadanya yang juga montok itu. Setelah menutup pintu kamarku, kembali kurebahkan tubuhku ke ranjang dan hanya dalam sekejab saja aku sudah terlelap.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ko, bangun dong&#8221;<br />
Aku membuka kembali mataku dan mendapatkan Voni yang sedang duduk di tepi ranjangku sambil menggoyangkan lututku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada apa sih?&#8221; tanyaku dengan nada sewot setelah untuk kedua kalinya dibangunkan.<br />
&#8220;Kok marah-marah sih, udah bagus gue bangunin. Liat udah jam berapa masih belom mandi!&#8221;<br />
Aku menoleh ke arah jam dindingku sejenak.<br />
&#8220;Jam 11, emang kenapa kalo gue belum mandi?&#8221;<br />
&#8220;Kan loe janji mau ngetikin tugas gue kemaren&#8221;<br />
&#8220;Aduh Voni.. kan bisa besok..&#8221;<br />
&#8220;Nggak bisa, kan kumpulnya besok pagi-pagi&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bergegas bangun dan mengambil peralatan mandiku tanpa menghiraukan ocehan yang terus keluar dari mulut Voni.<br />
&#8220;Ya udah, gue mandi dulu, loe nyalain tuh komputer!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan di layar komputerku sepertinya mulai kabur di mataku.<br />
&#8220;Gila, udah jam 1, tugas sialan ini belum selesai juga&#8221; gerutuku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tok.. Tok.. Tok..&#8221; bunyi pintu kamarku diketok dari luar.<br />
&#8220;Masuk!&#8221; teriakku tanpa menoleh ke arah sumber suara.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdengar suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup lagi dengan keras sehingga membuatku akhirnya menoleh juga. Kaget juga waktu kudapati ternyata yang masuk adalah Lydia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eh maaf, tutupnya terlalu keras&#8221; sambil tersenyum malu dia membuka percakapan.<br />
&#8220;Loh, kok belum tidur?&#8221; dengan heran aku memandangnya lagi.<br />
&#8220;Iya nih, nggak tau kenapa nggak bisa tidur&#8221;<br />
&#8220;Voni mana?&#8221; tanyaku lagi.<br />
&#8220;Dari tadi udah tidur kok&#8221;<br />
&#8220;Gue dengar dari dia katanya elo lagi buatin tugasnya yah?&#8221;<br />
&#8220;Iya nih, tapi belum selesai, sedikit lagi sih&#8221;<br />
&#8220;Emang ngetikin apaan sih?&#8221; sambil bertanya dia mendekatiku dan berdiri tepat disamping kursiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak menjawabnya karena menyadari tubuhnya yang dekat sekali dengan mukaku dan posisiku yang duduk di kursi membuat kepalaku berada tepat di samping dadanya. Dengan menolehkan kepalaku sedikit ke kiri, aku dapat melihat lengannya yang mulus karena dia hanya memakai baju tidur model tanpa lengan. Sewaktu dia mengangkat tangannya untuk merapikan rambutnya, aku dapat melihat pula sedikit bagian dari BHnya yang sekarang berwarna krem muda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Busyet.. loe harum amat, pake parfum apa nih?&#8221;<br />
&#8220;Bukan parfum, lotion gue kali&#8221;<br />
&#8220;Lotion apaan, bikin terangsang nih&#8221; candaku.<br />
&#8220;Body Shop White Musk, kok bikin terangsang sih?&#8221; tanyanya sambil tersenyum kecil.<br />
&#8220;Iya nih beneran, terangsang gue nih jadinya&#8221;<br />
&#8220;Masa sih? berarti sekarang udah terangsang dong&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Agak terkejut juga aku mendengar pertanyaan itu.<br />
&#8220;Jangan-jangan dia lagi memancing gue nih..&#8221; pikirku dalam hati.<br />
&#8220;Emangnya loe nggak takut kalo gue terangsang sama elo?&#8221; tanyaku iseng.<br />
&#8220;Nggak, memangnya loe kalo terangsang sama gue juga berani ngapain?&#8221;<br />
&#8220;Gue cium loe ntar&#8221; kataku memberanikan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa kusangka dia melangkah dari sebelah kiri ke arah depanku sehingga berada di tengah-tengah kursi tempat aku duduk dengan meja komputerku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Beneran berani cium gue?&#8221; tanyanya dengan senyum nakal di bibirnya yang mungil.<br />
&#8220;Wah kesempatan nih&#8221; pikirku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bangkit berdiri dari dudukku sambil mendorong kursiku sedikit ke belakang sehingga kini aku berdiri persis di hadapannya.<br />
Sambil mendekatkan mukaku ke wajahnya aku bertanya &#8221; Bener nih nggak marah kalo gue cium?&#8221;<br />
Dia hanya tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa pikir panjang lagi aku segera mencium lembut bibirnya. Lydia memejamkan matanya ketika menerima ciumanku. Kumainkan ujung lidahku pelan kedalam mulutnya untuk mencari lidahnya yang segera bertaut dan saling memutar ketika bertemu. Sentuhan erotis yang kudapat membuat aku semakin bergairah dan langsung menghujani bibir lembut itu dengan lidahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil terus menjajah bibirnya aku menuntun pelan Lydia ke ranjang. Dengan mata masih terpejam dia menurut ketika kubaringkan di ranjangku. Erangan halus yang didesahkan olehnya membuatku semakin bernafsu dan segera saja lidahku berpindah tempat ke bagian leher dan turun ke area dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menanggalkan bajunya, kedua tanganku yang kususupkan ke punggungnya sibuk mencari kaitan BH-nya dan segera saja kulepas begitu aku temukan. Dengan satu tarikan saja terlepaslah penutup dadanya dan dua bukit putih mulus dengan pentil pink yang kecil segera terpampang indah didepanku. Kuremas pelan dua susunya yang besar namun sayang tidak begitu kenyal sehingga terkesan sedikit lembek.</p>
<p style="text-align: justify;">Puting susunya yang mungil tak luput dari serangan lidahku. Setiap aku jilati puting mungil tersebut, Lydia mendesah pelan dan itu membuatku semakin terangsang saja. Entah bagaimana kabar penisku yang sedari tadi telah tegak berdiri namun terjepit diantara celanaku dan selangkangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Putingnya yang kecil memang sedikit menyusahkan buatku sewaktu menyedot bergantian dari toket kiri ke toket kanannya, namun desahan serta gerakan-gerakan tubuhnya yang menandakan dia juga terangsang membuatku tak tahan untuk segera bergerilya ke perutnya yang sedikit berlemak.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun ketika aku hendak melepas celananya, tiba-tiba saja dia menahan tanganku.<br />
&#8220;Jangan Riko!&#8221;<br />
&#8220;Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Jangan terlalu jauh..&#8221;<br />
&#8220;Wah, masa berhenti setengah-setengah, nanggung nih..&#8221;<br />
&#8220;Pokoknya nggak boleh&#8221; setengah berteriak Lydia bangkit dan duduk di ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat dua susunya bergantung dengan anggunnya di hadapanku.<br />
&#8220;Kasihan ama ini nih, udah berdiri dari tadi, masa disuruh bobo lagi?&#8221; tanyaku sambil menunjuk ke arah penisku yang membusung menonjol dari balik celana pendekku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa kusangka lagi, tiba-tiba saja Lydia meloroti celanaku plus celana dalamku sekalian.<br />
Aku hanya diam ketika dia melakukan hal itu, pikirku mungkin saja dia berubah pikiran.<br />
Tetapi ternyata dia kemudian menggenggam penisku dan dengan pelan mengocok penisku naik turun dengan irama yang teratur.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menyandarkan tubuhku pada dinding kamar dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang penisku tetapi semakin lama semakin cepat.<br />
Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lyd.. mau keluar nih..&#8221; lirih kataku sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan ini.<br />
&#8220;Bentar, tahan dulu Ko..&#8221;jawabnya sambil melepaskan kocokannya.<br />
&#8220;Loh kok dilepas?&#8221; tanyaku kaget.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menjawab pertanyaanku, Lydia mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan dua susunya yang besar itu. Sensasi luar biasa aku dapatkan dari penisku yang dijepit oleh dua gunung kembar itu membuatku terkesiap menahan napas. Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok penisku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak nggak Ko?&#8221; tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku.<br />
&#8220;Gila.. enak banget Sayang.. terus kocok yang kencang..&#8221;<br />
Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah pahanya yang mulus. Sesekali memutar arah ke bagian belakang untuk merasakan pantatnya yang lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. ohh..&#8221; desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya.<br />
Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan.<br />
&#8220;Lyd.. aku keluar..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa bisa kutahan lagi semprotan lahar panasku yang kental segera menyembur keluar dan membasahi lehernya dan sebagian area dadanya. Seluruh tubuhku lemas seketika dan hanya bisa bersandar di dinding kamar. Aku memandang nanar ke Lydia yang saat itu bangkit berdiri dan mencari tissue untuk membersihkan bekas spermaku. Ketika menemukan apa yang dicari, sambil tersenyum lagi dia bertanya<br />
&#8220;Kamu seneng nggak&#8221;<br />
Aku mengangguk sambil membalas senyumannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan bilang siapa-siapa yah, apalagi sama Voni&#8221; katanya memperingatkanku sambil memakai kembali BH dan bajunya yang tadi kulempar entah kemana.<br />
&#8220;Iyalah.. masa gue bilang-bilang, nanti kamu nggak mau lagi ngocokin gue&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lydia kembali hanya tersenyum padaku dan setelah menyisir rambut panjangnya dia pun beranjak menuju pintu.<br />
&#8220;Gue bersih-bersih dulu yah, abis itu mau bobo&#8221; ujarnya sebelum membuka pintu.<br />
&#8220;Thanks yah Lyd.. besok kesini lagi yah&#8221; balasku sambil menatap pintu yang kemudian ditutup kembali oleh Lydia.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memejamkan mata sejenak untuk mengingat kejadian yang barusan berlalu, mimpi apa aku semalam bisa mendapat keberuntungan seperti ini. Tak sabar aku menunggu besok tiba, siapa tahu ternyata bisa mendapatkan lebih dari ini. Mungkin saja suatu saat aku bisa merasakan kenikmatan dari lubang surga Lydia, yang pasti aku harus ingat untuk menyediakan kondom di kamarku dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">E N D<br />
<a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/antara-lydia-aku-dan-toketnya-yang-memasturbasi-ku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masturbasi Saat Mengintip yuk.</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/masturbasi-saat-mengintip-yuk/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/masturbasi-saat-mengintip-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 11:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya, saya ingin bilang kalo ini benar-benar cerita nyata yang terjadi pada diri saya, bukan fiksi. Saya berharap pembaca akan ikut terangsang setelah membaca cerita saya ini.
Saya hidup di negara Amerika baru sekitar 4 tahun. Entah mengapa, ada suatu kebiasaan buruk yang benar-benar sulit sekali untuk saya hilangkan, yakni mengintip. Kebiasaan ini sudah ada sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Sebelumnya, saya ingin bilang kalo ini benar-benar cerita nyata yang terjadi pada diri saya, bukan fiksi. Saya berharap pembaca akan ikut terangsang setelah membaca cerita saya ini.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya hidup di negara Amerika baru sekitar 4 tahun. Entah mengapa, ada suatu kebiasaan buruk yang benar-benar sulit sekali untuk saya hilangkan, yakni mengintip. <strong>Kebiasaan ini sudah ada sejak saya kelas SMP 1 di Jakarta. Saya senang sekali mengintip rok dan baju cewek.</strong> Biasanya saya akan berusaha setengah mati mencari <strong>cewek yang cantik</strong> dan sip banget. Terus saya dekati dan pura-pura bicara dengan sang cewek cantik dan merangsang, kadang malah belaga bodoh. Saya sangat puas kalau sudah berhasil mengintip di balik seragam sekolah (atau baju-baju lain) ataupun rok cewek, apalagi kalau cewek itu adalah <strong>cewek idola</strong> satu sekolah. Terutama kalau cewek itu tahu kalau dia <strong>diintip</strong>, terus mendadak nutup baju atau merapatkan kedua kakinya. Duhh.. nikmatnya kalau sudah berhasil, saya langsung lampiaskan nafsu setan saya dengan onani.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-530"></span>Sampai puas dan tuntas, di rumah ataupun di WC sambil membayangkan sang cewek cantik punya celana dalam maupun BH yang telah saya lihat ini. Mungkin saya ini memang sedikit tidak normal, mungkin juga ini karena saya tidak pernah dapat kesempatan bebas untuk nonton blue film maupun kencan dengan cewek (dari faktor orang tua, rumah yang tak pernah sepi, dan lain-lain). Tapi tak apalah, saya akan tetap menceritakan pengalaman saya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengalaman pertama yang akan saya ceritakan adalah tentang mengintip di toko buku. Suatu siang yang bolong, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke toko buku, yang kebetulan dekat dengan rumah tempat tinggal saya (di Amerika). Saya naik ke tingkat dua, dan oohh.. saya melihat ada seorang cewek bule yang menurut perkiraan saya pasti masih SMA (high school) dengan seragam sekolahnya, dan dia ini boleh dibilang cantik aduhai dan alim. Kulitnya putih bersih (tak ada freckles dan jerawat lho), tinggi sedang. Dan wuaah.. apalagi dengan seragam sekolahnya, saya semakin nafsu tidak tahan kalau rasanya hari ini saya belum mengintip apa-apa dari dia. Untuk itu, sambil sudah terangsang membayangkannya, saya coba cari strategi untuk mengintip dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya akhirnya terus mengikuti dia, sampai akhirnya dia duduk di sebuah kursi, dengan beberapa buku bacaannya (kelihatannya sih buku novel, mungkin tugas sekolahnya, kelas Inggris, soalnya dia kelihatan serius sekali). Dia berbicara sebentar dengan cewek yang kelihatan tua, yang menurut dugaan saya pasti itu ibunya. Saya hanya berharap supaya ibunya itu pergi, supaya saya bisa dengan cepat melancarkan aksi mengintip saya terhadap cewek bule yang aduhai, cantik dan diam, dan mungkin kutu buku ini. Ooohh, tak tahan. Perlahan saya sembunyi di balik salah satu rak buku sambil mulai menggosok-gosok celana saya. Bayangkan, betapa nikmatnya kalau saya akhirnya benar-benar bisa mengintip dia.<br />
Saya terus menggosok sambil mengerang, &#8220;Oh.. oh.. ahh.. cantik sekali.. ahh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba muncul kesempatan itu. Ibunya kelihatannya berkata ke cewek ini, tanda dia mau jalan-jalan dulu ke sektor bacaan lain, atau kemana gitu. Aaah.. cuek, yang penting rintangan terbesar sudah lewat. Batang kemaluan saya sudah makin membesar membayangkan semua ini. Sambil terus mengocok, saya lihat dari jauh dimana saya bisa mengintip cewek amboi ini. Tiba-tiba, ahh.. saya melihat adanya suatu peluang besar. Cewek bule ini ternyata duduk di kursi yang di depannya adalah tempat anak-anak kecil (mungkin balita) biasa membaca buku. Jadi di depan kursi dia duduk, ada suatu petak yang lebih tinggi sedikit dari lantai, biasanya untuk para anak-anak kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Jantung saya berdebar kencang sekali. Akhirnya saya maju pelan-pelan. Maju, maju, sambil dipenuhi pikiran yang sudah tidak karuan dengan nafsu mengintip. Akhirnya saya pura-pura mengambil satu buku dari rak buku terdekat, saya lalu lihat ke dia lagi. Aduuhh. semakin cantik saja kalau dilihat dari dekat cewek ini, terutama ketika dia baca, ooh serius sekali. Mana masih highschool lagi, ohh.. tak tahukah dia ada cowok jalang yang sebentar lagi akan mengintipnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jantung saya berdebar semakin kencang, inilah penentuannya, saya jalan ke arah petak (ubin) pendek di depan dia. Saya menoleh kiri dan kanan, tidak ada orang yang akan mencurigai. Maklum, ini toko buku yang sepi. Saya menelan ludah dan tangan sudah tidak saya main-mainkan lagi, tapi saya merasa batang kemaluan saya sudah klimaks tegang sekali.<br />
Akhirnya saya duduk di petak itu, tepat di depan kursi dia duduk. Dan, &#8220;Ooohh, ya ampuunn..!&#8221; saya benar-benar tegang sekali. Saya ternyata berhasil, sukses sekali. Dan tak sekedar berhasil saja, tapi ini mungkin salah satu pengalaman mengintip terbaik saya. Bayangkan saja, walaupun cewek cantik ini duduk dengan kaki merapat, sehingga rok sekolahnya juga tertutup rapat, dengan jarak kami yang sangat dekat (sedekat pembaca dengan layar monitor komputer lah), dan dengan posisi saya duduk terang-terangan di bawah dan di depan tempat dia duduk, saya merasakan kenikmatan yang luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berhasil menerobos pandangan mata haram saya ini menembusi kedua rapat kakinya yang putih mulus, terus makin dalam. Dan yang membuat saya sangat terangsang, saya berhasil melihat celana dalamnya. Bayangkan, dengan jarak yang sangat dekat dengannya, saya seakan-akan seperti diperbolehkan untuk melihat keindahan pahanya yang putih dan mulus, juga celana dalamnya. Oooh.., dia ternyata tidak sadar, karena dia tetap serius membaca bukunya. Saya pun pura-pura buka dan baca buku yang saya sudah ambil, tapi untuk sedetik di buku, saya bisa habiskan semenit melihat pemandangan nan indah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendesah pelan, &#8220;Aaah.. nikmat sekali perasaan ini.&#8221;<br />
Mungkin para pembaca tak tahu bagaimana perasaan saya saat itu, tapi satu kata yang bisa saya utarakan, &#8220;nikmat&#8221;, merangsang dan yah.., kurang ajar memang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar 5 menit setelah itu, dia ternyata mengganti posisi duduknya, dia mulai bergerak sedikit ketika membetulkan posisi duduknya, dengan mata tetap tertuju ke bukunya. Saya memang sudah dari tadi berharap dapat melihat pemandangan yang lebih indah dari dia ini, saya berharap dia bergerak, bergerak sedikit lagi supaya saya kali ini benar-benar bisa melihat tembus dari luar rok, sampai benar-benar ke celana dalamnya. Dan oohh.., setan kurang ajar memenuhi keinginan saya, dia bergerak membetulkan posisi duduknya, dan kali ini posisi duduknya lebih melebar sedikit agak ke kanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya hanya bisa merasakan batang kemaluan saya sudah berdetak kencang. Saya rasanya ingin sekali onani melihat semua ini. Saya langsung berdiri, lalu pergi ke rak buku terdekat. Kali ini saya benar-benar ingin melihat cewek macam apakah yang sudah saya intip ini, supaya ketika saya onani, saya dapat lebih nafsu. Ternyata, memang cewek bule ini cantik sekali dan alim, masih SMA lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pura-pura ganti buku, dan dengan terangsang berat, saya duduk kembali di petak tempat saya duduk, kali ini lebih ke kanan sedikit. Dan mungkin inilah puncak klimaks saya pembaca sekalian, karena posisi duduknya yang sudah agak mengangkang ini, maka sudutnya semakin melebar, sehingga seakan-akan jelas sekali celana dalamnya yang berwarna putih.<br />
Dan ada sedikit bulu-bulu halus di pinggiran celana dalamnya. Pembaca harus tahu, dalam sejarah mengintip saya, sepertinya baru kali ini saya bisa melihat jelas celana dalam dan sedikit bulu-bulu halus kemaluan seorang cewek yang cantik dan pendiam dan alim dan mempesona ini. Saya mencoba menutupi kemaluan saya dengan buku bacaan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mulai berpikir, &#8220;Aaah.. oh.. cantik sekali perempuan ini. Terlambat, saya akan memuaskan nafsu saya nanti dengan onani sepuas-puasnya sambil membayangkan paha dan celana dalam dan sedikit bulu-bulu kemaluanmu, aahh..&#8221;<br />
Apalagi setelah saya kembali melihat tepi-tepi rok sekolahnya, dan saya kemudian berpikir, &#8220;Biasanya saya ngintip hanya sejauh paha perempuan, tapi kali ini saya sampe berhasil menelusuri hampir bagian terdalamnya. Sampai keliatan jelas celana dalam cewek ini sekitar 10 menit, dan juga sedikit bulu-bulu kemaluannya di samping celana dalamnya. Ohh.. nikmatnyaa..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sekitar 2 menit kemudian, datanglah ibunya sambil menanyakan bacaannya. Lalu akhirnya sang cewek cantik ini sekali lagi bergerak untuk terakhir kalinya sebelum berdiri, hingga rok sekolahnya agak tersibak, memperlihatkan keindahan pahanya yang putih mulus dan celana dalamnya yang putih untuk terakhir kalinya. Akhirnya dia berdiri dan jalan bersama ibunya. Saya juga ikut berdiri, dalam hati berpikir, mungkin ada kesempatan lebih lagi untuk mengintip cewek ini lebih jauh, namun cewek ini ternyata sudah naik eskalator sambil tersenyum manis ke ibunya dengan buku-buku novel beliannya. Saya sudah tidak tahan lagi, apalagi melihat senyum dari bibirnya yang indah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kontan saya langsung berjalan cepat ke WC toko buku tersebut, dan mengeluarkan celana dan celana dalam saya.<br />
Langsung, &#8220;Sreet.. sreet.. srreet..&#8221; saya onani sambil mendesah pelan.<br />
&#8220;Oooh.. aah.. cewek cantik.. aah.. aku berhasil melihat.. aah.. sampai ke dalam-dalam.. aah.. engkau cantik sekali.. Dan pahamu.. putih.. aahh.. mulus.. dan celana dalammu.. kelihataan jelas sekali.. dan bulu-bulu kemaluanmuu.. aahh..&#8221; saya mencoba membayangkannya.<br />
Sebelum habis perkataanku, keluarlah sudah spermaku bermuncratan dengan nikmat sekali. Benar-benar saya merasakan bahwa misi pengintipan saya terhadap cewek cantik kali ini benar-benar berhasil total.<br />
&#8220;Crott.. croott.. aah..&#8221; sprema saya memancar keluar terus.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya terus berpikir, alangkah beruntungnya saya hari ini diikuti dengan keluarnya isi terakhir sperma saya yang nikmat ini, setelah membayangkan bagian dalam rok sekolah cewek SMA ini. Sulit saya lupakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu, sekitar 1 atau 2 bulan ke depan, saya masih ingat wajahnya yang manis dan cantik, dan juga kejadian yang sangat mendebarkan jantung saya ini. Di rumah saya menyempatkan diri onani terus mengingat kejadian itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah pengalaman pertama mengintip saya. Kalau pembaca puas, akan saya ceritakan pengalaman-pengalaman mengintip saya yang lain yang tak kalah menariknya. Namun pengalaman yang ini bisa dibilang &#8220;one of the best&#8221;. Sungguh durhaka saya berani mengintip cewek-cewek cantik yang tidak saya kenal. Tapi sungguh sulit sekali menghilangkan dosa mengintip saya yang satu ini, biarpun saya sudah diajarkan oleh agama. Saya tak kuasa menahan godaan ini. Setan memang lihai. Sering saya merasa bersalah sekali setelah saya mengintip dan onani. Saya hanya berharap, kelak suatu saat, saya akan mendapatkan seorang perempuan yang sama seleranya dengan yang saya mau, sehingga saya bisa menghentikan perbuatan cabul ini.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT<br />
<a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/masturbasi-saat-mengintip-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Meli, Celana Dalam Dan Bra.</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/antara-meli-celana-dalam-dan-bra/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/antara-meli-celana-dalam-dan-bra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 10:11:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[Aku seorang jejaka 22th, setamat SMU disebuah kota kecil yang terkenal akan reognya aku langsung merantau ke Jakarta hingga sekarang, aku bekerja di sebuah hotel di kawasan Blok M jakarta, menjadi seorang petugas laundry. Sudah 1 tahun lamanya aku dibagian itu, tapi sungguh sampai saat ini aku begitu menikmati pekerjaanku, kenapa? padahal gajiku tak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Aku seorang jejaka 22th, setamat SMU disebuah kota kecil yang terkenal akan reognya aku langsung merantau ke Jakarta hingga sekarang, aku bekerja di sebuah hotel di kawasan Blok M jakarta, </strong>menjadi seorang petugas laundry. Sudah 1 tahun lamanya aku dibagian itu, tapi sungguh sampai saat ini aku begitu menikmati pekerjaanku, kenapa? padahal gajiku tak bisa disebut cukup. Pas sebulan habis, emang sih kalau yang namanya duit itu tidak akan pernah ada kata &#8216;cukup&#8217; deh..</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama kali aku bekerja, aku mendapatkan posisi sebagai petugas kebersihan kamar hotel, saat itulah cerita ini dimulai, terus terang aku bukan si jelek atau si tampan, tapi sedap dipandang mata kata ibuku (boleh dong memuji diri sendiri),</strong> keluargaku bukan &#8220;orang berpunya&#8221; dan aku juga tak pandai berkata-kata, mungkin itu pula sebabnya aku jadi sering kikuk, minder kalau bertemu dengan seorang wanita, apalagi wanita itu cantik dan aku tertarik padanya, duh! pasti aku tak ubahnya sebuah patung yang bisa berkeringat!</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-528"></span>Bisa ditebak, bahwa aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran! ah kacian deh gue, tapi tunggu dulu! bukan berarti aku tidak tertarik dengan sex, justru libidoku termasuk tinggi, dibuktikan saat aku membersihkan sebuah kamar yang dihuni oleh pasangan pria dan wanita, pastilah orang lain akan geli melihatku, karena rudalku mengeras, membatu, membesar tanpa terkendali membayangkan pergumulan penuh birahi diantara mereka, hingga aku tidak bisa bekerja dengan posisi berdiri tegak, badanku agak membungkuk bukan karena sopan, tapi aduh! malu kalau ketahuan horny.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari aku membersihkan kamar hotel yang dihuni 4 orang ABG yang sedang berlibur di Jakarta, mereka berasal dari pulau Sulawesi, wuih! kulit mereka putih bersih bersinar, tinggi 160an membuat mereka terlihat semampai dengan berat 47an, lincah, cantik, aih sungguh menggemaskan dengan usia meranum. &#8216;Sweetseventen&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu mereka sudah melesat ke mall, meninggalkan kamar dengan berbagai atribut ABGnya yang berserakan diseantero kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah anak manja! apa susahnya sih merapikan barangnya sendiri,&#8221; pikirku sambil geleng kepala, setelah kurapikan kamarnya, tiba saatnya aku membersihkan kamar mandi.<br />
&#8220;Hah, berantakan juga rupanya!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat baju-baju bergoyang-goyang di belakang pintu kamar mandi saat aku masuk ke dalam dan kututup pintu kamar mandinya, goyangan itu membuat celana dalam dan BH yang berada di balik baju-baju itu tersembul menggoda, berwarna cerah dan bermotif lucu-lucu. Sikat gigi, sabun mandi, handuk tergeletak begitu saja, mereka benar-benar ingin bersenang-senang hingga tak ada waktu buat sedikit merapikan kamar, &#8220;Toh akan ada yang membereskan,&#8221; begitu mungkin pikirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua sudah kembali ke tempatnya, kecuali baju kotor, CD dan BH aku biarkan di gantungan, &#8216;malu ah!&#8217; menyentuhnya, seakan ada getaran aneh, seakan-akan mereka sendiri yang dihadapanku, tetapi kemudian rasioku bekerja menyadarkanku bahwa itu hanyalah seonggok pakaian.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hei! kenapa malu, meskipun kau cium pun tak akan berteriak!&#8221; begitu bunyi kepalaku saat memandang segitiga-segitiga lucu dan kacamata mungil penutup dada itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat aku memandangnya lagi, dan mulai tergoda untuk menjamahnya, tanpa sadar tanganku bergerak meraihnya untuk sekedar mengelusnya, tanganku bergetar hebat saat memegangnya lalu tiba-tiba muncul perasaan horny yang meluap-luap hingga aku mulai mengendus, mencium celana dalam warna putih yang berhiaskan bunga-bunga kecil itu dengan birahi yang menggelora. Ooh! betul-betul birahiku memuncak saat kuhirup dalam-dalam aroma kewanitaan para gadis belia itu, kupenuhi rongga dadaku seakan tak ingin kusisakan ruang kosong paru-paru ini tanpa wangi tubuh dan keringat sedap yang menempel di CD dan BH itu. Kakiku terasa lemas sementara batangku semakin mengeras.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuremas-remas dengan gemas dan sekali lagi kuhirup dalam-dalam kesegaran aroma keringat yang melekat erat di celana dalam dan BH itu, aku jadi ingat saat para gadis itu bererobik tadi pagi, &#8220;mmhh.. Mmhh aah ssh.. &#8221; aku bernafas dengan hidung tertutup kain berenda itu, secuil aroma pipis menambah rasa birahiku menjadi-jadi, seakan aku benar-benar melumat vagina para gadis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin larut dengan fantasiku, celana dalam dan BH kotor yang digantungan sebanyak 4 pasang plus baju-baju kotor dengan wangi badan penuh sensasi gadis remaja membalut seluruh tubuhku yang tanpa sadar sudah polos telanjang! Benar!, seolah aku bersetubuh dengan mereka, berempat sekaligus, aku tersandar di dinding kamar mandi sambil mengusap-usapkan ke penisku dengan lembut celana dalam tipis itu bergantian dengan tangan kiriku sambil terus beronani, tangan kananku membenamkan BH dengan bau asam keringat yang segar itu ke hidungku, sementara kaos-kaos centil yang saat dipakai akan memamerkan ketiaknya yang putih bersih dan tak cukup untuk menutupi keindahan perut dan pusar pemakainya itu kututupkan diseluruh tubuhku yang terus bergetar hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat bagian CD yang menyempit diselangkangan, terdapat noda-noda samar dan lendir bening tipis diatasnya, kuhirup dengan nikmat! kujilat, kuhisap seolah menjilat vaginanya dengan gemas, agak asin rasanya. Kulahap dengan ganas, kutarik, kugigit, oohh nikmatnya..</p>
<p style="text-align: justify;">Kubentangkan CD yang mungil itu dan kutempelkan bagian selangkangan penutup vagina itu di penisku, woow! besarnya kotolku terlihat tak sebanding dengan lebar penutup vagina dibagian bawah celana dalam itu, rudalku terlihat terlalu besar untuk ukuran selangkangan para gadis itu, nafsuku menjadi meledak membayangkan begitu sesaknya jika rudalku memasuki vaginanya! tiba-tiba badanku bergetar hebat, sensasi yang luar biasa!!, penisku tak kuasa menahan muntahan lahar kenikmatan yang berdenyut-denyut mendesak keluar itu dan &#8220;Ah..! ah! nikmat sekali!&#8221;. Terasa berliter-liter melesat keluar dibarengi sengatan gairah birahi dan terus kukocok-kocokkan serta kugesek-gesekkan rudalku pada celana dalam dan BH itu hingga getaran yang menyerang seluruh tubuhku membuat diriku terkejang-kejang tak terkendali.</p>
<p style="text-align: justify;">Peluhku berluncuran diseluruh tubuhku, lemas, lega, bercampur aduk membuat rasa sensasi yang luar biasa di benakku, kubiarkan nafasku yang memburu perlahan berangsur normal, setelah beberapa menit terkulai lemas, aku mulai bangun, beranjak merapikan baju-baju kotor para gadis itu yang ikut terlempar berserakan saat aku mencapai orgasme hebat, kubersihkan ledakan dan ceceran lahar yang menempel pada CD dan BH dengan tissue agar tersamar, bagaimanapun aku tak ingin mereka tahu bahwa &#8216;daleman&#8217; mereka telah kujadikan bulan-bulanan alat pemuas nafsu birahi dan yang pasti supaya mereka tidak curiga sehingga aku tetap bisa leluasa &#8220;menikmati&#8221; celana dalam dan BH kotor mereka selama menginap di hotel tempatku bekerja.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itulah aku menjadi tergila-gila untuk menciumi celana dalam kotor para gadis, katakanlah ada seorang gadis dengan bodi aduhai, cantik, menarik dan saat duduk roknya terbuka sampai terlihat celana dalamnya atau pada pantatnya terlihat garis celana dalamnya maka aku tidak terlalu tertarik padanya, yang ada di pikiranku justru,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Andai aku bisa menciumi, menjilati, merasakan kelembutan celana dalamnya ah.. Betapa nikmatnya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Celana dalam yang menjadi korbanku pun semakin banyak berjatuhan, aku semakin terobsesi untuk merasakan segala tipe cewek lewat celana dalam dan BHnya, aku merasa sudah &#8216; merasakan&#8217; seorang wanita hanya dengan mencumbu dalemannya, bukankah celana dalam dan BH adalah barang yang paling pribadi? seolah dengan mendapatkannya aku pun telah menikmati tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulai dari wanita pribumi sampai dengan wanita bule kuperkosa dalemannya, ada yang aku ambil dari kopernya, cantelan kamar mandi, dan sebagainya. Aku tidak tertarik jika wanita itu sedang mens (soalnya enggak ada aromanya, pake softex sih), sehabis atau sebelum mens juga males! kurang menggairahkan aromanya, wanita yang habis ditiduri (merasa didahului), gemuk!, terlalu jorok, yang jelas aku suka yang sehabis dipakai wanita muda dan model CD atau BHnya tidak aneh-aneh.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga yang paling aku sukai adalah cara penyimpanannya karena kadang CD atau BH setelah dipakai dan belum dicuci tersebut disimpan rapi jali, tersembunyi sekali, menjadikan aku berdebar-debar saat mencarinya, ada sensasi tersendiri setelah agak susah mencarinya. Pernah suatu ketika aku mencarinya sampai isi tas aku ubek-ubek, ada duit 10 jeti disimpan disitu, ah tapi aku tak tertarik tuh! Gile ya.. Aku lebih senang si segitiga itu! Akhirnya tetap juga tidak aku temukan, hingga aku baru tahu, ternyata dia memakai segitiga yang dibikin dari kertas tissu yang banyak dijual di swalayan, waah! Dan dibuang di tempat sampah, ini juga aku tidak suka, aku lebih suka kain biasa yang mungkin di benakku terlintas bahwa celana dalam tissue tidak mempunyai nilai historis, pakai sekali langsung buang!</p>
<p style="text-align: justify;">Kebiasaanku semakin parah saat aku bertugas di laundry, yang tadinya aku perlu mengetahui siapa pemilik celana dalam dan BH itu, agar pada saat berfantasi benar-benar nyata, maka sekarang celana dalam dan BH wanita siapapun asal ukurannya tidak besar, tidak sedang haid, dan baru saja dipakai, menjadi santapanku saat membongkar laundry bag. Aku mempunyai ruangan tersendiri yang bisa kukunci, sehingga aku dengan santainya membawa celana dalam dan BH itu keruanganku, biasanya kulakukan saat malam hari, wah kadang ada belasan celana dalam dan BH dalam semalam! berwarna-warni, menggairahkan! sampai-sampai aku perlu membuat catatan dahulu, supaya tidak tertukar-tukar saat mengembalikan ke dalam keranjangnya masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin bertambah berani dengan menyemprot CD dan BH itu dengan lahar kenikmatanku (toh pemiliknya tidak bakalan tahu), aku merasa puas saat melihat CD dan BH yang tak berdaya itu berbasah-basah dengan spermaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah semua itu aneh? Apakah kebiasaan itu bisa hilang setelah aku berpacaran atau menikah? Ah.. Sudahlah yang penting sekarang libidoku tersalurkan supaya tidak jerawatan dan tidak menjadi pemerkosa yang sebenarnya. Aku merasa dengan daleman wanita untuk beronani perasaanku menjadi lebih santai (mungkin karena tidak akan ada penolakan, protes atau semacamnya, merasa bebanku lebih ringan karena tidak ada pihak yang dirugikan toh aku bermain dengan fantasi, lebih pribadi karena aku lebih tahu fantasi apa yang kusukai, aku merasa cukup hanya dengan mendapatkan &#8216;daleman&#8217; wanita, serasa aku berhasil melumat kewanitaanya tanpa harus berkenalan, pendekatan dan sebagainya, mungkin karena aku suka minder dihadapan mereka ya? Dan yang pasti lebih murah! karena tinggal nyomot aja.</p>
<p style="text-align: justify;">E N D<br />
<a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/antara-meli-celana-dalam-dan-bra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Mandi Dan Bermasturbasi</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/nikmatnya-mandi-dan-bermasturbasi/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/nikmatnya-mandi-dan-bermasturbasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 09:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=526</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini aku libur, jadi bangunnya agak siang dari biasanya, apa lagi semalam aku tidur hampir dini hari karena asyik membuka mail box dan membalas email-email yang masuk. Ada seorang pembaca yang gentleman mengirimkan email padaku, isinya biasa-biasa saja dan sopan. Awalnya seperti email-email lain yang kubalas, selalu kucantumkan persyaratan yang kuinginkan bila mereka ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Hari ini aku libur, jadi bangunnya agak siang dari biasanya, apa lagi semalam aku tidur hampir dini hari karena asyik membuka mail box dan membalas email-email yang masuk. </strong>Ada seorang pembaca yang gentleman mengirimkan email padaku, isinya biasa-biasa saja dan sopan. Awalnya seperti email-email lain yang kubalas, selalu kucantumkan persyaratan yang kuinginkan bila mereka ingin melanjutkan berkenalan dan mengobrol denganku.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pembaca yang satu ini lain daripada yang lain karena tanpa banyak komentar, pada email berikutnya langsung dia memberikan persyaratan yang kuminta.</strong> Aku pun berbagi foto dan berkirim email dengannya. Terus terang simpatik sekali dia, hanya saja aku belum memiliki foto dan data lengkapnya. Tapi aneh! Aku kok tiba-tiba jadi penasaran dengannya, semoga orangnya sesuai dengan keinginanku. Pada emailnya yang terakhir dia menanyakan cara mengobati ikan yang perutnya buncit. Ha.. ha.. ha.., kan tidak semua dokter hewan bisa mengobati ikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-526"></span>Kembali ke ceritaku, pagi ini ternyata kondisi rumahku kosong, kedua orang tua dan adikku entah pergi kemana. Hal ini biasa terjadi, mereka tidak mau mengganggu tidurku dan pergi mengunci rumah dari luar. Kami di rumah memang masing-masing memiliki kunci rumah sendiri-sendiri. Setelah membaca koran pagi sambil minum secangkir kopi, aku teruskan membaca koran di toilet kamar mandiku. Aku bermaksud buang hajat (Maaf! Aku berusaha menyampaikan apa yang kualami dengan apa adanya) sambil membaca koran. Pintu kamarku sengaja kubiarkan terbuka begitu saja, toh tidak ada orang lain di rumahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulepas kembali singlet yang baru kukenakan tadi sebelum keluar dari kamar, kulempar begitu saja, demikian pula dengan celana pendek longgar yang agak lebar di bagian bawahnya yang kupakai saat tidur. Kini aku sudah telanjang bulat tanpa sehelai pun benang yang menutupi tubuhku. Sejak kecil aku memang tidak suka dan tidak pernah menggunakan BH sehingga sampai saat ini di usiaku yang ke 28 aku tetap tidak memiliki satu pun BH untuk menutupi buah dadaku yang sintal dan ranum ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terbiasa tidur bertelanjang dada dan seringkali bugil sambil memakai selimut tipis saja. Kalau semalam aku tidur hanya mengenakan celana pendek yang bentuknya seperti yang kuceritakan tadi, selain bentuknya yang mini, bahannya terbuat dari kain sutera tipis tembus pandang dengan karet elastis yang melingkar di pinggangku, sehingga bayangan bulu kemaluanku jelas dapat terlihat dari luar, karena di dalamnya aku sudah tanpa menggunakan apa-apa lagi untuk menutupi auratku, toh semua model CD-ku juga sexy dan mini sekali sehingga tidak ada fungsinya saat kupakai tidur, jadi sekalian saja tidak kupakai.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai hajatku, kuletakkan koran yang kubaca tadi dan aku pun mandi. Kondisi kamar mandi dalam kamarku pun kubiarkan tetap terbuka sejak tadi hingga jika dari arah ruang tamu ada orang melongok kamarku yang pintunya terbuka pasti dapat melihat tubuh montokku di kamar mandi yang sedang mandi saat ini, namun aku tidak khawatir karena rumahku saat ini sedang kosong dan pintu depan dalam keadaan terkunci hingga aku tidak perlu khawatir ada orang yang tiba-tiba nyelonong masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubasahi seluruh tubuhku di bawah shower kamar mandiku, rambutku pun kubasahi karena aku memang ingin keramas. Selesai keramas, kusabuni tubuhku dengan sabun cair, kugosok rata seluruh bagian tubuhku yang ramping dan sexy ini (Bukan GR lho! Karena memang demikianlah diriku). Tinggiku yang 170 centimeter termasuk cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita, buah dadaku tidak terlalu besar, ukurannya normal sedang-sedang saja, bentuknya padat, puting susuku dan sekitarnya masih tampak ranum berwarna sedikit merah muda kecoklatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantatku sintal dan berisi, bagian depannya di bawah pusarku ditumbuhi bulu-bulu kemaluan yang halus, tumbuhnya rata rapi dan tidak terlalu panjang karena menempel di bawah pusarku menyeruak ke atas. Bulu-bulu kemaluanku hanya tumbuh di bagian atas kemaluanku, di sekitar vaginaku tetap bersih dan mulus. Kuusap dan kugosok dengan sabun cair tadi dengan rata, kujongkokkan sedikit tubuhku dan kuangkat sebelah kakiku bergantian dan kukangkangkan di atas bibir bathtub agar memudahkan tanganku menggosok dan membersihkan lipatan selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanganku yang satu lagi menggosok tubuhku bagian lain, kuelus-elus buah dadaku dengan lembut hingga terus terang menimbulkan rangsangan tersendiri bagiku. Libidoku tiba-tiba datang dan hasratku jadi memuncak, rasanya aku ingin berlama-lama menyabuni tubuhku, mataku yang lentik pun mulai sayu merem melek merasakan nikmatnya usapan tanganku sendiri hingga tanpa kusadari jariku kumasukkan ke dalam bibirku. Kuhisap telunjukku dan kukulum dengan mulutku yang mungil dan berbibir tipis, ada rasa sabun di lidahku hingga segera kuturunkan lagi jari-jariku ke bagian buah dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini bukan lagi belaian yang kulakukan, tapi aku sudah mulai melakukan remasan ke buah dadaku. Kupilin-pilin puting susuku dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjukku. Nikmat sekali rasanya, terlebih saat tanganku yang satu lagi tetap mengelus-elus selangkanganku. Saat jari-jariku mengenai bibir-bibir vaginaku, aku pun merasakan darah yang mengalir di tubuhku seakan mengalir lebih cepat daripada biasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sudah horny sekali, liang vaginaku sudah dibanjiri oleh lendir yang keluar dari dalam rahimku. Dapat kurasakan ada cairan lain di bibir vaginaku. Lalu jari-jariku kuarahkan ke klitorisku. Kutempelkan dan kugesek-gesek klitorisku dengan jariku sendiri hingga aku pun tak kuasa membendung gejolak dan hasratku yang semakin menggebu. Badanku meliuk bagaikan penari erotis yang biasa kulihat di BF, kedua kakiku pun tak kuasa lagi menopang tubuhku. Aku langsung terduduk di bagian atas bathtub, kukangkangkan pahaku dengan meletakkan kedua telapak kakiku di samping kiri dan kanan bibir bathtub.</p>
<p style="text-align: justify;">Jari tengah dan telunjuk tangan kiriku kupakai untuk menyibak bibir vaginaku sambil menggesek-geseknya. Sementara jari tengah dan telunjuk tangan kananku aktif menggosok-gosok klitorisku, sekujur tubuhku masih dipenuhi oleh sabun cair yang kini sudah mulai berbaur dengan keringat dinginku yang mulai mengalir keluar, udara AC yang masuk dari kamar tidurku seakan tidak mampu menembus ke kamar mandiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kualihkan jari tangan kananku ke arah lipatan vaginaku. Ujung jariku mengarah ke pintu masuk liang kenikmatanku, kusorongkan sedikit masuk ke dalam. Awalnya memang sedikit agak sulit masuk namun karena aku memang sudah benar-benar horny sehingga liang vaginaku juga sudah benar-benar basah oleh lendir yang licin hingga berikutnya jari-jariku dengan mudahnya menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku. Kini jari tangan kiriku sudah tidak perlu lagi menyingkap bibir kemaluanku lagi hingga kualihkan tugasnya untuk menggesek-gesek klitorisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kukocokkan jari tangan kananku keluar masuk liang vaginaku. Jari-jariku menyentuh dan menggesek-gesek dinding vaginaku bagian dalam, ujung-ujung jariku menyentuh benjolan sebesar ibu jari yang ada dan tumbuh di dalam liang vaginaku dan menghadap keluar. Kuangkat sedikit benjolan tadi dari bawah dengan jariku dan kugesekkan bagian bawahnya, punggung dan kepalaku jadi tersandar di dinding kamar mandi, seakan hendak pingsan rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sudah benar-banar mencapai puncaknya untuk menuju klimaks saat ada sesuatu yang rasanya akan meledak keluar dari dalam rahimku, ini pertanda aku akan segera mencapai orgasme. Gesekan jari tangan kiri di klitorisku makin kupercepat lagi, demikian pula kocokan jari tangan kanan dalam vaginaku pun makin kupercepat pula. Untuk menyongsong orgasmeku yang segera tiba, pantatku bergetar hebat, kurasakan kedutan bibir vaginaku yang tiba-tiba mengencang menjepit jari-jariku yang masih berada di dalam liang senggamaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersamaan dengan itu aku merasakan sesekali ada semburan dari dalam yang keluar membasahi dinding vaginaku. Aku serasa sedang kencing namun yang mengalir keluar lebih kental berlendir, itulah cairan cintaku yang mengalir deras. Setelah diam sejenak meresapi apa yang baru saja terjadi, aku meneruskan mandi. Kubilas tubuhku dengan air melalui shower, di selangkanganku masih terasa cairan cintaku merembes keluar dari dalam liang vaginaku, mengalir turun melewati kedua belah pahaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai mandi, kukeringkan badanku dengan handuk dan kukenakan kimono tipis bermotif kembang-kembang. Bentuk kimonoku ini cukup pendek ukurannya. Ujung bawahnya kurang lebih hanya sejengkal saja dari pangkal pahaku, kalau aku membungkuk pasti belahan pantatku akan tersembul keluar, demikian pula bila aku duduk saat mengenakan kimono ini pasti onggokan daging di pangkal pahaku juga akan mudah terlihat, karena memang kimono yang kukenakan ini bukan untuk digunakan di luar, fungsinya hanya bisa digunakan di kamar setelah selesai mandi agar tidak kedinginan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku keluar menuju lemari es mengambil air dingin. Aku merasakan haus sekali setelah melakukan aktifitas tadi. Selesai minum tiba-tiba ada orang yang menekan bel. Kulongok keluar ternyata ada satpam yang mengantar tagihan iuran RT.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sebentar ya Pak&#8221;, seruku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuambil uang di dompetku dan aku keluar menuju pintu pagar. Sambil kusodorkan uang, kuterima bukti pembayaran yang kuterima dari satpam tadi. Waktunya hanya sebentar saja namun cukup membuat satpam tadi terbengong-bengong heran menatap penampilanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya tanpa kusadari, aku tadi keluar mengenakan kimono mini tadi. Bahan kainnya tipis sehingga saat kupakai menempel dengan ketat di kulitku yang memang belum kering betul saat kuhanduki tadi, apa lagi bagian depannya hanya ditutupkan begitu saja dan diikat dengan ikat pinggang tali yang terbuat dari bahan kain yang sama, dan ikatanku tadi juga asal-asalan saja sehingga bagian dadaku terbelah agak lebar, sehingga dari samping tepian buah dadaku yang putih mulus dapat terlihat dengan jelas secara hampir keseluruhan, hanya puting susuku saja yang tertutup.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian bawahku rupanya juga tidak tertutup dengan rapi, selain ukurannya sudah pendek ke atas (mini), belahannya juga tidah rapat, kecuali di bagian yang terjepit oleh ikat pinggang kain tadi, sehingga rupanya saat aku berjalan melangkah keluar tadi belahan kimonoku bagian bawah tersingkap bergantian di kedua sisinya mengikuti irama langkahku. Berarti bagian ujung pangkal pahaku yang ditumbuhi bulu-bulu kemaluanku dapat terlihat dengan jelas oleh satpam tadi, pantas saja matanya melotot dan dia sempat terbengong-bengong saat melihatku keluar tadi. Persetan deh, pikirku, sudah telanjur mau apa lagi, ya mungkin itu rejeki satpam itu tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">E N D<br />
<a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/nikmatnya-mandi-dan-bermasturbasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anggi I Love Your Way To Cum</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/anggi-i-love-your-way-to-cum/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/anggi-i-love-your-way-to-cum/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 08:18:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=524</guid>
		<description><![CDATA[Lingkungan merupakan unsur dalam pembentukan seseorang. Apabila kita ingin membeli atau menyewa tempat tinggal sebetulnya yang akan kita beli atau sewa adalah lingkungan yang ada. Perilaku seseorang bisa jadi dibentuk oleh pengalaman-pengalaman yang ada di sekitar lingkungannya yang merupakan bagian masa lalunya. Cerita ini merupakan cerita fiksi yang terdiri dari beberapa potong cerita.
*** Rumah Kontrakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Lingkungan merupakan unsur dalam pembentukan seseorang. Apabila kita ingin membeli atau menyewa tempat tinggal sebetulnya yang akan kita beli atau sewa adalah lingkungan yang ada. </strong>Perilaku seseorang bisa jadi dibentuk oleh pengalaman-pengalaman yang ada di sekitar lingkungannya yang merupakan bagian masa lalunya. Cerita ini merupakan cerita fiksi yang terdiri dari beberapa potong cerita.</p>
<p style="text-align: justify;">*** Rumah Kontrakan ***</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Aku seorang anak laki-laki yang sudah ditinggal mati kedua orangtuaku, saat itu aku masih bayi, oleh sebab itu aku tinggal bersama Paman dan Bibiku.</strong> Tempat tinggal kami adalah sebuah kontrakan yang hanya memiliki sebuah kamar tidur. Sebetulnya tidak dapat dikatakan sebagai kamar tidur, karena kontrakan ini tidak mempunyai sebuah kamar pun, kecuali kamar mandi yang jadi satu dengan kloset.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-524"></span>Untuk membentuk kamar, maka tempat tidur tingkat yang terbuat dari besi bulat yang sangat besar (peninggalan orangtuaku) di sampingnya ditutup dengan lemari pakaian yang terbuat dari plastik yang lumayan besar. Aku dan anak tunggal Paman tidur bersama di bagian atas, dia adalah seorang gadis. Anaknya sudah besar, karena aku penakut maka aku tidur bersamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah suatu kali aku terbangun menjelang tengah malam, karena rasa haus mencekik leherku. Dengan mata masih belum terbuka secara keseluruhan aku turun dari tempat tidur. Saat aku akan turun, terdengar tarikan selimut dengan sangat cepatnya. Tampak sekilas Paman yang tadi berada di atas tubuh Bibi segera beralih ke samping mendekati sisi dinding, sementara bibi ada di sisi tempat aku turun. Mereka secara bersamaan segera menutup organ penting mereka dengan selimut yang ada di samping mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngapain Bud..?&#8221; tanya Bibi<br />
&#8220;Haus, Bulek.&#8221; jawabku.<br />
Segera aku mengambil kendi di samping televisi dan menuangkan ke mulutku, dan segera naik ke atas tempat tidur, kembali tidur.<br />
Waktu itu aku tidak tahu apa yang sedang mereka kerjakan, tetapi kejadian itu tidak terlupakan hingga saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">*** Mandi ***</p>
<p style="text-align: justify;">Karena kamar mandi yang hanya ada satu, kadang kami rebutan. Pernah suatu kali saat aku mandi, Bibi sudah tidak tahan untuk membuang hajat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bud, bukain pintunya, Bulek sudah nggak tahan nih..!&#8221; katanya dari luar kamar mandi.<br />
Begitu pintu kamar mandi terbuka, dengan menggunakan longdress, dia mengangkat ujung longdress, kemudian menurunkan celana dalam sebatas dengkul dan mengangkat longdress-nya lagi sebatas pinggang, kemudian jongkok sambil menarik baju di bagian belakangnya, dan segera membuang hajatnya. Aku sendiri jengah dan tidak berani menghadap ke Bibi, selain itu aku pun ingin segera keluar dari kamar mandi, bukan apa-apa, mendengar suara dan baunya itu lho.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekilas aku melihat celana dalam Bibi yang berwarna hitam sobek di bagian dasarnya (mungkin pas jahitan) sehingga membentuk seperti ada lubangnya. Setelah keluar dari kamar mandi dan kemudian berangkat sekolah, masih terpikir mengapa ada lubang di celana dalamnya? Apa karena ketarik oleh kedua lututnya? Atau ada fungsi lainnya? Pemikiran sebagai anak kecil belum sampai mengapa demikian. Misteri lubang itu masih terbawa hingga kini.</p>
<p style="text-align: justify;">*** Mencuci ***</p>
<p style="text-align: justify;">Entah wabah apa yang terjadi, Bibi dan anak wanitanya menderita sakit, sementara Paman bekerja (aku baru mengetahui bahwa semua wanita akan mendapat &#8216;penyakit&#8217; setiap bulannya &#8211; nah mereka berdua tergolong berat &#8216;penyakit&#8217;-nya karena apabila mendapatkan selalu &#8216;klenger&#8217; alias tidak dapat menjalani aktifitas sehari-hari). Bibi meminta bantuanku untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Sebetulnya pekerjaan rumah tangga sudah biasa kukerjakan, hanya mencuci yang belum pernah kukerjakan, karena selama ini yang mengerjakan anaknya atau Bibi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sedikit diberi petunjuk (jadi inget jaman orde baru), aku disuruh merendam cucian yang sudah menumpuk dengan air yang dicampur bubuk deterjen (yang katanya bisa mencuci sendiri; kenyataannya setelah direndam satu jam, tetap saja aku harus menyikat dan menggilasnya di papan gilas).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah direndam, aku mulai mencuci. Aku menemukan beberapa lembar rambut yang menurutku aneh bentuknya (runcing ujungnya dan ikalnya berbeda dengan rambut yang kebanyakan kulihat), yang menempel di celana dalam Bibi dan anak wanitanya. Kemudian aku juga menemukan bercak putih kekuningan di bagian dasar celana dalamnya, walau setengah mati aku menyikatnya tidak dapat hilang, hanya ada bercak darah yang hilang saat kusikat sekali saja (wah, mau mengadu ke siapa yah, kok di iklan televisi kotorannya bisa terbang ke atas dengan sendiri, ini jangankan terbang ke atas, bergeser sedikit saja nggak.)</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kusikat, kubilas dan peras, kemudian bilas lagi. Aku sangat menyukai pekerjaan yang sempurna, oleh sebab itu aku tidak ingin pekerjaan dinilai oleh Bibi tidak bersih. Satu persatu kuperiksa cucianku. Untuk baju kuperiksa bagian kerah bajunya, bersih! Untuk celana aku periksa bagian ujung bawahnya, bersih juga. Nah hanya bagian celana dalam mereka berdua saja yang tidak dapat bersih.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain kulihat, aku juga mencium pakaian yang kucuci, aku tidak ingin pakaian yang kucuci bersih tetapi baunya apek. Semua pakaian baunya wangi deterjen, hanya dasar celana dalam mereka berdua yang baunya kok bisa mengalahkan wanginya deterjen. Mungkin setelah dijemur nanti akan berubah, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kujemur kering, kemudian kucium dasarnya.<br />
&#8220;Ngapain Bud, kamu ciumin celana Bulek..?&#8221; kata Bibiku memergokin tingkah lakuku.<br />
Wah jangan-jangan Bulek berpikiran macam-macam, untuk itu aku mencoba menjelaskan sejujurnya apa yang terjadi, tetapi Bibi tidak memberikan jawaban dari pertanyaanku, mengapa kok nodanya tidak dapat hilang, begitu juga baunya. Hanya saja dia bilang aku sudah bekerja dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku tahu mengapa ada bercak darah dan &#8216;penyakit&#8217; apa yang mereka derita. Saat aku membuang sampah, ada bungkusan koran yang mengusikku untuk membukanya. Setelah bungkusan kubuka, kok ada gulungan yang merekat seperti isolasi band. Kubuka perekatnya, nampak bagian tengahnya penuh dengan darah dan beberapa lembar bulu, bulu yang mirip kutemukan di celana waktu sebelum mencuci tadi. Kuperhatikan setiap buang sampah, minimal sekali dalam sebulan aku menemukan sampah seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya bercak dan bau apakah itu? Pertanyaan ini kusimpan di benakku.</p>
<p style="text-align: justify;">*** Perawatan ***</p>
<p style="text-align: justify;">Bibiku dalam hal perawatan kecantikan sangatlah baik. Walau orangnya sederhana kalau tidak mau dikatakan sebagai orang miskin, dia menjaga penampilan secantik mungkin. Kadang bila ada rejeki dia akan menggunakan lulur sebelum mandi untuk menjaga warna kulitnya, biasanya aku yang disuruh membeli &#8216;mangir&#8217; rentengan (dibungkus plastik) di toko jamu di ujung gang.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mencuci rambut, aku dititipi agar saat pulang sekolah sekalian membeli merang (batang padi, biasanya digunakan untuk mencat atau melabur tembok, kadang untuk sarang ayam untuk bertelur atau mengeram), kemudian kubakar, arangnya kukumpulkan dan akan dibawa Bibi saat akan mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga dengan daun sirih, seminggu sekali aku memetik daun sirih sekantong plastik penuh untuk persedian selama satu minggu, yang tumbuh liar di sekat sekolahku. Aku tidak tahu digunakan untuk apa, setahuku Bibi tidak &#8216;nyirih&#8217;, yang aku perhatikan dia sering merebus dan membawa rebusannya ke kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada kegiatan perawatan yang dia sendiri tidak dapat melakukannya, hingga minta bantuan orang lain, biasanya anaknya yang disuruh tetapi anaknya lebih banyak menolak daripada menuruti kemauan ibunya, jadilah aku pilihan terakhir. Kegiatan tersebut adalah mencabuti bulu ketiaknya, biasa dilakukan saat menjelang sore sebelum mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil tiduran telentang dan mengangkat tangannya aku mencabuti bulu ketiaknya hingga bersih di sisi kanan dan kiri. Aku tidur telungkup di sisinya sambil memegang jepitan untuk menjepit bulu, sementara tanganku satunya menarik kulit di sekitar ketiaknya agar bulu ketiaknya kelihatan. Kucabuti semua bulu ketiaknya mulai yang kasar keriting sampai yang lurus halus, mulai dari yang panjang hingga yang pendek, atau yang kemarin kecabut tidak sampai akarnya dan sekarang mulai panjang dan sudah dapat dijangkau oleh penjepit.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya saat mencabuti buku tersebut, Bibi tidur ayam, matanya merem, napasnya teratur, bulu matanya pun benar-benar istirahat layaknya orang tidur. Tetapi aku tahu kalau dia tidak tidur, mungkin dia merasa sakit-sakit-nikmat saat bulu ketiaknya kucabuti yang terkadang kuusap guna melihat bulu-bulu yang tersisa.</p>
<p style="text-align: justify;">Proses cabut-mencabut tersebut tidak jauh dari bongkahan payudara yang tidak sanggup ditutupi oleh bra-nya, membuat pemandangan yang sangat indah, selain itu aroma ketiaknya khas sekali, terkadang membuatku agak mabuk juga. Saking mabuknya, aku kadang menjepit bulu ketiak terlalu dalam hingga kulit ketiaknya kejepit dan keangkat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh Bud..! Yang dijepit bulunya, jangan kulitnya, sakit Bud..!&#8221; kata Bibi.<br />
Coba kalau ada orang lewat dengar, pasti ngeres pikirannya. Pemandangan payudara, ditambah dengan bulu ketiaknya, serta aromanya, kadang membuatku gelisah diwaktu malam, seperti ada kenikmatan tersendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">*** Perbaikan ***</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Paman pulang membawa video tape, wah baru beli nih pikirku, eh ternyata pinjam temannya. Aku sudah senang sekali bakalan dapat hiburan baru. Kenyataannya, hanya Paman dan Bibi saja yang menonton, itu pun larut malam saat aku dan anaknya sudah tidur. Aku tidak tahu film apa yang sedang mereka tonton, karena aku sudah disuruh tidur sebelum Dunia dalam Berita, padahal aku sudah siap begadang dengan tidur tadi siang untuk menonton film kesukaanku Hawaii Five O.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari saat Paman berangkat kerja, video tape tidak dibawa, ternyata ada kerusakan. Aku tahu saat sarapan Paman dan Bibi saling bercakap-cakap masalah video tape. Ternyata film-nya punya temannya Bibi, sementara video tape-nya punya temannya Paman. Nah kaset videonya tersangkut di dalam video tape. Bibi pergi ke pasar, sementara anak wanitanya ke sekolah, aku sendiri masuk siang. Rasa ingin tahuku tergerak untuk melihat film apa sih yang nyangkut di dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bermodalkan keberanian dan obeng, aku mencoba membuka tutup atas video tape. Ternyata kasetnya menyangkut di salah satu roller pembawa pita. Setelah kutarik dan melepasnya, semuanya kembali berfungsi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/anggi-i-love-your-way-to-cum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Objek Masturbasi Untuk Anda ?</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/mencari-objek-masturbasi-untuk-anda/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/mencari-objek-masturbasi-untuk-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 05:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Aku memasuki kamarku dan langsung kukunci dari dalam, kulepas T Shirt tanpa lengan yang kupakai dan kulemparkan begitu saja di tempat tidur. Payudaraku yang ranum berwarna sedikit merah muda di puting dan sekitarnya tampak menggairahkan. Aku memang sejak kecil tidak suka memakai bra hingga kini aku jadi tidak memiliki BH barang satupun, hingga begitu T [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku memasuki kamarku dan langsung kukunci dari dalam, kulepas T Shirt tanpa lengan yang kupakai dan kulemparkan begitu saja di tempat tidur.<strong> Payudaraku yang ranum berwarna sedikit merah muda di puting dan sekitarnya tampak menggairahkan. Aku memang sejak kecil tidak suka memakai bra hingga kini aku jadi tidak memiliki BH barang satupun,</strong> hingga begitu T Shirt kutanggalkan maka payudaraku pun langsung mencuat, ukurannya memang sedang-sedang saja namun bentuknya padat dan menggairahkan hingga dapat membuat setiap lelaki menelan ludah bila memandangnya, apa lagi ditunjang postur tubuhku yang sexy dengan tinggi 170 centimeter, yang cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuperosotkan dan kulepas hot pantsku yang mini model longgar di bagian bawah, hingga tampak jelas CD model <strong>G String warna merah</strong> yang saat ini kupakai. Bentuknya sangat mini dengan seutas tali nylon yang melilit di pinggangku dan ada ikatan di kiri dan kanan pinggangku yang ramping. B<strong>ulu-bulu halus kemaluanku</strong> tampak menyibak keluar dari sela sela secarik kain model segi tiga kecil yang tipis ukurannya, tidak lebih dari ukuran dua jari hanya mampu menutupi lubang vaginaku. Bentuk <strong>G String</strong> yang kupakai memang <strong>sangat sexy</strong> dan aku sangat suka memakainya, ditambah seutas tali nylon yang melingkar melewati selangkanganku tepat mengikuti belahan <strong>pantatku </strong>ke atas bagian belakang dan tersambung dengan tali nylon yang melingkar di pinggangku.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-521"></span>Dengan sekali tarik ikatan di kanan kiri pinggangku, maka tak sehelai benang pun kini menutupi tubuhku, CD kubiarkan tergeletak di lantai. Sambil telanjang bulat aku berjalan menuju lemari mengambil sebuah celana pendek mini yang longgar di bagian bawahnya yang terbuat dari bahan sutera tipis tembus pandang dan ada celah di bagian kiri dan kanannya dan tanpa kancing, hanya menggunakan karet elastis saja. Segera kukenakan sambil menyalakan komputer dan mengakses internet. Celana ini memang enak sekali dipakai di rumah saat tidur, dan aku biasa tidur dalam keadaan seperti ini, tanpa busana lainnya menutupi tubuhku, hanya ada celana pendek seperti yang kukenakan saat ini. Namun tak jarang juga aku tidur tanpa berbusana sama sekali dan langsung menyusup ke dalam selimut.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa, email yang masuk ke mail box-ku sangat banyak. Kubuka satu persatu, bagi pengirim yang belum pernah mengirim email kepadaku langsung kujawab emailnya dan kucantumkan persyaratanku bila ingin berkenalan dan mengobrol lebih lanjut denganku, sedangkan bagi yang sudah pernah kujawab emailnya namun tidak memenuhi persyaratanku tetapi tetap ngotot berkirim email ingin berkenalan lebih lanjut dan ber email ria, langsung saja kuhapus emailnya dengan tanpa memberikan reply. Demikian pula bagi yang mengirimkan pesan dengan menggunakan nomor HP-nya melalui SMS langsung saja kuhapus tanpa perlu membukanya terlebih dahulu. Aku malas membukanya karena membuang-buang waktu dan biaya, toh aku juga tidak bisa membalas pesannya kecuali dengan juga menggunakan SMS, untuk apa aku harus bersusah payah membuang-buang pulsa segala, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai membuka dan membalas semua email yang masuk, kuputus akses dengan internet, namun komputerku tetap kunyalakan karena rencananya nanti selesai mandi aku akan mengaksesnya lagi, karena biasanya akan banyak lagi email yang masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulepas celana yang kupakai dan aku memasuki kamar mandi yang ada dalam kamarku. Kunyalakan air hangat mengisi bathtub kamar mandiku. Sore ini aku ingin berendam sejenak sambil menghilangkan pegal-pegal yang ada di tubuhku. Kutorehkan bath foam secukupnya dalam air hingga berbusa. Saat aku menunggu penuhnya air, tiba-tiba handphoneku berbunyi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kudengar dari deringnya, aku yakin ini datangnya dari salah seorang pembacaku, karena memang bagi pembaca yang sudah memenuhi persyaratanku, nomor handphonenya segera kumasukkan memory dan kukumpulkan dalam satu nada dering khusus. Kuambil hand phoneku yang tergolek di atas meja computer, dari layarnya tampil namanya Amin (nama samaran).</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yaa..! Halloo..!&#8221;, sapaku setelah menekan tombol Yes.<br />
&#8220;Hallo..! Hai Lia..! Apa kabar..? Lagi ngapain nich?&#8221;, sahut Amin dari seberang.<br />
&#8220;Aku sedang mau mandi nich! Emangnya kenapa dan ada apa menelepon? Entar aja deh kamu telepon aku lagi ya, aku sudah telanjang bulat nich, sudah siap-siap mau berendam&#8221;, belum selesai aku berkata, Amin langsung memotong pembicaraanku..<br />
&#8220;Eee.. Eeh! Tunggu dulu dong! Biar saja kamu berendam sambil tetap ngobrol denganku&#8221;, pinta Amin.<br />
&#8220;Baiklah&#8221;, jawabku menyetujui sambil meraih hands free kemudian aku masuk kembali ke kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hand phone kuletakkan di meja wastafel dan kabel hands free menjulur ke arah telingaku, aku pun akhirnya berendam sambil mengobrol dengan Amin menggunakan hands free.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lia! Aku sekarang juga berjalan ke kamar mandi, sekarang di kamar mandi aku melepaskan celana dan CD-ku, kondisiku sekarang juga sudah bugil nich!&#8221;, Amin mencoba menjelaskan keadaannya saat itu padaku.<br />
&#8220;Emangnya gue pikirin, lagian ngapain kamu ikutan bugil di sana?&#8221;, ujarku.<br />
&#8220;Lia! Aku ingin melakukan onani sambil ngobrol denganmu, kamu tidak keberatan kan? Please! Sekarang penisku sudah selesai kubasahi dan kuoles dengan shampoo, sekarang mulai kuusap-usap sambil mengocok-ngocoknya, kamu juga cerita dong apa yang kamu kerjakan saat ini sambil memberiku rangsangan&#8221;, pinta Amin lagi dengan memelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar penuturan Amin tadi, terus terang aku sempat membayangkan sejenak dan sedikit mulai terangsang hingga tanpa kusadari aku juga sudah mulai meremas-remas payudaraku. Karena aku memakai hands free, maka aku tetap masih bisa mengobrol dengan kedua tanganku tetap bebas bisa beraktifitas. Kuceritakan pada Amin kalau saat ini aku sedang meremas-remas kedua payudaraku yang juga sudah mulai mengeras, puting susuku mendongak ke atas dan mulai kujilati sendiri bergantian kiri kanan, aku merasakan ada aliran yang mengalir keluar dari liang senggamaku, pertanda aku sudah mengalami rangsangan hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara tangan kiriku tetap meremas-remas payudaraku, tangan kananku mulai turun ke bawah meraba dadaku, mengelus-elus sendiri pusarku, ke bawah lagi ke arah vaginaku sambil mengangkat kedua buah kakiku dan meletakkannya ke samping bathtub hingga posisiku sekarang terkangkang lebar hingga memudahkan tangan kananku mengelus bagian luar vaginaku yang sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu halus. Jari-jariku turun sedikit mengusap-usap bibir vaginaku sambil menggesek-gesekkan klitorisku. Aku mulai melenguh menikmati fantasiku, gesekannya kubuat seirama mungkin sesuai dengan keinginanku. Tiba-tiba kudengar suara teriakan Amin dari seberang sana..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooo.. Oocch! Liaa..! Aku orgasme nich!&#8221;, suaranya makin lirih, rupanya di seberang sana Amin sudah berhasil mencapai puncaknya, gila! Dia sepertinya sangat menikmati penuturanku melalui telepon sambil terus melakukan aktifitasnya sendiri, mendengar suara itu aku menjadi semakin terangsang saja jadinya, jari tengah dan jari manis tangan kananku mulai kumasukkan ke dalam liang vaginaku yang sudah semakin berlendir, sementara jari telunjuk kupakai menggesek-gesek klitorisku. Rasanya benar-benar membuat darahku mengalir ke atas kepalaku. Pertama agak sulit masuk, namun lama-lama setelah melalui beberapa kali gesekan, bibir vaginaku pun semakin merekah sehingga memudahkan jari-jariku masuk menembus liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kumainkan jari-jariku di dalam vagina, kuputar-putar di dalam hingga menyentuh dinding-dinding bagian dalam vaginaku, rasanya tidak kalah dengan batang kemaluan yang pernah masuk dan bersarang dalam liang vaginaku, bahkan lebih hidup rasanya karena bisa kukontrol sesuai dengan keinginanku. Kugaruk-garukkan lembut pada dinding dalam vaginaku, ada kalanya kusentuhkan pada tonjolan sebesar ibu jari yang ada dan tersembul di dalam vaginaku, nikmat sekali rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga sepertinya akan segera mencapai puncak kenikmatan. Sekarang tiga jariku yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kananku kumasukkan seluruhnya ke dalam liang vaginaku, kutarik keluar masuk, kukocok-kocokkan makin cepat, sementara tangan kiriku juga mulai ikut aktif membantu, jari manis dan jari telunjuk tangan kiri kupakai menyibakkan bibir vaginaku, sementara jari tengahnya mengorek-ngorek klitorisku. Kocokan jari-jari tangan kananku semakin cepat. Aku terus melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooh.. Oocch! Aa.. Aacch!&#8221;, badanku berguncang keras sehingga air dalam bathtub banyak yang tumpah keluar membasahi lantai kamar mandiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Badanku menggigil hebat, sekali lagi aku melenguh panjang, dan aku pun mencapai orgasme. Badanku kini lemas tersandar di punggung bathtub. Dari seberang sana kudengar suara Amin menanyakanku..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana Lia, enak enggak?&#8221;, Setan.., umpatku dalam hati, masa masih ditanya enak atau enggak?<br />
&#8220;Lia..! Aku sekarang ke rumahmu ya? Kau kujemput dan kita check in terus melakukan hal yang sesungguhnya yuk&#8221;, ajak Amin.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menolak dengan halus ajakan Amin. Setelah berbincang sejenak aku pamit untuk mematikan telepon dengan alasan akan melakukan sesuatu. Akhirnya dengan berat hati Amin pun bersedia mematikan teleponnya, entah berapa banyak pulsa sudah yang dia habiskan untuk melakukan sex by phone denganku sambil beronani.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus terang saja walau sudah agak sering kontak dengan Amin dan kami juga sudah dua kali bertatap muka, aku sedikit pun tidak berminat berhubungan badan dengannya. Tingginya sekitar 165 centimeter, lebih pendek sedikit dariku, badannya agak sedikit gendut, usianya 32 tahun, sudah beristri dan beranak tiga. Wajahnya menurut ukuranku juga tidak ganteng, jadi biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa bagiku. Aku memang juga membutuhkan sarana menyalurkan libidoku namun tidak berarti aku bisa melakukannya dengan siapa saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam permainan sex, aku benar-benar ingin menikmatinya, maka aku juga harus memilih pasangan yang benar-benar bisa menaikkan gairahku. Sudah berkali-kali Amin mengajakku make love (ML) tapi selalu kutolak dengan seribu satu macam alasan, namun aku tetap tidak mengutarakan alasan penolakanku, karena aku yakin dia akan langsung merasa malu dan tersinggung. Maka lewat tulisanku ini, buat seorang pembaca yang kuberi nama samaran Amin, aku mohon maaf dan aku harap kamu juga membaca tulisanku ini dan dapat mengerti.</p>
<p style="text-align: justify;">E N D<br />
<a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/mencari-objek-masturbasi-untuk-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemunafikan Saat Bermasturbasi</title>
		<link>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/kemunafikan-saat-bermasturbasi/</link>
		<comments>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/kemunafikan-saat-bermasturbasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 04:54:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gadis cantik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[cerita perawan]]></category>
		<category><![CDATA[gadis perawan]]></category>
		<category><![CDATA[memek perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa perawan]]></category>
		<category><![CDATA[toket perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toketgadis.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu ini aku libur, jadi aku bisa bangun agak siangan karena semalam aku memang tidur agak larut. Seperti biasa aku sibuk membuka email yang masuk dari para pembaca http://toketgadis.com/. Animo pembaca http://toketgadis.com/ untuk kontak denganku memang luar biasa sekali hingga terus terang aku agak kewalahan untuk menyeleksinya. Ada beberapa pembaca yang penasaran dengan aktifitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Hari Minggu ini aku libur, jadi aku bisa bangun agak siangan karena semalam aku memang tidur agak larut. Seperti biasa aku sibuk membuka email yang masuk dari para pembaca http://toketgadis.com/. </strong>Animo pembaca http://toketgadis.com/ untuk kontak denganku memang luar biasa sekali hingga terus terang aku agak kewalahan untuk menyeleksinya. Ada beberapa pembaca yang penasaran dengan aktifitas dan kehidupan sex-ku, mereka menanyakan lewat emailnya hingga aku kesulitan juga kalau harus menjawabnya satu persatu. Mereka ada yang sepertinya peduli akan diriku, terima kasih deh!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Walau usiaku sudah beranjak 28 tahun, aku memang belum married. Sorry, bukannya aku tidak laku dan bukannya juga GR lho! Aku cukup cantik dan menarik, tinggiku 170 centimeter, bibirku tipis mungil menggairahkan.</strong> Bentuk buah dadaku indah, warna putingnya merah muda sedikit kecoklatan, hanya ukurannya yang aku sendiri tidak tahu, karena aku sejak kecil tidak pernah dan tidak suka menggenakan bra. Jadi hingga kini aku tidak pernah punya BH, karenanya seiali lagi aku tidak tahu ukuran payudaraku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-519"></span>Cuaca kota Surabaya beberapa bulan belakangan ini memang sangat panas, terlebih di saat malam hari. Aku memang terbiasa tidur tanpa busana, terkadang paling hanya menggunakan celana pendek tipis yang bentuknya mini dan agak longgar, dengan tanpa menggunakan CD di dalamnya. Kupikir juga tidak ada gunanya aku tidur dengan memakai CD yang bentuknya juga sangat mini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memang memiliki banyak CD beraneka warna, tapi modelnya hanya ada dua macam saja, yang satu model G String yang bentuknya berupa seutas tali nylon yang melingkari pinggangku. Selebihnya tersambung seutas tali nylon lainnya yang melilit ke bawah melewati selangkanganku melalui belahan pantatku yang sintal, dan di ujungnya tersambung dengan secarik kain sutera tipis berbentuk segi tiga yang lebarnya tak lebih dari seukuran dua jari saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bukanlah type wanita yang munafik, karenanya aku suka sekali dengan situs 17Tahun.com, di sini aku bisa mengekspresikan diriku yang sebenarnya tanpa perlu berpura-pura, yang menurutku adalah kemunafikan belaka. Sebenarnya kebutuhan sex antara pria dan wanita itu sama, hanya saja kaum pria lebih bebas menyalurkan hasratnya, apa lagi untuk membahasnya, namun ini sepertinya tidak berlaku bagi kaum wanita, sedangkan kebutuhan antara pria dan wanita itu sebenarnya sama saja, kenapa harus dijadikan sesuatu yang tabu? Ini tidak fair.</p>
<p style="text-align: justify;">Semalam, walau sudah larut aku masih belum dapat memejamkan mata untuk tidur. Karena selain udara yang cukup panas sehingga AC seakan tidak mampu lagi memberi kesejukan dalam kamarku, juga karena guling yang kujepit di antara selangkanganku tiba-tiba memberikan rangsangan pada pangkal pahaku yang tanpa penutup itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelan-pelan gulingku kugesekkan naik turun di selangkanganku sehingga menambah kenikmatan. Kurang puas dengan apa yang kulakukan, gulingku kusingkirkan, kuubah posisi tidurku menjadi telentang, kutarik kakiku dan kutopangkan telapak kakiku di tempat tidur dalam posisi pahaku kukangkangkan selebar mungkin, sehingga posisi kemaluanku terbuka lebar dan vaginaku tampak jelas sekali dari arah depanku, namun sayangnya saat itu tidak ada orang yang memandanginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku yakin bila ada lelaki siapapun dia, apabila saat itu memandangi pangkal pahaku yang terbuka lebar seperti itu pasti akan terangsang melihat vaginaku yang bersih. Bulu-bulu kemaluanku hanya tumbuh di bagian atasnya saja, bentuknya yang indah menempel menyeruak ke atas dengan rapi. Bila bibir vaginaku dikuakkan maka akan terlihat dinding vaginaku yang berwarna merah muda dan menggairahkan pria manapun untuk segera menjilatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kugosok klitorisku dengan menggunakan jari tangan kananku, sementara jari tangan kiriku kucoba untuk menyusup ke dalam liang vaginaku, kondisi liang vaginaku yang sudah basah oleh lendir birahi memudahkan jari-jariku masuk menembus ke dalamnya. Kukocok-kocokkan jari tangan kananku keluar masuk liang vaginaku sehingga cairan hangat berlendir yang keluar dari dalam rahimku semakin banyak saja membasahi liang senggamaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasakan akan mencapai orgasme, maka gesekan jari tanganku di ujung-ujung klitorisku pun semakin kupercepat. Demikian pula kocokan jari tangan kananku yang sejak tadi berada dalam liang vaginaku, kugesek-gesekkan ke dinding vagina bagian dalam, sesekali jari tengah dan telunjukku menggosok benjolan yang tumbuh di dalamnya. Aku merasa geli bercampur nikmat hingga rasanya seperti ingin kencing saja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Uu.. Uucch! Aa.. Aacch!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Keringat dingin membasahi dahiku, badanku menggigil bagaikan orang kejang, pantatku kuangkat dan kugoyang-goyangkan berputar mengimbangi irama kocokan jari tangan kananku yang semakin cepat mengocok liang vaginaku. Dan vaginaku semakin basah oleh cairan bening yang mengalir semakin deras keluar hingga meleleh membasahi sprei tempat tidurku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oo.. Oocch!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melenguh sambil melepaskan napas panjang melepaskan orgasmeku. Tzee.. Eerrt! Tzee.. Eerrt! Dapat kurasakan semburan di liang vaginaku hingga membasahi jari-jariku yang masih berada di dalamnya, cairan yang keluar sedikit agak kental, banyak sekali sehingga sprei di bawah pantatku lebih basah lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yakin kalau apa yang kuungkapkan selama ini di 17Tahun.com juga pernah dirasakan wanita lain, bahkan pernah juga dilakukan oleh wanita lain, hanya saja mereka tidak berani mengungkapkannya. Bisa dibayangkan bagaimana tersiksanya seorang wanita saat masa usia puber, dia juga butuh sentuhan dan belaian. Mereka juga butuh penyaluran atas libidonya, maka salahkah mereka bila melakukan masturbasi? Sedangkan mereka juga bisa terangsang, baik oleh pemandangan yang dia lihat maupun oleh tulisan erotis seperti yang ada di 17Tahun.com.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun selama ini rasanya jarang ada wanita yang berani berterus terang, itulah yang menjadi alasanku untuk bebas mengungkapkan keadaanku yang sebenarnya, dan aku bebas menentukan pasanganku untuk melampiaskan hasrat sex-ku. Namun bukan berarti aku begitu saja memilih pasanganku. Aku lebih suka memilih yang sudah berumah tangga, karena lebih yakin kalau mereka tidak membawa penyakit yang membahayakan. Selain itu aku lebih suka memilih mereka karena biasanya mereka sudah lebih matang dan dewasa. Yang jelas biasanya mereka sudah bisa lebih bertanggung jawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanggung jawab di sini yang kumaksud bukan kalau nantinya aku hamil akibat hubungan tersebut mereka harus bertanggung jawab, tapi tanggung jawab yang kumaksud adalah mereka melakukannya dengan tanpa banyak tuntutan seperti misalnya ingin menikahiku, ingin mengekangku dan sebagainya. Beda sekali dengan anak-anak muda yang masuh ingusan, biasanya ego mereka lebih tinggi, yang lebih pasti tuntutannya juga banyak sedangkan hak dan kewajiban orang lain sering mereka abaikan. Ini juga bisa kulihat dari email yang mereka kirim, maunya berkenalan tapi saat diminta memenuhi persyaratannya saja mereka langsung ngacir.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak juga email yang datangnya dari kaumku, mereka curhat atas kehidupan sex-nya, mereka ingin tapi takut. Menurutku ini aneh, mengapa kita mesti takut? Yang penting kita melakukannya berdasarkan suka sama suka dan jangan ada tuntutan. Why Not? Seperti email yang datangnya dari Nina (nama samaran), Nina mengatakan kalau untuk mengatasi libidonya serta menyalurkan hasrat sex-nya, ia hanya melakukannya sebatas masturbasi saja. Pernah juga dia melakukan oral sex dengan mantan pacarnya, namun sampai hari ini dia masih merasa bersalah. Nina pernah meneleponku dan menceritakan pengalamannya saat dioral oleh pacarnya, Nina mengaku mendapatkan kenikmatan dan mencapai orgasme saat di oral tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih terbayang olehku cerita Nina saat bibir mulut pacarnya dengan penuh nafsu mengulum habis bibir vaginanya. Lidah pacarnya sengaja dijulurkan sepanjang mungkin saat mengulum bibir vaginanya. Lidahnya menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya yang masih perawan itu. Pantat Nina terangkat seakan menyambut jilatan sang pacar, pahanya mengempit kepalanya sambil kedua tangan Nina menjambak rambut kepala sang pacar. Tarikan ini membuat kepala sang pacar lebih rapat lagi menempel di selangkangan Nina, sehingga muka sang pacar terbenam penuh di bagian luar vagina Nina.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan kiri pacar Nina bergerilya di payudaranya yang berukuran 36, ujung puting susunya dipilin-pilin dengan jari hingga membuat Nina lebih menggelinjang lagi, pantatnya digesek-gesekkan sehingga bibir vaginanya lebih terasa digaruk oleh bibir mulut pacar Nina.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba Nina merasakan ada sesuatu yang akan meledak dalam rahimnya, tak lama kemudian Nina merasakan seperti sedang kencing namun rasanya nikmat sekali. Inilah yang dinamakan orgasme. Akhirnya Nina pun mengalami orgasme yang pertama kali dalam seumur hidupnya, nikmatnya sungguh luar biasa kata Nina saat menceritakan pengalamannya padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasa masih banyak wanita di muka bumi ini yang mengalami hal yang sama dengan Nina, masih gadis dan masih malu-malu melakukan hubungan sex, walaupun berhubungan dengan metode yang paling aman sekalipun, seperti oral sex yang pernah dilakukan oleh Nina bersama pacarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus terang aku merasa heran pada kaumku yang seperti ini, mengapa kita harus munafik? Di satu sisi kita mau bahkan merasakan sangat membutuhkan sebuah pelampiasan untuk melepas hasrat yang membelenggu, namun di sisi lain kita harus diliputi rasa takut dan was-was.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang harus diakui bahwa di negara ini hal-hal yang menyangkut masalah sex masih tabu dan dilarang dilakukan oleh wanita yang belum bersuami, namun tidak ada yang dapat memberikan solusi apa yang harus dilakukan oleh wanita yang belum bersuami untuk dapat menyalurkan hasratnya. Ini berbeda dengan kaum Hawa yang secara normatif seakan lebih bebas melakukan apa saja baik sebelum maupun setelah dia berumah tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus terang bagiku ini tidak adil, karena sejujurnya kaum wanita juga memiliki hasrat yang sama tentang sex, mengapa mereka tidak boleh melakukan atau menikmatinya sebelum berumah tangga atau hanya boleh dilakukan dengan suaminya saja, sedangkan tak jarang kita ketahui banyak suami yang masih suka mencari yang lain di luar rumah. Sebagaimana pepatah mengatakan, rumput tetangga selalu lebih hijau daripada rumput di halaman rumah kita sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">E N D<br />
<a href="http://toketgadis.com/telanjang/category/masturbasi/">cerita masturbasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toketgadis.com/telanjang/masturbasi/kemunafikan-saat-bermasturbasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
